Kali ini saya akan menjelaskan tentang kepunan dalam budaya masyarakat belitung, pada posting sebelumnya jga sudah ernah membahas tentang kepunan dalam budaya masyarakat bangka, lihat lagi postingan kepunan-dan-cara-mengatasinya-dalam.html .
Pada postingan kali ini, saya ambil dari salah satu website tentang belitung, lihat sumber website di paragraf akhir. ini dia cerita kepuanan masyarakat belitung.
Petua lama Belitung yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini adalah KEPUNAN. Saya rasa hampir seluruh masyarakat lokal Belitung tentunya mengetahui petua ini. Kepunan jika di artikan menurut versi saya adalah Celaka, akibat mengabaikan atau tidak mengindahkan saat di tawari makanan dan minuman. Jika anda ada definisi versi lain, silahkan tambahkan pada kolom komentar di bawah.
Disini,saya akan memberikan contoh dan sedikit gambaran melalui cerita pendek mengenai Kepunan ini, yang mungkin setelah ada membacanya, bisa lebih mudah memahami makna Kepunan ini.
Dalam cerita pendek ini, saya akan melibatkan tiga tokoh, yaitu Kulup Teling, Bujang Bongkai, Kulup Kapu-Kapu. Jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita mohon di maafkan.
Alkisah,.Kulup Teling sedang bersantai sambil minum segelas kopi. Tak lama kemudian Bujang Bongkai datang menghampiri Kulup Teling. Dengan spontan si Kulup Teling menawarkan untuk bersantai, mengobrol sambil menikmati kopi bersamanya. Namun, karena Bujang Bongkai ada urusan yang mendadak dan penting, akhirnya dia menolak ajakan Kulup Teling dan segera pergi meninggalkannya. Tak lama kemudian Kulup Teling mendapatkan kabar dari Kulup Kapu-Kapu bahwa Bujang Bongkai mendapatkan musibah, masuk selokan di tepi jalan saat berusaha menghindari tabarakan dengan anjing yang melintasi jalan.
Nah dari cerita pendek di atas,celaka atau musibah yang menimpa Bujang Bongkai, menurut kepercayaan sebagaian masyarakat Belitung, disebut dengan Kepunan, atau lebih tepatnya Kepunan Kopi. Mengapa demikian ? karena Bujang Bongkai menolak tawaran Kulup Teling untuk minum kopi bersama nya.
Makanan dan Minuman yang di percaya oleh masyarkat Belitung, yang lebih mudah menyebabkan Kepunan ini adalah Nasi dan Kopi. Mengapa demikian? Menurut saya, Nasi dan Kopi tersebut adalah konsumsi pokok atau yang sering di konsumsi sehari-hari. Jadi ketika di tawari tidak boleh untuk menolaknya. Perlu di ketahui Kopi saat ini adalah minuman favorit dan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian masyarakat Belitung.
Berdasarkan pengalaman ketika saya berdomisili di berbagai daerah di Pulau Belitung, rata-rata dari mereka masih mempercayai Kepunan ini. Contoh, ketika saya masih berdomisil di Kelapa Kampit, keluarga, dan kerabat saya masih mempercayainya. Selain itu, ketika saya berdomisili di badau, juga rata-rata dari keluarga dan kerabat saya juga mempercayainya. Begitu juga saat ini, berdomisili di Dusun Air Nangka Desa Balok, rata-rata keluarga dan teman saya, juga masih mempercayainya. Namun tentunya saya tidak mengatakan dan tidak memastikan bahwa semua masyarakat Belitung masih menerapkan dan memepercayainya.
Sebenarnya ada jurus pamungkas untuk menangkal Kepunan ini., yaitu dengan cara NGERASE atau sekedar NGENJAMA. Ngerase ini adalah mencicipi makanan,minuman saat di tawari sesorang. Sedangkan Ngenjama adalah memegang atau menyentuh makanan, minuman dengan ujung jari.
Selain dari kedua jurus pamungkas tersebut, masih ada satu jurus yang ingin saya turunkan kepada anda. Kayak sintogendeng dan wirosableng aja :D.Jurus yang satu ini saya dapatkan dari almarhumah nenek, ketika saya masih kecil. Waktu itu beliau berpesan kepada saya, apabila di tawari makanan atau minuman oleh seseorang, segeralah Ngerase ataupun sekedar Ngenjama. Jika kita memang tak bisa melakukan kedua hal tersebut, segera ucapkanlah / lafazkanlah kata PASNAN atau PASNAN 27 dan di akhiri dengan meludah.
Jadi jurus pamungkas ketiga untuk mengkal Kepunan itu adalah melafazkan atau mengucapkan kata PASNAN atau PASNAN 27. Sayangnya,waktu nenek saya berpesan, saya tidak menanyakan apa arti PASNAN dan PASNAN 27 itu. Maklum waktu itu saya masih kecil dan tidak begitu ingin mengatahui lebih jauh hal tersebut. Namun menurut saya, Pasnan dan Pasnan 27 itu adalah sebuah mantra untuk menangkal Kepunan yang telah di gunakan secara turun menurun.
Jadi kesimpulan nya, untuk menangkal Kepunan ini adalah,ketika sesorang menawari makanan dan minuman, kita harus memakan dan meminumnya. Namun karena sesuatu dan lain hal sehingga kita tidak bisa meminum dan memakan nya, segera untuk Ngerase ataupun sekedar Ngenjama. Dan jika kita juga tidak bisa untuk melakukan hal terebut, segera melafazkan kata Pasnan atau Pasnan27 dan di akhiri dengan meludah.
Sebagaimana yang telah saya jelaskan bahwa Kepunan adalah petuah lama atau kepercayaan bagi masyarkat Belitung. Jadi, bicara soal Kepunan ini, tentunya kembali kepada diri kita sendiri. Dalam hal ini, tentunya kita bebas untuk percaya maupun tidak.
Jujur,saya pribadi terkadang menerapkan terkadang juga tidak. Namun saya sudah pernah mengalami celaka atau musibah yang saya rasa akibat dari Kepunan, walaupun yang kita ketahui sebenarnya, bahwa musibah itu adalah kehendak dan telah di atur yang Maha Kuasa. Jadi sekali lagi, semuanya kembali kepada diri kita sendiri.
Sumber: jelajahbelitung.com
Fauzan Rishadi
15:48
New Google SEO
Bandung, IndonesiaSumber: jelajahbelitung.com
Kepunan dalam Budaya Masyarakat Belitung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Saturday, 19 April 2014
Asal Mula Upacara Adat :
Sekitar 262 tahun yang lalu pada tahun 1750 ada seorang berilmu tinggi meminta izin kepada Peri Bukit Penyabung untuk membangun sebuah rumah di daerah Jerieng. Penunggu Bukit Peyabung mengizinkan dengan syarat setiap bulan Muharam harus membawa sesajen ke bukit tersebut. Ringkas ceritanya Kek Adung membawa sesajen ke Bukit Penyabung dan merayakannya yang di pusatkan di Pelangas. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun sampai Kek Adung wafat dan dilanjutkan oleh Kek Weng sampai sekitar tahun 1900-an diteruskan oleh Kek Fit sampai tahun 1920-an dan dilanjutkan Kek Imam sampai tahun 1945, berikutnya digantikan ke Kek Pot sekitar tahun 1950-an, lalu diteruskan oleh Kek Deramen tahun 1966-an dan tahun 1966-an sampai tahun 1998 Ketua Adat dipegang oleh Kek Gebel. Setelah Kek Gebel wafat tahun 1998 maka terhentilah kegiatan Upacara ritual adat yang ratusan tahun dilaksanakan.
Kemudian ketika lembaga Adat Melayu Jerieng diresmikan 24 Oktober 2004 oleh ketua Adat Negeri Serumpun Sebalai Datuk H. Romawi Latif, dengan ketua harian Rdo. Sri Sandi Buman maka ritual kembali dilaksanakan dengan cara dan keyakinan yang berbeda. Jika ritual adat pada periode sebelumnya dilaksanakan di puncak gunung dengan membawa sesajen dan perayaan di Balai Adat, namun periode ini hanya dilaksanakan di Balai Adat dengan ritual penyembelihan hewan berkaki empat. Ritual ini dimaksudkan perayaan syukur masyarakat atas limpahan rizki dari Sang Pencipta. Lembaga Adat Melayu Jerieng bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pelanggas pada saat pelaksanaan pesta Adat memberikan gelar adat “Radindo (Rdo) kepada tokoh yang di anggap berjasa. Pesta Adat Jerieng ini dilaksanakan pada bulan November setiap tahun, suku Jerieng di desa Pelangas Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat.
