Tenun cual merupakan perpaduan antara tekhnik songket dan tenun ikat, namun yang menjadi ciri khasnya adalah susunan motif menggunakan tekhnik tenun ikat. Jenis motif tenun cual antara lain susunan motif bercorak penuh (Pengantek Bekecak), dan motif ruang kosong Jande Bekecak). Cual Bangka dahulu dikenal dengan nama Limar Muntok. Sekilas motif kain tenun cual nampak seperti songket palembang. Yang membedakan adalah jika pada Songket palembang motif diambil dari bentuk-bentuk bunga seperti cempaka atau bunga cengkeh, maka cual mengambil motif bentuk-bentuk alam dari tumbuh-tumbuhan dan hewan, seperti motif kucing atau bebek, bunga mawar, dan lain-lain yang jika dilihat dari jauh akan timbul motifnya.
Fungsi sosial dari tenun cual adalah sebagai pakaian kebesaran lingkungan Muntok, pakaian pengantin dan pakaian pada hari-hari kebesaran Islam dan adat lainnya, sebagai hantaran pengantin ataupun mahar yang langsung menggambarkan status sosial (pangkat dan kedudukan) seseorang pada masa itu. Dahulu, kehalusan tenunan, tingkat kerumitan motif dan warna pada tenun cual mengandung filosofi hidup sebagai hasil perjalanan religius penenunnya.
Tenun cual sangat terkenal karena tekstur kainnyaa/yang begitu halus, warna celupan benangnya tidak berubah, dan ragam motif seakan timbul, jika dipandang dari kejauhan. Peminat tenun cual pun hingga ke luar Bangka, sehingga diperjualkan pula ke Palembang, Belitung, Pontianak, Singapura dan Tanah Melayu lainnya. Hal ini menyebabkan pengguna tenun cual tidak lagi hanya pada keturunan Bangsawan Mentok.
Tahun 1914 hingga 1918, terjadi perang besar melanda Eropa yang menyebabkan terputusnya bahan baku tenun cual. Masuknya tekstil dari Cina menjadi pelengkap orang-orang Muntok meninggalkan kerajinan tenun cual. Tahun 1990, Perindustrian Kota Madya pangkalpinang menggalakan kembali keraj inan cual di Bangka. Kelompok usaha kerajinan cual yang terdiri dari anggota, keluarga tersebut diketuai oleh Masliana.Tahun 2003 Maslina membentuk Koperasi Tenun Kain Cual Khas Bangka. Kini ada 40 perajin cual yang tersebar di kota maupun kabupaten di Bangka Belitung.
- Produk dan Kapasitas Produksi
- Tenun Cual untuk wanita & pria, (324 stel/ tahun).
- Kemeja & bahan motif cual tekhnik printing, pesanan dalam jumlah banyak, ready stock (6000 meter/ tahun).
- Kemeja & bahan sarimbit motif cual tekhnik cap, stock terbatas, sesuai pesanan, wania dan motif bisa khusus (2400 meter/tahun).
- Cendramata dan aksesoris khas Bangka, seperti hiasan dinding, syal, mainan kunci dll.
- Melayani training/ magang tekhnik menenun cual.
- Unit penjualan bahan baku & peralatan (60 unit/tahun).
- Unit simpan pinjam khusus bagi perajin.
- Kualitas Tenun Cual
- Kualitas I (sehelai benang pakan), selendang besar (P.225 cm, L.56cm) Bahan baku sutra tanpa campuran, Rp. 7.500.000,- s/d Rp. 19.000.000,-
- Kualitas II (dua helai benang pakan), selendang Besar (P.225cm, L.56cm) Bahan baku sutra tanpa campuran, Rp. 3.500.000,- s/d Rp. 6.700.000,-
- Kualitas I (sehelai benang pakan), selendang kecil (P. 190cm, L.56cm) Bahan baku sutra tanpa campuran, Rp. 2.800.000,- s/d Rp. 3.400.000,-
- Kualitas II (dua helai benang pakan), selendang kecil (P. 190cm, L.56cm) Bahan baku sutra tanpa campuran, Rp. 1.800.000,-s/d Rp. 2.800.000,-
- Kualitas III (tiga helai benang pakan), selendang kecil(P.190cm, L.56cm) Bahan baku sutra tanpa campuran, Rp. 1.300.000,- s/d Rp. 1.700.000,-
- Tips Merawat Tenun Cual
- Tenun cual sebaiknya digulung mengelilingi batang pralon yang dilapisi dahulu dengan kertas minyak, atau kertas copy.
- Lalu dimasukkan ke dalam tabung atau dibungkus plastik lalu disimpan dalam lemari kayu.
- Jauhkan dari cahaya matahari langsung dan air.
- Tabung atau lemari penyimpanan diberi lada atau cengkeh yang ditakuti rayap atau serangga lainnya. Tenun cual tidak boleh di Dry Clean dan di Loundry hanya boleh angin-anginkans etelah dipakai.