Pesta Adat Suku Jerieng di desa Pelangas, Kabupaten Bangka Barat
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Sunday, 24 November 2013
Selain keindahan alam, Bangka Belitung juga memiliki sebuah karya seni dengan kisah tersendiri. Kreativitas serta kekayaan intelektual budaya tercermin dari salah satu karya kebanggaan Bangka Belitung ini.
Kain Tenun Cual, adalah salah satu karya kebanggaan masyarakat Bangka Belitung. Pada dasarnya kain ini merupakan kain tenun layaknya songket. Namun, tenun cual memiliki warna khas melayu yang lebih cerah dan memiliki lengkungan serta motif flora dan fauna. Ada sembilan motif cual yang telah resmi dipatenkan oleh pemerintah yakni Kembang Kenanga, Bebek dan K. Sumping, Ubur-ubur, Merak, Gajah Mada 2003, K.Setangkai dan K. Rukem, Bebek Setaman, K. Rukem dan K. Setaman. Masing-masing memiliki keunikan dan ciri tersendiri.
Layaknya tenun yang berasal dari daerah lain, kain cual pun memiliki proses yang sangat rumit. Bahan-bahan pun terbilang mahal terlebih diantara corak ada yang berasal dari emas seberat 18 karat. Oleh karenanya, kain cual seringkali dijadikan pakaian kebesaran di kalangan bangsawan, pakaian penganting dan pakaian pada hari-hari kebesaran lainnya.
Dibutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk satu produk kain bila dikerjakan oleh pengrajin yang terampil. Bahan dasarnya antara lain polyster, sutra, katun, serat kayu dan benang emas. Seperti biasa, pengerjaannya dilakukan oleh kaum wanita sambil mengisi waktu luang mereka. Diperkirakan kegiatan menenun cual telah ada sejak abad ke-18 di ujung barat Pulau Bangka.
Secara spesifik, kain cual memang berasal dari masyarakat Muntok di Bangka Belitung. Tenun yang digunakan adalah perpaduan antara teknik sungkit dan tenun ikat. Dominasi serta susunan motif dengan teknik tenun ikatnya merupakan khasanah pengetahuan yang berasal dari asimilasi dari budaya Cina yang telah menyebar di benua Asia, termasuk Indonesia.
Bila dilihat lebih dalam, kain cual memang memiliki pesona pada susunan motifnya. Setiap motif pun memiliki arti dan filosofinya tersendiri seperti pada motif bunga. Motif bunga merupakan motif yang melambangkan kesucian, keanggunan rezeki dan segala kebaikan. Sedangkan motif bebek melambangkan persatuan dan kesatuan. Motif lain yakni motif naga melambangkan keperkasaan.
Kain cual memang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Bangka. Dari keindahan sejarahnya, kain cual seringkali disebut sebagai Pusake Lame yang harus dilestarikan. Motif yang penuh makna serta kerumitan dalam proses pembuatannya memang menjadikan kain cual sebagai salah satu karya seni budaya Indonesia yang memiliki nilai jual tinggi.
Fauzan Rishadi
12:04
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Filosofi Dibalik Keindahan Kain Cual
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Saturday, 30 March 2013
Diambil dari twitter @belitungpojok pada 3 januari 2013 jam 21.00
Fauzan Rishadi
23:14
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Retweet Cerita Tentang Pati "kepercayaan Masyarakat Belitung"
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Thursday, 3 January 2013
TANJUNGPANDAN - Seorang peneliti asal Jepang, Profesor Akifumi Iwabuchi memprakarsai pembentukan organisasi persatuan Suku Sekak yang merupakan penduduk asli Bangka Belitung (Babel). "Kebudayaan Suku Sekak di Bangka Belitung sudah 70 persen hilang, jumlah mereka hanya sekitar 900 orang dan itu sudah merupakan campuran dengan Suku Melayu atau yang lain, oleh sebab itu pembentukan persatuan ini penting dilakukan," kata Akifumi di Tanjungpandan, Belitung, Kamis (8/11).
Akifumi menjelaskan, dengan dibentuknya organisasi persatuan Suku Sekak, diharapkan mereka dapat saling mendukung dalam melestarikan adat dan budaya mereka. "Banyak generasi muda Sekak mengatakan pada saya mereka ingin belajar budaya asli Sekak tapi sayangnya mereka tidak dapat menemukan guru atau tetua yang dapat mengajari mereka," kata dia.
Profesor dari Fakultas Sosial Antropologi, Universitas Oxford itu menjelaskan, tinggal 20 persen dari sekitar 900 orang Suku Sekak yang bisa berbahasa Sekak. "Mereka tidak tinggal merata di setiap daerah, itu membuat generasi muda yang sudah tidak memiliki tetua kesulitan untuk belajar mengenal kebudayaan mereka," kata Akifumi yang sudah satu tahun terakhir menggeluti kehidupan Suku Sekak di Bangka Belitung.
Beberapa contoh kepunahan budaya Sekak, kata Akifumi, selain dilihat dari sedikitnya penutur Bahasa Sekak juga bisa dilihat dari hilangnya upacara-upacara adat Sekak seperti Buang Patong dan Kundang Nambak. "Setelah tahun 60-an, tradisi itu hilang karena hampir semua orang Sekak masuk Agama Islam dan upacara tersebut dianggap bukan ajaran Islam," kata dia.
Oleh sebab itu, Akifumi berinisiatif untuk mengumpulkan para tetua Suku Sekak dan dukun suku di lima daerah di Bangka Belitung, Pulau Semujur, Teluk Kelabat, Pulau Lepar Pongok, Tanjung Pandan, dan Gantung Manggar. "Saya akan mengumpulkan mereka pada Senin (19/11) untuk membicarakan masalah tersebut, sehingga langkah besar untuk menyelamatkan kebudayaan suku asli Belitung itu bisa dilakukan secepatnya," kata dia.
Akifumi yang telah mengajar Antropologi Kelautan dan Arkeologi Bawah Air sejak tahun 1994 di Universitas Tokyo Ilmu Kelautan & Teknologi di Jepang itu, menyayangkan semakin hilangnya kebudayaan asli Indonesia. "Saya bukan orang Sekak, saya bukan orang Indonesia, tapi saya peduli, kebudayaan adalah sesuatu yang penting untuk anak cucu kita untuk mengenali leluhurnya, saya berharap Suku Sekak dapat menentukan langkah selanjutnya untuk menyelamatkan diri," kata dia.
Profesor kelahiran Tokyo tahun 1960 itu telah melakukan penelitian selama kurang lebih 25 tahun di pesisir Sumatera. Dia menerbitkan buku "The People of Alas Valley".
Suku Sekak mendiami daerah peisir pantai dan mata pencaharian mereka adalah nelayan. Dulu hampir sebagian orang Sekak hidup dan melakukan seluruh aktivitas di atas perahu.
Tapi lambat laut kehidupan perahu telah ditinggalkan suku laut tersebut karena mereka telah berasimilasi dengan suku lain seperti Melayu Bangka Belitung. "Setahu saya sekarang tinggal satu kelompok yang hidup di perahu-perahu, lainnya sudah hidup di darat dan bercampur dengan orang darat," kata dia.
Orang Sekak dikenal sangat mencintai laut. Mereka tidak serakah dan hanya mengambil apa yang dibutuhkan untuk makan selama satu hari.
Selama berabad-abad, orang Sekak hanya menggunakan tombak bertali untuk menangkap ikan sebelum mereka berasimilasi dengan suku lain di Bangka Belitung.
Sekarang orang Sekak dapat ditemukan hidup di rumah-rumah kayu di wilayah pesisir Bangka Belitung. "Pada tahun 80-an, pemerintah Indonesia meminta orang Sekak untuk meninggalkan rumah perahu mereka untuk hidup di darat, sayangnya itu mengikis budaya Sekak," kata Iwabuchi.
Orang Sekak memang tidak 100 persen meninggalkan tradisi maritim, namun semua sudah tidak sama lagi.(ant/rb)
Fauzan Rishadi
23:51
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Profesor Jepang Prakarsai Persatuan Suku Sekak "Penduduk Asli Bangka Belitung"
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Friday, 9 November 2012
Pernikahan adalah saat-saat yang membahagiakan. Ikrar “peresmian” cinta tersebut menjadi harapan bahagia semua orang. Namun, kalau prosesi pernikahan dijadikan daya tarik wisata, mungkin hal ini hanya ada di daerah Bangka.
Kawin Hederak kini telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan. Pelaksanaannya biasa dilakukan setelah hari besar Islam, Idul Adha, atau setelah panen lada. Dan, kegiatan ini oleh masyarakat setempat dianggap bergengsi. Oleh karena itu, dengan mengedepankan nilai kebersamaan, banyak pasangan yang rela menunggu berbulan-bulan demi mengikuti Kawin Hederal untuk mengucap akad nikah.
Pemerintah Provinsi Bangka Belitung berkeinginan menjadikan pernikahan sebagai salah satu aset wisata di sana. Pastinya pernikahan ini ada sisi uniknya. Di dalam adat sebagian masyarakat Bangka ada kegiatan rutin nikah massal yang disebut “Kawin Hederek”. Wilayah yang masih mempertahankan budaya ini adalah masyarakat Desa Serdang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.
Kawin Hederak kini telah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan. Pelaksanaannya biasa dilakukan setelah hari besar Islam, Idul Adha, atau setelah panen lada. Dan, kegiatan ini oleh masyarakat setempat dianggap bergengsi. Oleh karena itu, dengan mengedepankan nilai kebersamaan, banyak pasangan yang rela menunggu berbulan-bulan demi mengikuti Kawin Hederal untuk mengucap akad nikah.
Dalam sekali pelaksanaan, nikah massal bisa diikuti ratusan pasangan. Mereka dibekali dengan busana adat, dan pernikahannya juga memakai adat setempat. Meskipun para pasangan dipermudah untuk pernikahannya, mereka tetap diminta sebelumnya melakukan tertib administrasi ke instansi yang terkait seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
Seperti dikutip Tourism News, Kawin Hederak 2012 rencananya dihelat Oktober ini. Targetnya sekitar 300 pasangan. Dan, pelaksanaannya akan disatukan pada acara Bangka Tengah Heritage
Fauzan Rishadi
08:53
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Kawin Hederak, Nikah Massal yang Jadi Aset Budaya Masyarakat Bangka
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Tuesday, 23 October 2012
Tahun-tahun 70-an masih sering “kereto surung” masuk ke daerah desa seperti desa kakek dan nenek saya Desa Teru, kec. simpang katis . Biasanya penjual kayu api, atau arang membawa dagangan nya ke pasar. Menurut Mary F.Somers Heidhues dalam Bukunya “Timah Bangka dan Lada Mentok” mengutip Van Den Bogaart mengatakan bahwa, orang Tionghoa mengangkut batang-batang timah dengan gerobak tangan dari kayu dan menghindari lokasi-lokasi terpencil dimana timah mungkin harus dipikul dalam jarak yang sangat jauh.
Pada Th.1830, Boggart menggambarkan alat transportasi tangan ini dalam sebuah buku hal.42, Bogaart menulis: “Gerobak Tionghoa digunakan secara luas di Bangka dan satu model gerobak ini ada di Museum Jakarta sebagai contoh dari Budaya orang Bangka asli”.
Cf Helbig (1940), hal 190, yang mencatat gerobak di seluruh Bangka dan Belitung, yang tidak dijumpai di wilayah Indonesia lainnya. Dalam kunjungannya ke Hindia pada tahun 1896, Raja Chulalongkorn dari Siam, mampir ke Mentok dan mencatat dalam catatan hariannya, tentang gerobak sebagai alat transportasi barang, Membedah Cerita Kereto Surung Sepeda Asli Budaya Bangka
Kesawattana (1987) hal. 18-19 (Dr.Cl.Salmonmemberi rujukan ini). Belanda dengan bergairah menyebut kendaraan ini “piepkar”, yang tidak pernah diminyaki dan mengingatkan orang Eropa tentang cicitan suara babi. Gerobak tangan Tionghoa berbeda dengan gerobak Barat karena beratnya ditopang roda, bukan di lengan orang yang mendorong.
Jadi kereto surung ini memang kendaraan orang Tionghoa di Bangka jaman dulu, yang awalnya merupakan alat bantu angkut secara luas, ketika melakukan penambangan timah. Dalam perkembangannya alat angkut ini menjadi serbaguna, baik untuk pertambangan maupun kehidupan sehari-hari. Akhirnya digunakan secara umum oleh orang Bangka hingga sampai sekarang masih digunakan, Membedah Cerita Kereto Surung Sepeda Asli Budaya Bangka.
Fauzan Rishadi
12:31
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Cerita Kereto Surung, Sepeda Asli Budaya Bangka
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Wednesday, 17 October 2012

Istilah itu muncul dari salah satu bentuk kebiasaan dan budaya yang berlangsung cukup lama dan menjadi keunikan tradisi budaya masyarakat Bangka Belitung itu sendiri.
Mengapa bulan Juli disebut musim kawin ?
Sebenarnya, hal ini lebih berkaitan pada adanya masa panen kebun para penduduk (umumnya berkebun Lada) yang bertepatan pada bulan Juni s/d Agustus setiap tahunnya. Pola tanam lada di Bangka Belitung yang teratur membuat siklus panen pun dapat terjadi secara massal. Dengan adanya pendapatan penghasilan dari panen lada, banyak masyarakat Bangka Belitung yang melangsungkan pernikahan pada bulan-bulan tersebut, khususnya bulan Juli yang menjadi puncak panen lada.
Budaya kawin massal di Bangka Belitung lebih sering terjadi di daerah Bangka bagian Selatan. Biasanya dalam satu kampung, terdapat banyak pasangan muda mudi yang melangsungkan acara perkawinan secara bersamaan. Bahkan kadang kala mencapai 15 – 20 pasang pengantin yang dinikahkan dalam sehari.
Budaya ini amat popular dan menjadi salah satu bentuk hubungan kemasayarakatan yang erat. Betapa tidak, untuk mengadakan acara ini seluruh masyarakat bahu membahu untuk saling bekerjasama dalam mensukseskannya. Mulai dari acara akad nikah, perayaan /walimah sampai dengan berbagai acara lainnya.
Sekitar tahun 1992 – 1995 acara serupa masih sering dilaksanakan. Bahkan ada pasangan yang menikah sebanyak 10 pasang dengan dimeriahkan oleh beberapa Grup Band (grup musik) lokal maupun luar.
Jika anda ke kampung itu saat acara berlangsung, maka dari awal masuk kampung sampai ke ujung kampungnya anda akan menemui pesta perkawinan yang sangat meriah. Berbagai hiburan musik tersaji di berbagai tempat bahkan dimana-mana terdapat pasar malam.
Acara seperti itu sering dijadikan oleh kaum remaja untuk mencari pacar ataupun jodoh. Sayangnya, dalam berbagai acara keramaian kawin massal itu seringpula terjadi kasus perkelahian, kriminilitas bahkan pembunuhan.
Namun seiring menurunnya sektor perkebunan lada di bangka belitung dewasa ini, budaya dan tradisi seperti itu sudah jarang sekali terjadi. Hal ini diakibatkan dengan meningkatnya biaya untuk berkebun lada tidak sebanding dengan harga jual lada. Sehingga minat masyarakat untuk berkebun lada pun merosot tajam. Apalagi munculnya sektor pertambangan timah rakyat (Tambang Inkonvesional) beberapa tahun belakangan ini membuat sebagian masyarakat beralih dari perkebunan ke bidang pertambangan.
Mengingat masa lalu, Didi jadi kangen akan meriahnya suasana dengan acara Kawin Massal itu. Entah kapan lagi acara serupa akan berlangsung di Bangka Belitung ini.
Bulan Tujuh Musim Kawin (Adat Babel)
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Monday, 9 July 2012
Masyarakat desa Air Menduyung ternyata masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang. Salah satunya yaitu ritual Ceriaek atau Mucak Kampong yang dilaksanakan setahun sekali. Ritual itu dilaksanakan setelah selesai panen padi. Bisaanya, ritual dilaksanakan pada Maret. Acara ini diikuti oleh semua warga Air Menduyung. Acara ini dipimpin oleh ketua adat atau disebut juga Batin Laut atau Dukun laut. Dukun laut dibantu oleh Bebayue atau pembantu Batin Laut dalam melaksanakan ritual tersebut.