- Tips Merawat Bahan Motif Cual Tekhnik Cap
- Agar warna alam pada bahan tersebut dapat tahan lajna hendaknya tidak mencucinya dengan mesin cuci. Jangan direndam terlalu lama, sebaiknya dicuci menggunakan shampoo atau sabun khusus (lerak)
- Jangan dijemur di bawah sinar matahari langsung. Sebaiknya digantung menggunakan hanger lalu diangin-anginkan di tempat yang teduh dan dibalik.
- Saat menstrika jangan terlalu panas dan dibalik, jangan menstrika di atas permukaan atau lapisi menggunakan sapu tangan.
- Simpan di tempat yang teduh, tidak terkena sinar lampu dan matahari secara langsung.
- Jika ingin memberi kapur barus, bungkus terlebih dahulu.
Sumber Utama: Disbudparpora Kota Pangkalpinang pada: http://tampukpinang.info/tradisional/kain-cual.html
Fauzan Rishadi
01:28
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Mengenal Kain Tenun Cual Khas Bangka
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Sunday, 24 November 2013
Asal Mula Upacara Adat :
Sekitar 262 tahun yang lalu pada tahun 1750 ada seorang berilmu tinggi meminta izin kepada Peri Bukit Penyabung untuk membangun sebuah rumah di daerah Jerieng. Penunggu Bukit Peyabung mengizinkan dengan syarat setiap bulan Muharam harus membawa sesajen ke bukit tersebut. Ringkas ceritanya Kek Adung membawa sesajen ke Bukit Penyabung dan merayakannya yang di pusatkan di Pelangas. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun sampai Kek Adung wafat dan dilanjutkan oleh Kek Weng sampai sekitar tahun 1900-an diteruskan oleh Kek Fit sampai tahun 1920-an dan dilanjutkan Kek Imam sampai tahun 1945, berikutnya digantikan ke Kek Pot sekitar tahun 1950-an, lalu diteruskan oleh Kek Deramen tahun 1966-an dan tahun 1966-an sampai tahun 1998 Ketua Adat dipegang oleh Kek Gebel. Setelah Kek Gebel wafat tahun 1998 maka terhentilah kegiatan Upacara ritual adat yang ratusan tahun dilaksanakan.
Kemudian ketika lembaga Adat Melayu Jerieng diresmikan 24 Oktober 2004 oleh ketua Adat Negeri Serumpun Sebalai Datuk H. Romawi Latif, dengan ketua harian Rdo. Sri Sandi Buman maka ritual kembali dilaksanakan dengan cara dan keyakinan yang berbeda. Jika ritual adat pada periode sebelumnya dilaksanakan di puncak gunung dengan membawa sesajen dan perayaan di Balai Adat, namun periode ini hanya dilaksanakan di Balai Adat dengan ritual penyembelihan hewan berkaki empat. Ritual ini dimaksudkan perayaan syukur masyarakat atas limpahan rizki dari Sang Pencipta. Lembaga Adat Melayu Jerieng bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pelanggas pada saat pelaksanaan pesta Adat memberikan gelar adat “Radindo (Rdo) kepada tokoh yang di anggap berjasa. Pesta Adat Jerieng ini dilaksanakan pada bulan November setiap tahun, suku Jerieng di desa Pelangas Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat.
Masyarakat desa Air Menduyung ternyata masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang. Salah satunya yaitu ritual Ceriaek atau Mucak Kampong yang dilaksanakan setahun sekali. Ritual itu dilaksanakan setelah selesai panen padi. Bisaanya, ritual dilaksanakan pada Maret. Acara ini diikuti oleh semua warga Air Menduyung. Acara ini dipimpin oleh ketua adat atau disebut juga Batin Laut atau Dukun laut. Dukun laut dibantu oleh Bebayue atau pembantu Batin Laut dalam melaksanakan ritual tersebut.
Tiga hari sebelum hari H, dilakukan pemungutan beras ke rumah-rumah warga atau penduduk oleh para Bebayue yang disebut muffu. Selain beras para Bebayue juga mengumpulkan ayam dan telur untuk keperluan ritual tersebut. Sehari sebelum hari H, pada pukul 14.00 WIB para Bebayue berangkat ke pondok, sebuah tempat yang sudah disiapkan sebelumnya. Kira- kira 100 meter dari rimbaek Tanjung Tadah. Pada malam hari, dimulailah memaksak nasi Bajid atau nasi setahun sekali. Nasi ini berasal dari beras yang dikumpulkan dari warga.
Setelah nasi masak, maka dilanjutkan dengan pemotongan ayam. Bagian ayam seperti kaki dan kepala ditaruh di atas daun keladi lalu dibuang ke hutan. Sedangkan badan ayam diikat pada sebatang kayu yang sudah disiapkan. Nasi yang sudah masak di taruh juga di atas daun keladi kira-kira sebanyak 5 sendok. Lalu kedua bahan tersebut ditaruh dihutan. Hal ini bertujuan Antu Rabaek, Antu Raben serta nenek moyang terdahulu tidak mengganggu. Dengan prosesi ini juga merupakan sebagai berita bahwa acara ritual telah dimulai.