Tiga hari sebelum hari H, dilakukan pemungutan beras ke rumah-rumah warga atau penduduk oleh para Bebayue yang disebut muffu. Selain beras para Bebayue juga mengumpulkan ayam dan telur untuk keperluan ritual tersebut. Sehari sebelum hari H, pada pukul 14.00 WIB para Bebayue berangkat ke pondok, sebuah tempat yang sudah disiapkan sebelumnya. Kira- kira 100 meter dari rimbaek Tanjung Tadah. Pada malam hari, dimulailah memaksak nasi Bajid atau nasi setahun sekali. Nasi ini berasal dari beras yang dikumpulkan dari warga.
Setelah nasi masak, maka dilanjutkan dengan pemotongan ayam. Bagian ayam seperti kaki dan kepala ditaruh di atas daun keladi lalu dibuang ke hutan. Sedangkan badan ayam diikat pada sebatang kayu yang sudah disiapkan. Nasi yang sudah masak di taruh juga di atas daun keladi kira-kira sebanyak 5 sendok. Lalu kedua bahan tersebut ditaruh dihutan. Hal ini bertujuan Antu Rabaek, Antu Raben serta nenek moyang terdahulu tidak mengganggu. Dengan prosesi ini juga merupakan sebagai berita bahwa acara ritual telah dimulai.
Pagi, pada pukul 8.00 WIB, Batin Laut dan masyarakat berangkat ketempat pelaksanaan ritual.Tempat ritual di objek wisata Tanjung Tadah. Jarak ke tempat ritual dari desa Air Menduyung kira kira 2,5 km dan perjalanan ini melewati hutan rimba yang masih alami. Selain itu perjalanan menuju tempat ritual bisa ditempuh melalui jalur laut. Selama dalam perjalanan, rombongan tidak boleh terlalu berisik dan tidak boleh menunjuk apapun dengan telunjuk tangan. Setelah sampai di tempat ritual,para Bebayue membersihkan tempat ritual. Selanjutnya rombongan masyarakat harus bersalaman dengan Batin Laut sebelum acara dimulai. Tepat pukul 12.00 ritual dimulai dipimpin oleh Batin Laut.
Ritual dipimpin oleh Batin Laut dengan pembacaan doa, lalu para Bebayue menyiapkan ketan darat yang berwarna merah dan putih. Diatasnya ditaruh telur ayam lalu ditaruh diatas angger atau kayu yang dibelah lalu diikat dengan akar. Jumlah angger 3 buah dan setelah itu Bebayue menyalakan lilin(yang terbuat dari sarang madu,kusus untuk ritual). Angger tersebut diletakan menghadap laut,darat dan tengah.
Lalu Batin Laut menghadap gua kecil di dekat bebatuan,menghidupkan dupa dan berdoa sambil tangannya masuk ke dalam gua tersebut. Gua tersebut berada ditengah- tengah bebatuan. Konon, gua tersebut merupakan alat komunikasi dengan para leluhur. Hanya Batin Laut yang bisa berkomunikasi dengan para leluhur tersebut. Setelah doa selesai dilaksanakan,rombongan boleh memasukan tangan kedalam gua tersebut sambil berdoa sesuai keinginan masing-masing.
Untuk masyarakat yang tidak bisa mengikuti ritual ke Tanjung Tadah,mulai pukul 11.00 sampai 13.00 tidak boleh meninggalkan rumah untuk pergi melaut,berkebun atau aktivitas apaun.Kalau pantangan ini dilanggar maka bisa berakibat fatal.
Ada warga yang tidak menuruti pantangan tersebut. Warga tersebut pergi ke hutan untuk menebang kayu. Tak lama kemudian ada kabar bahwa kayu yang ditebang warga tersebut menimpa tubuh penebang hingga tewas. Contoh lainnya yaitu warga berjalan di waktu yang tidak diperbolehkan dan tiba-tiba warga tersebut hilang dibawa jin. Akhirnya dengan bantuan dukun laut, orang tersebut ditemukan tetapi dalam keadaan bisu sampai sekarang.
Setelah acara di Tanjung Tadah selesai, maka rombongan pulang ke rumah Batin Laut untuk melaksanakan doa bersama atau dikenal dengan baca dua. Baca dua dipimpin oleh ketua atau guru ngaji. Setelah itu rombongan menyatap hidangan yg telah disediakan,dari seluruh hasil panen darat atau laut yang dikumpulkan beberapa hari sebelum acara dimulai.
Acara untuk malam hari dipimpin oleh Dukun darat. Siang hari pada waktu acara di Tanjung Tadah, Bebayue dukun darat dan masyarakat yang ingin membantu membuat dua buah perahu dari kulit kayu serta dari dahan rumbia, serta orang-orangan yang menyertai manusia sebanyak sembilan buah (9 roh halus yang diyakini masyarakat Air Menduyung) kain putih, benang yang dipasang setelah perahu selesai ini bagian perahu depan.
Untuk perahu belakang bentuknya lebih kecil dari perahu didepan. Ditempat membawa makanan yang dibuat dari sagu atau tepung beras(diletakan di dalam perahu sebagai uang dan makanan yang dikirim ke mahluk kayangan).
Sekira jam 5 sore rombongan menuju balai desa bukit terak terus setelah jam 7 malam rombongan kembali ke balai. Para Bebayue meletakan daun bakau dan daun medang,kapur sirih dan daun dambar, setelah itu Bebayue menancapkan sebatang pohon mentangor yang ukuran sebesar telunjuk orang dewasa didepan balai, kemudian mulai meniupkan lilin merah di perahu.
Batin Darat membaca mantra atau salam. Setelah itu para Bebayue mengangkat perahu dibawa ke pengkal batin di belakang SD 4 Simpang Teritip (SD Bukit Terak) pada saat perahu dibawa, seorang Bebayue jalan dahulu untuk memotong sebatang pohon yang ditancapkan tadi. Setelah sampai di pengkal batin, perahu diletakan diatas kayu yang telah disiapkan sebanyak delapan batang setelah itu Bebayue meniup api pedupa .
Selanjutnya Batin Darat memulai membakar kemenyan. Tujuannya agar Batin Darat dapat berbicara langsung dengan para mahluk-mahluk halus dari 4 penjuru angin untuk dipulangkan ke tempatnya masing-masing. Setelah itu para rombongan kembali ke balai untuk melaksanakan pengobatan masal secara tradisional untuk menyembuhkan segala macam penyakit dengan pinang dan daun bonglay. Selain untuk pengobatan, pinang dan bonglay,dedaunan serta kapur sirih juga dibawa pulang untuk pemulan padi dan menjaga rumah dari segala macam gangguan mahluk halus.***
Oleh : Kelompok ST 7 Air Menduyung KKN Angkatan V Universitas Bangka Belitung
DPLl: Hj Rullyanti Susi Wardhani,Msi
Fauzan Rishadi
13:10
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Ritual Ceriaek atau Mucak Kampong Air Menduyung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Saturday, 16 June 2012
Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”.
Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina, konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut, pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Pakaian tersebut terdiri dari :
1. Pakaian Pengantin Perempuan
Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok, dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris :
Kembang cempaka
Kembang goyang
Daun bambu
Kuntum cempaka
Sepit udang
Pagar tenggalung
Sari bulan
Tutup sanggul atau kembang hong
Kalung
Anting panjang
Gelang
Pending untuk pinggang
Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan).
2. Pakaian Pengantin Laki-Laki
Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari :
Jubah panjang sebatas betis
Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan
Celana
Penutup kepala seperti sorban (sungkon)
Pending
Selop / Sendal Arab
Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan).
Pakaian Adat Pengantin Bangka Belitung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Thursday, 7 June 2012
![]() |
| Guci Tempat Air Wafaq |
Kumandang azan terdengar di pagi pukul 9 lewat, tidak biasanya dan janggal. Lepas dari itu suasana sempat hening sejenak, perlahan-lahan tetua itu beranjak menuju guci berhias daun kelapa. Ia lalu merapalkan semacam mantera. Tak berapa lama, piring kecil beraksara arab itu dimasukan ke dalam guci berisi air.
Sejumlah panitia kemudian membagikan ketupat lepas kepada tamu udangan. Doa-doa tolak bala mulai dipanjatkan. Pada akhir doa, di hitungan ketiga kata amin. Serentak ujung daun ketupat itu ditarik bersama-sama. Satu ketupat lepas untuk dua orang.
Acara tak berhenti disitu, beramai kemudian orang mendatangi guci meminta airnya. Itulah air wafaq. Sebuah air yang dipercaya bisa menghalau bala. Ada yang membawa gelas, bekas botol minuman untuk menyimpan airnya.
Kemudian mereka menuju ruangan disamping masjid, dimana dulang berisi ketupat dan lauk pauknya telah dihidangkan. Ritual diakhiri dengan makan bersama.
Ritual ini diadakan pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Bulan ini dipercayai oleh masyarakat Melayu pesisir bahwa Allah SWT menurunkan 320.000 bala kepada umat manusia. Dan ritual itu adalah medium memohon ampun dan bermunajat agar dijauhkan dari bala.
Masyarakat menyebutnya Rebo Kasan. Berasal dari kata “Rebo Kasat”yang berarti Rabu terakhir di bulan Shafar. Kumandang azan, pencelupan air wafaq, pelepasan ketupat lepas serta meminumnya adalah puncak ritual dari Rebo Kasan itu sendiri.
Salah satu masyarakat melayu yang masih menjalankan tradisi ini adalah masyarakat desa Air Anyir di Kecamatan Merawang Bangka. Merupakan tradisi yang telah berusia ratusan tahun. Sejak abad ke-16, nenek moyang mereka sudah menjalankan ritual ini.
Pada masa itu, nenek moyang mereka biasanya melaksanakan shalat sunnah empat raka’at dengan membaca satu kali al Fatihah, Al Kautsar sebanyak 17 kali, Al Ikhlas sebanyal lima kali, Al Falaq dan An Nas satu kali pada tiap-tiap raka’at nya,
Kemudian dua helai daun kelapa yang dicabut dari ketupat itu dihanyutkan ke laut. Suatu symbol bahwa bencana telah dibuang ke laut. Pada masa itu ritual dilakukan di Pantai Batu Karang Mas (sekitar 1 km dari Desa Air Anyer).
Meskipun kini ritual di laksanakan di depan masjid namun nuansa magisnya masih terasa. Sebuah bentuk kearifan lokal tersendiri. Pada hari itu, masyarakat desa membuat beragam makanan untuk dihadirkan kepada tamu undangan.
Adat Nganggung dilaksanakan secara beramai ramai. Masyarakat luar pun boleh bertandang ke Air Anyer untuk bersama-sama merasakan keramahan dan rasa berbagi antar sesama.
Kemudian, perayaan tradisi ini dilanjutkan dengan menikmati suasana pantai Air Anyer yang berpasir putih. Menanjak siang hari, pengunjung yang datang ke Air Anyir semakin bertambah banyak. Diantaranya ada yang hendak menemui saudara, keluarga, teman bahkan bagi mereka yang tiada kenal siapapun boleh berkunjung dan menikmati hidangan. (aksansanjaya)
![]() |
| pembacaan doa-doa |
![]() |
| menaruh piring kedalam guci |
![]() |
| piring bertuliskan mantra rebo kasan |
![]() |
| ketupat lepas rebo kasan |
Air Wafaq Tolak Bala, Ritual Adat Rebo Kasan Bangka Belitung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Wednesday, 6 June 2012
![]() |
| mandi belimau |
Mandi Belimau adalah salah satu adat istiadat Budaya Bangka di Kec. Merawang, Bangka Induk, Pulau Bangka Belitung yang diadakan menjelang Bulan Ramadhan. Pelaksaan Mandi Belimau ini bertujuan untuk membersihkan diri menjelang Bulan Ramadhan, Perayaan upacara Mandi Belimau dilakukan 1 (satu) minggu sebelum puasa bulan Ramadhan
Upacara diawali dengan kegiatan Napak Tilas yaitu melakukan ziarah dan tabur bunga di makam Depati Bunter, Desa Kimak yang ditempuh dengan menggunakan perahu motor untuk menyeberang sungai. Setelah melakukan ziarah semua orang yang ikut kegiatan ini pulang kembali dan menuju Dusun Limbung Desa Jada Bahrin untuk melakukan ritual Mandi Belimau tersebut.
![]() |
| zonabangka.com |
Masyarakat yang ingin dimandikan sebelumnya dianjurkan terlebih dahulu
berdoa apa saja untuk kebaikan mereka. Selain itu banyak masyarakat yang juga membawa pulang air yang digunakan pada ritual Mandi Belimau ini karena mereka meyakini bahwa air ini mempunyai khasiat tertentu.
Ritual adat Mandi Belimau ini adalah simbol-simbol tradisi yang baik untuk perenungan dan pensucian diri baik lahir maupun batin. Diharapkan simbol-simbol Mandi Belimau ini dapat membekas bagi masyarakat untuk kehidupan selanjutnya dan bukan hanya prosesi saja.
Fauzan Rishadi
17:51
New Google SEO
Bandung, Indonesia![]() |
| bangka pos |
Tak ingin hanya terbawa gelombang globalisasi, Belitong pancangkan terus kearifan lokalnya.
Hai rondeng si paku tanding
Kepiting dirasa-rasa
Bawang putih bawang merah
Si yang kampit tutup mata
Lagu satu bait itu dinyanyikan anak-anak dalam satu putaran permainan Hai Rondeng, permainan menebak nama anak yang berhasil ditangkap oleh satu anak yang berdiri di tengah lingkaran, sambil menutup mata. Merupakan permainan khas anak-anak Belitong.
Hai Rondeng dimainkan di hari pertama Festival Tradisi Bahari di Pantai Tanjongpendam, Kota Tanjongpandan, Belitong Barat. Festival yang dilaksanakan dari 1 hingga 5 Juli itu merupakan penyelenggaraan yang ke-5, sejak tahun 2004. Sebelumnya digelar di Mataram (2004), Manado (2005), Takallar (2006), dan Lombok Timur (2007). Istimewanya, festival kali ini bertepatan dengan hari jadi Kota Tanjongpandan yang ke-171, yakni pada 1 Juli.
Festival Tradisi Bahari merupakan kerjasama Direktorat Tradisi, Ditjen Nilai Budaya, Seni, dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan Pemda Kabupaten Belitong. “Laut merupakan alat pemersatu bangsa, ruang hidup, ruang juang, alat juang, dan kondisi juang bangsa Indonesia. Pulau Belitong memiliki keanekaragaman budaya dan nuansa kebahariaan yang sangat menarik,” ujar Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Tjetjep Suparman.
Belitong pulau kecil, luasnya 4.889 kilometer persegi dengan 14 kecamatan, hampir semua kecamatan punya pantai, maka budayanya adalah budaya bahari. Dipertunjukkan dalam festival ini, antara lain upacara Buang Jong, lomba Dayung Sampan, lomba Tarik Tambang Sampan Beregu, lomba Merajut Jaring, diskusi kebaharian, dan seperti di awal tulisan ini, Permainan Anak-anak.
Selain Hai Rondeng, di tanah lapang itu dimainkan juga Pok-pok Gerinang (Cublak-cublak Suweng di Jawa), Bit-bit til (Injit-injit Semut di Melayu), dan Cak Munci Pai Kului (dua kelompok menebak siapa anak yang memegang batu, lantas saling tarik untuk mempertahankan/menambah anggota kelompok).
Senasib dengan daerah-daerah lain di Nusantara, permainan anak khas Belitong juga sudah jarang dimainkan. Karena itu Pemda Kabupaten Belitong mendata permainan anak-anak Belitong, dan didapatlah 25 permainan. Dari jumlah itu, dipilih 10 permainan yang sudah sangat lama, bahkan orang Belitong pun sudah lupa.
Sepuluh permainan anak-anak itu kemudian dijadikan film dokumenter berdurasi 27 menit dengan judul Menapak Hijau Bumi tanpa Alas Kaki. Film dokumenter ini dimainkan oleh 10 pemain anak-anak Belitong, dengan dua muka yang sudah akrab bagi masyarakat Tanah Air, yakni Suhendri dan Yogi Nugraha, pemeran A Kiong dan Kucai di film Laskar Pelangi yang juga berlatar belakang budaya Belitong.
“Anak-anak Laskar Pelangi kami pilih karena mereka punya pengalaman berhadapan dengan kamera, jadi punya ‘tugas tambahan’ membangun suasana bagi teman-teman lainnya,” kata sang sutradara, M. Ismaya. N yang dipanggil anak-anak dengan sebutan Om Moyo. Moyo adalah putera asli Belitong. Sebelumnya, dia asisten sutradara di film Laskar Pelangi sekaligus meng-casting 3800-an anak untuk mencari 12 anak sebagai pemain inti Laskar Pelangi.
Agar filmnya tetap natural, Moyo hanya menentukan alur cerita, sedangkan setting dan dialog sepenuhnya diserahkan pada anak-anak. Menapak Hijau Bumi tanpa Alas Kaki rencananya akan diputar di sekolah-sekolah di Belitong untuk mengenalkan lagi permainan anak-anak yang jadi budaya Belitong sejak lama. Sebagai perkenalan, anak-anak itu memainkan sebagian permainan tersebut di festival ini.
Yang tak dapat dimungkiri dari beragamnya budaya laut adalah dikenal dan diakuinya unsur-unsur magis dalam keseharian masyarakat yang kemudian dijadikan atraksi seni, seperti Antu Bubu. Antu Bubu adalah permainan menggunakan ilmu hitam dengan peralatan bubu yang diisi roh halus.
Bubu adalah alat penangkap ikan, dibuat dari bilah bambu yang disatukan dengan anyaman tali hingga berbentuk silinder berdiameter 30 sentimeter. Panjang bubu beragam, ada yang 50 sentimeter, ada pula yang hingga 2 meter.
Untuk permainan Antu Bubu, bubu dipasangi “kepala” dari batok kelapa, lantas diselimuti kain kafan, baru kemudian ujung atas kafan diikat. Seorang pawang membaca mantera sambil menaburkan kemenyan ke atas pedupaan, mengasapkannya ke sekeliling bubu untuk meminta roh masuk ke dalam bubu. Begitu pawang memberi isyarat permainan dapat dimulai, lawan yang sudah siap dengan bertelanjang dada/ bersinglet mulai melawan bubu yang sudah berpenghuni ini.
Antu Bubu dimainkan di hari kedua festival (2/7), tepat malam Jumat, di pasir pantai Tanjongpendam. Di tengah lingkaran penonton, seorang laki-laki bergelut dengan bubu. Berguling-guling, kadang dia seperti dibanting, ada kalanya laki-laki ini sanggup berdiri, tak lama, terjatuh lagi, berguling lagi. Penonton senyap.
Pemain pertama kalah setelah permainan berjalan 5 menit. Dia kerasukan, badannya mengejang, dan dibawa ke pinggir lapangan untuk disadarkan. Pemain kedua dinyatakan kalah akibat kelelahan setelah lebih dari 10 menit bubu tak juga dapat ditegakkan dan jalinan bubu koyak. Bisa menegakkan bubu adalah tanda pemain menang, dan hantu bubu dapat dikalahkan.
Pak Geridi, 56 tahun, adalah pawang Antu Bubu. Ilmu yang berasal dari kakeknya lantas diturunkan ke ayahnya, dan sekarang dialah satu-satunya di Belitong, bahkan mungkin di dunia, yang menguasai ilmu Antu Bubu. Ilmu ini sekarang sedang dia ajarkan ke puteranya, tak dibagi ke orang lain.
Cerita Pak Geridi tentang asal muasal permainan ini, di tahun 1970, seseorang meletakkan bubu di sungai. Setelah sepekan, dia datang lagi untuk menengok berapa ikan yang berhasil masuk perangkap bubu. Sampai di sungai, laki-laki ini mati tanpa sebab, dan rohnya jadi penghuni bubu, karena itu disebut antu bubu (hantu bubu). Mulai tahun 1971, kakeknya menjadikan Antu Bubu sebuah tontonan.
Karena menggunakan ilmu hitam, beragam syarat harus dipenuhi untuk memainkan Antu Bubu. Untuk menyebut beberapa, Pak Geridi harus berpuasa mutih selama 21 hari, bambu untuk bubu hanya boleh diambil dari bambu yang terdampar di pantai dengan posisi tidak sejajar dengan garis pantai, dan harus menggunakan kafan bekas alas jenazah. “Kalau pakai kafan baru, masih di rumah saja, belum dibawa ke tempat pertunjukan, dia sudah bergerak-gerak,” kata Pak Geridi, usai permainan. Dia sudah membawa Antu Bubu ke kota-kota di Sumatera dan Jawa, mengenalkannya sebagai permainan khas Belitong. Silvia Galikano
Lokal Wisdom Belitong, Budaya Laut Budaya Pemersatu
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Monday, 28 May 2012
Sebagaimana
halnya tradisi Nganggung dan Perang Ketupatyang sudah dikenal di Bangka
Belitung, tradisi Sedekah Kampung adalah salah satu tradisi turun temurun
lainnya yang bisa dijumpai di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Sedekah
Kampung merupakan tradisi masyarakat Bangka Belitung yang banyak dilakukan di
Kabupaten Bangka Barat, khususnya di Kecamatan Kelapa dan Simpang Teritip,
salah satunya di Desa Peradong.
Peradong
merupakan desa yang sedikit terpencil, bagian dari Kecamatan Simpang Teritip
dan tergolong daerah pedalaman yang telah melakukan ritual Sedekah Kampung
selama puluhan tahun, yang diwariskan oleh nenek moyang. Akan tetapi selama itu
pula tradisi tersebut belum dikenal masyarakat luas, khususnya di Kepulauan Bangka
Belitung.
Sedekah
Kampung seperti halnya tradisi-tradisi lainnya merupakan bagian dari rumpun
Pesta Adat yang banyak dikenal dan dilakukan di wilayah pedesaan. Dalam
pelaksanaannya tidak terlepas dari unsur-unsur atau nilai keagamaan yang
mendominasi dalam ritual pelaksanaan Sedekah Kampung.
Persiapan Sebelum Upacara
Perayaan
Sedekah Kampung telah dilaksanakan secara turun temurun dan tidak diketahui
asal usul serta awal mulai dilaksanakannya. Perayaan ini biasa dilaksanakan
penduduk Desa Peradong setiap tahun bertepatan dengan bulan Maulud (Rabiul
Awwal) dan acaranya berlangsung selama 2 hari yang biasanya pada hari Sabtu dan
Minggu.
Biasanya
acara ini dilaksanakan antara tanggal 15 sampai 30 Rabiul Awwal. Sebelum
pelaksanaan acara tersebut, jauh sebelumnya pada malam hari sang tetua adat
(dukun) sekarang Kek Jemat mengadakan ceriak (beceriak/becerita–musyawarah)
pemanggilan orang-orang kampung sebagai pemberitahuan akan dilaksankannya
upacara adat dan menentukan tanggal yang cocok untuk pelaksanaan upacara
tersebut.
Pada
tanggal yang telah ditetapkan tetua adat sebagai pawang desa dengan dibantu
penduduk setempat memulai membuat batu persucian (taber) dengan menggunakan
bahan-bahan tradisional serta dedaunan dan gaharu (dupa) dari kayu buluh
(bambo). Menurut sang dukun dahulu kala penggunaan dupa ini adalah sebagai alat
untuk menarik minat orang-orang cina yang berdiam didesa tersebut agar memeluk
agama Islam.[1]
Jalannya
Upacara
Setelah
persiapan, seperti; batu persucian (taber) dan gaharu selesai, kemudian pada
hari yang telah ditentukan tersebut, tetua adat dan masyarakat menyiapkan
makanan dan minuman, serta buah-buahan, uang dan binatang peliharaan seperti;
ayam dan bebek untuk diperbutkan setelah ritual upacara permohonan izin
dilakukan.
Semua
peralatan telah dipersiapkan, kira-kira pukul 1 siang dimulai dari balai adat,
tetua adat bersama penduduk arak-arakan menuju istana [2]dengan diiringi
semarang (selawatan barzanji) guna untuk meminta izin dan memulai pelaksanaan
sedekah kampung. Setelah sampai disana, sang dukun kemudian duduk diatas makam
bersamaan dengan dihidangkan berbagai macam jenis makanan khas desa, uang serta
hewan peliharaan seperti ayam dan bebek, kemudian mulai pembacaan do’a dan
mantera.
Setelah
pembacaan do’a dan mantera selesai, penduduk naik keatas makam dan
memperebutkan ayam, bebek dan buah-buahan serta uang yang ada diatas makam
tersebut. Upacara kemudian dilanjutkan penampilan silat yang dilakukan oleh dua
orang, kemudian sang dukun dan penduduk pembantunya melakukan pemberian tangkel
(jimat) di empat penjuru dimulai dari istana tersebut menuju gerbang pintu
masuk kedesa sampai akhir perbatasan desa tersebut. Pemberian jimat ini
dimaksudkan untuk menangkal segala bentuk gangguan dari luar yang tidak
menginginkan acara ini berlangsung.
Dalam
pelaksanaa upacara ini, terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh
semua orang yang mengikuti jalannya upacara ritual ini, yaitu duduk diatas
pagar, meletakkan jemuran/pakaian berupa apapun diatas pagar dan bermain
senter. Menurut penduduk apabila pantangan tersebut dilanggar, maka akan
didatangi oleh makhluk-makhluk halus dan mengubahnya menjadi tepuler (kepala
dengan wajah terbalik kebelakang). Untuk tetua adat selama acara berlangsung,
tidak boleh makan dan minum.
Ritual
Tradisi Sedekah Kampung Peradong:
1.
Tamat Ngaji / Betamat Massal
Tamat
ngaji (betamat/tamatan Qur’an) merupakan upacara yang dilakukan sebagai petanda
bahwa seorang yang telah melaksanakan tamat ngaji dianggap telah pandai membaca
al-Qur’an. Upacara ini dilakukan dalam rangka mensyukuri anak-anak khususnya
dan remaja yang telah menamatkan bacaan al-Qur’an.
Dalam
tamat ngaji, peserta yang ikut dalam upacara tersebut membaca surat-surat
pendek dari al-Qur’an secara bergantian. Biasanya pembacaan surat-urat pendek tersebut
dimulai dari surat ad-Dhua sampai an-Naas. Anak-anak dan remaja yang tidak
(belum) pernah menamatkan pembacaan al-Qur’an tentu tidak dapat ikut betamat.
Namun bagi mereka yang telah menamatkan al-Qur’an boleh mengikuti untuk kedua
kalinya.
Bagi
masyarakat Peradong, tamatnya anak-anak mereka membaca 30 juz al-Qur’an
merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus.
Ritual ini memiliki makna dan fungsi yang sangat penting dalam pendidikan
keagamaan di masyarakat karena orang yang tidak mampu membaca al-Qur’an atau
tidak fasih dalam membacanya akan menanggung malu dan mendapat gunjingan dari
masyarakat.[3] Untuk upacara ini, tampuk kegiatan dipegang oleh pak Penghulu
mulai acara berlangsung sampai selesai.
Jalannya
upacara ini di mulai pukul 15.00 dengan mengadakan arak-arakan penjemputan
peserta kerumah masing-masing. Arak-arakan masyarakat tersebut dimulai dari
balai desa diiringi dengan selawatan barzanji menuju perbatasan kampung,
kemudian setelah sebagian peserta bergabung dalam arak-arakan tersebut, rute
kembali menuju ke perkampungan.
Kalau
dalam upacara Sayyang Pattudu di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat,
peserta tamat al-Qur’an duduk di atas kuda dengan satu kaki ditekuk ke
belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu kaki yang lainnya terlipat
dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki berpijak pada punggung kuda.
Dengan
posisi seperti itu, para peserta didampingi agar keseimbangannya terpelihara
ketika kuda yang ditunggangi menari.[4] Dalam upacara Sedekah Kampung, peserta
(anak-anak dan remaja) tamat ngaji duduk di atas sepeda yang telah dihiasi
dengan berbagai bentuk dan variasi yang didorong oleh orang tuanya dan orang
dewasa lainnya dengan diikuti anak-anak dan remaja lainnya yang sebaya.
Setelah
semua peserta bergabung dalam arak-arakan tersebut, rute terus dilakukan menuju
ke masjid. Sesampai di masjid, acara dimulai dengan sambutan dari penghulu,
kepala desa dan guru ngaji, sebagaimana tersusun dalam susunan acara.
Kemudian
mulailah tamat ngaji dilakukan, diawali oleh guru ngaji memberikan aba-aba
kepada peserta. Mulailah peserta membaca surat-surat pendek dalam al-Qur’an,
yaitu dalam juz 30 diawali dari surat ad-Duha terus menerus secara bergantian
hingga sampai pada surat an-Naas. Setelah selesai, dilanjutkan dengan pembcaan
do’a khatam alQur’an yang biasanya dibacakan oleh penghulu.
Akhirnya
selesailah upacara tamat ngaji, peserta dan orang tuanya keluar dari masjid
menuju ke rumah masing-masing. Bagi orang tua yang mampu, biasanya pada malam
harinya atau ada juga sebagain yang langsung setelah tamat ngaji mengadakan
selamatan di rumahnya. Bunga dijadikan sebagai simbol tamat ngaji yang dibawa
olah keluarga peserta yang dihiasi dengan telor ayam yang digantungkan disetiap
dahan.
2.
Nganggung
Nganggung
adalah suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa dijumpai di Bangka. Karena
tradisi nganggung merupakan identitas Bangka, sesuai dengan slogan Sepintu
Sedulang, yang mencerminkan sifat kegotong royongan, berat sama dipikul ringan
sama dijinjing.[5]
Nganggung
atau yang dikenal masyarakat Bangka dengan Sepintu Sedulang merupakan warisan
nenek moyang yang mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan
gotong-royong. Setiap bubung rumah melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa
kemasjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung.
Adapun
nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka
memperingati hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan
orang meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang
banyak. Nganggung adalah membawa makanan di dalam dulang atau talam yang
ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau balai desa untuk dimakan bersama
setelah pelaksanaan ritual agama.[6]
Dalam
acara ini, setiap kepala keluarga membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat
sebesar tampah yang terbuat dari aluminium dan ada juga yang terbuat dari
kuningan. Untuk yang terakhir ini sekarang sudah agak langka, tapi sebagian
masyarakat Bangka masih mempunyai dulang kuningan ini.
Didalam
dulang ini tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus
dibawa. Kalau nganggung kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi
dan lauk pauk, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran.
Dulang
ini ditutup dengan tudung saji yang dibuat dari daun, sejenis pandan, dan di
cat, tudung saji ini banyak terdapat dipasaran.Dulang ini dibawa ke masjid,
atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati
bersama. Hidangan ini dikeluarkan dengan rasa ikhlas, bahkan disertai dengan
rasa bangga.
Namun
dalam perkembangannya sekarang kegiatan nganggung yang masih eksis
dipertahankan pada saat memperingati hari besar agama Islam, dan menyambut tamu
kehormatan.
3.
Sunatan Adat
Sunat
atau khitan secara harfiah berarti sama dengan sunnah dalam bahasa Arab.[7]
Sunat merupakan upacara pemotongan ujung penis anak-laki dalam ukuran tertentu
dalam ajaran Islam bagi anak yang akan memasuki akil baligh.
Dalam
tradisi Betawi, sunat diartikan sebagai proses atau etape pembeda. Bagi seorang
anak laki-laki yang telah disunat berarti telah memasuki dunia akil baligh, maka
dia dituntut atau seharusnya telah mampu membedakan antara yang hak dan yang
bathil. Ia sudah selayaknya mampu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang
melanggar ajaran agama dan adat kesopanan di masyarakat.[8]
Dengan
kata lain, seorang anak laki-laki yang telah disunat dianggap sudah menjadi
manusia yang sempurna dalam arti untuk menjalankan kewajiban sebagaimana halnya
manusia dewasa sebagai pengabdi. Pelaksanaan sunat adat yang dilakukan oleh
mudim (tukang sunat kampung).
Pelaksanaan
upacara sunat adat dimulai pukul 03.00 WIB peserta (anak-anak) yang akan
disunat berendam didalam air (di aek kapong) kurang lebih selama 3 jam,
kemudian kira-kira pukul 06.00-07.00 pelaksanaan sunatan yang dilakukan oleh
mudim (tukang sunat kampung), orang Betawi menyebutnya dengan bengkong.
Setelah
selesai, peserta sunat diarak-arak keliling kampung dengan menggunakan kereta
hiasan dengan berbagai macam variasi.[9]Sebagaimana dikutip dari Majalah Kompas
tanggal 04 September 2001 tentang proses pelaksanaan sunatan massal di desa
Kundi Kecamatan Simpang Teritip yang juga sama dengan proses pelaksanaan di
desa Peradong:
Menjelang
pelaksanaan khitanan adat, dini hari sekitar pukul 03.30, warga dibangunkan
dengan pukulan kenong oleh Jenang dari Balai Pertemuan sederhana yang disebut
warga Kundi sebagai balai desa. Pukulan kenong itu terdengar jauh juga,
sehingga bisa memba-ngunkan orang yang tengah terlelap tidur. Meski demikian,
kehidupan pasar malam di Kundi yang berlangsung sampai hampir tengah malam,
agaknya banyak membuat warga Kundi kelelahan sehingga hanya sedikit yang bisa
datang ke balai desa.
Di
balai desa inilah empat anak yang akan dikhitan kemudian duduk bersama dua
orang Jenang, dibacakan doa, sementara sejumlah warga lainnya, tua maupun muda,
melakukan tarian Tabo dengan diiringi kenong dan tiga gendang. Beberapa seri
tarian Tabo dimainkan, sampai kemudian para anak yang akan dikhitan dibawa
berjalan beriringan menuju sungai yang lebih mirip kolam. Di tempat yang
jauhnya sekitar satu kilometer dari Bal.
Pukulan
kenong itu terdengar jauh juga, sehingga bisa membangunkan orang yang tengah
terlelap tidur. Meski demikian, kehidupan pasar malam di Kundi yang berlangsung
sampai hampir tengah malam, agaknya banyak membuat warga Kundi kelelahan
sehingga hanya sedikit yang bisa datang ke balai desa.
Di
desa inilah, keempat anak itu kemudian diminta berendam di sebuah kolam yang
terlebih dulu didoa-doai oleh dua orang Jenang. Anak-anak itu ditemani para
orang tua, sebagian warga, dengan iringan musik kenong dan gendang. Dari pukul
04.00 sampai 06.20 keempat anak itu berjongkok merendam setengah badan bagian
bawahnya dalam air, membius kemaluan mereka agar tidak terasa sakit ketika
dikhitan nanti.[10]
Setelah
berendam di aek kapong selama kurang lebih 3 jam, kira-kira pukul 06.00-07.00
pelaksanaan sunatan dilakukan oleh mudim (tukang sunat kampung) secara
bergantian kepada peserta. Alat-alat yang digunakan untuk memotong ujung penis
laki-laki tersebut masih menggunakan alat tradisional, seperti; daun sirih yang
digunakan untuk menghentikan pendarahan, gunting, kapas, bambu yang telah
ditajamkan (dahulunya dipakai sebagai alat untuk memotong ujung penis, sekarang
sudah menggunakan pisau) dan tali dari kain yang digunakan untuk mengikat
sekaligus penahan bagi penis agar tidak bergerak.
Sunat
Diarak Keliling Kampung
Setelah
upacara sunat adat selesai, kemudian anak-anak tersebut diarak-arak keliling
kampung didampingi teman-temannya yang sebaya. Arak-arak dilakukan dengan
menggunakan tandu dan sepeda yang telah dihiasi dengan berbagai macam hiasan
dan diiringi dengan selawatan barzanji, mulai dari ujung kampung (tempat sunat
dilaksanakan, di dekat aek kapong) menuju lorong (gang) hingga kejalan umum,
kemudian diselingi dengan penampilan pencak silat dan akhirnya kembali ketempat
masing-masing.
Dalam
adat Betawi, peserta (pengantin sunat) diarak duduk di atas kuda yang dirias
dengan sedemikian rupa, anatar lain dengan bunga-bunga dan bermacam
buah-buahan. Di dekat ekor kuda digantungkan seikat padi dan sebuah kelapa.
Biasanya, si pengantin sunat akan didampingi teman-temannya mengiringinya
dengan naik delman.
Berjalan
di barisan paling depan adalah grup ondel-ondel yang menari berkeliling
kampung. Rebana ketimpring terus mengiringi sepanjang perjalanan.[11] Tidak
demikian halnya di desa Peradong, peserta sunat diarak sebagaimana arak-arakan
tamat ngaji, yaitu dengan duduk di atas sepeda yang telah dihiasi dengan
berbagai bentuk dan variasi yang didorong oleh orang tuanya dan orang dewasa
lainnya dengan diikuti anak-anak dan remaja lainnya yang sebaya. Rombongan
depan adalah sebagai pembaca selawatan barzanji yang dikomandoi oleh tetua
adat. Setelah selesai, bagi keluarga (orang tua anak) yang mampu, biasanya
mengadakan hajatan (selamatan) di rumah masing-masing.
4.
Selawatan Barzanji
Selawatan
Barzanji merupakan bacaan shalawat yang diambil dari kitab al-Barzanji yang
dibacakan ketika mengiringi setiap arak-arakan yang dilakukan, baik untuk
arak-arakan tamat ngaji maupun untuk sunat adat. Pembacaan tersebut dilakukan
oleh rombongan arak-arakan di baris depan, yang dikomandoi oleh tetua adat.
Untuk irama pembacaan tersebut, hanya beberapa orang saja yang masih bisa untuk
melafalkannya.
Selawat
dilakukan tanpa ada paksaan, bagi remaja yang telah bisa membaca selawatan
tersebut juga diperbolehkan untuk membaca selawat barzanji. Selain untuk
mengiringi arak-arakan, juga untuk memeriahkan dan meramaikan sekaligus untuk
menghibur peserta yang diarak. Khusus untuk arak-arakan tamat nagaji, bertujuan
untuk memotivasi bagi anak-anak dan remaja lainnya agar menamatkan 30 juz
al-Qur’an, sehingga bisa menjadi peserta tamat ngaji di tahun depan. Begitu
juga dengan arak-arakn sunat adat, juga untuk memberikan semangat dan
keberanian kepada mereka yang belum disunat.
5.
Penampilan Pencak Silat
Upacara
ini dilakukan untuk menghibur para penonton yang menyaksikan jalannya kegiatan
upacara sedekah kampung dan juga untuk menghibur anak yang baru saja disunat.
Karena selain masyarakat Peradong, banyak para pengunjung yang datang untuk
menyaksikan jalannya acara tersebut. Pencak silat tersebut diperankan oleh
masyarakat dengan pakaian bebas, bahkan hansip – pun boleh memperagakannya
sebagai aktor.
Pencak
silat ini tidak seperti halnya silat pada umumnya, karena dalam pencak silat
ini hanya menirukan sebagian gerakan-gerakan saja. Dalam penampilannya,
terlihat sedikit lucu karena gerakan-gerakannya bukan gerakan-gerakan dalam
jurus silat.
Gerakan
tersebut dilakukan sesuai dengan gaya masing-masing pemeran dengan sedikit
meniru gerakan dalam jurus silat kampung. Yang menarik perhatian dari
penampilan pencak silat tersebut, adalah ketika pemeran (sebagai aktor)
berupaya memperebutkan uang yang diletakkan masyarakat dan pengunjung yang
dikeluarkan dengan suka rela.
Dengan
gayanya yang sedikit konyol, mereka–pemeran berupaya mempertahankan uang yang
telah mereka dapatkan agar tidak diambil oleh pemeran lainnya. Penampilan ini
biasanya dilakukan oleh dua orang.
Literatur
:
[1]Dinas
Perhubungan , Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bangka Barat, Booklet Pariwisata
Negeri Sejiran Setason, hal. 6.
[2]Istana
adalah sebutan masyarakat terhadap makam keturunan tetua adat yang dijadikan
sebagai tempat ritual upacara permohonan izin untuk melaksanakan Sedekah
Kampung (makam leluhur yang merupakan kakek buyut tetua adat dan sekarang sudah
keturunan kelima).
[3]Zulkifli,
Ibid., hal. 54.
[4]Mancung64’s
Weblog, Theme: Andreas04 oleh Andreas Viklund. Blog pada WordPress.com. Membawa
Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada.
[5]Mancung64’s
Weblog, Theme: Andreas04 oleh Andreas Viklund. Blog pada WordPress.com. Membawa
Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada.
[6]Zulkifli,
Ibid., hal. 53.
[7]Yahya
Andi Saputra, Upacara Daur Hidup Adat Betawi, (Jakarta Selatan: Wedatama Widiya
Sastra, 2008), cet. Pertama, hal. 17.
[8]Ibid.
[9]Runi
Pardi (Kepala Desa), Wawancara, di desa Peradong.
[10]http://www.kompas.com/kompas-cetak/0109/04/daerah/sema20.htm,
Semangat Kundi Mempertahankan Adat, Kompas/rakaryan sukarjaputra, From:
apakabar@saltmine.radix.net, Date: Tue Sep 04 2001 – 10:54:29 EDT, Selasa, 4
September 2001, di akses tanggal 07 November 2008.
[11]Yahya
Andi Saputra, ibid,. Hal. 21.
Artikel
ini di tulis oleh :
Suryan
Masrin
(Sekretaris
Karang Taruna Peradong 2007-2012 dan Anggota HMI Babel)
Alamat:
Riding Panjang Merawang Bangka
Email
: mia_aza@yahoo.com
Source
: ubb.ac.id
Fauzan Rishadi
13:27
New Google SEO
Bandung, Indonesia







