Pagi, pada pukul 8.00 WIB, Batin Laut dan masyarakat berangkat ketempat pelaksanaan ritual.Tempat ritual di objek wisata Tanjung Tadah. Jarak ke tempat ritual dari desa Air Menduyung kira kira 2,5 km dan perjalanan ini melewati hutan rimba yang masih alami. Selain itu perjalanan menuju tempat ritual bisa ditempuh melalui jalur laut. Selama dalam perjalanan, rombongan tidak boleh terlalu berisik dan tidak boleh menunjuk apapun dengan telunjuk tangan. Setelah sampai di tempat ritual,para Bebayue membersihkan tempat ritual. Selanjutnya rombongan masyarakat harus bersalaman dengan Batin Laut sebelum acara dimulai. Tepat pukul 12.00 ritual dimulai dipimpin oleh Batin Laut.
Ritual dipimpin oleh Batin Laut dengan pembacaan doa, lalu para Bebayue menyiapkan ketan darat yang berwarna merah dan putih. Diatasnya ditaruh telur ayam lalu ditaruh diatas angger atau kayu yang dibelah lalu diikat dengan akar. Jumlah angger 3 buah dan setelah itu Bebayue menyalakan lilin(yang terbuat dari sarang madu,kusus untuk ritual). Angger tersebut diletakan menghadap laut,darat dan tengah.
Lalu Batin Laut menghadap gua kecil di dekat bebatuan,menghidupkan dupa dan berdoa sambil tangannya masuk ke dalam gua tersebut. Gua tersebut berada ditengah- tengah bebatuan. Konon, gua tersebut merupakan alat komunikasi dengan para leluhur. Hanya Batin Laut yang bisa berkomunikasi dengan para leluhur tersebut. Setelah doa selesai dilaksanakan,rombongan boleh memasukan tangan kedalam gua tersebut sambil berdoa sesuai keinginan masing-masing.
Untuk masyarakat yang tidak bisa mengikuti ritual ke Tanjung Tadah,mulai pukul 11.00 sampai 13.00 tidak boleh meninggalkan rumah untuk pergi melaut,berkebun atau aktivitas apaun.Kalau pantangan ini dilanggar maka bisa berakibat fatal.
Ada warga yang tidak menuruti pantangan tersebut. Warga tersebut pergi ke hutan untuk menebang kayu. Tak lama kemudian ada kabar bahwa kayu yang ditebang warga tersebut menimpa tubuh penebang hingga tewas. Contoh lainnya yaitu warga berjalan di waktu yang tidak diperbolehkan dan tiba-tiba warga tersebut hilang dibawa jin. Akhirnya dengan bantuan dukun laut, orang tersebut ditemukan tetapi dalam keadaan bisu sampai sekarang.
Setelah acara di Tanjung Tadah selesai, maka rombongan pulang ke rumah Batin Laut untuk melaksanakan doa bersama atau dikenal dengan baca dua. Baca dua dipimpin oleh ketua atau guru ngaji. Setelah itu rombongan menyatap hidangan yg telah disediakan,dari seluruh hasil panen darat atau laut yang dikumpulkan beberapa hari sebelum acara dimulai.
Acara untuk malam hari dipimpin oleh Dukun darat. Siang hari pada waktu acara di Tanjung Tadah, Bebayue dukun darat dan masyarakat yang ingin membantu membuat dua buah perahu dari kulit kayu serta dari dahan rumbia, serta orang-orangan yang menyertai manusia sebanyak sembilan buah (9 roh halus yang diyakini masyarakat Air Menduyung) kain putih, benang yang dipasang setelah perahu selesai ini bagian perahu depan.
Untuk perahu belakang bentuknya lebih kecil dari perahu didepan. Ditempat membawa makanan yang dibuat dari sagu atau tepung beras(diletakan di dalam perahu sebagai uang dan makanan yang dikirim ke mahluk kayangan).
Sekira jam 5 sore rombongan menuju balai desa bukit terak terus setelah jam 7 malam rombongan kembali ke balai. Para Bebayue meletakan daun bakau dan daun medang,kapur sirih dan daun dambar, setelah itu Bebayue menancapkan sebatang pohon mentangor yang ukuran sebesar telunjuk orang dewasa didepan balai, kemudian mulai meniupkan lilin merah di perahu.
Batin Darat membaca mantra atau salam. Setelah itu para Bebayue mengangkat perahu dibawa ke pengkal batin di belakang SD 4 Simpang Teritip (SD Bukit Terak) pada saat perahu dibawa, seorang Bebayue jalan dahulu untuk memotong sebatang pohon yang ditancapkan tadi. Setelah sampai di pengkal batin, perahu diletakan diatas kayu yang telah disiapkan sebanyak delapan batang setelah itu Bebayue meniup api pedupa .
Selanjutnya Batin Darat memulai membakar kemenyan. Tujuannya agar Batin Darat dapat berbicara langsung dengan para mahluk-mahluk halus dari 4 penjuru angin untuk dipulangkan ke tempatnya masing-masing. Setelah itu para rombongan kembali ke balai untuk melaksanakan pengobatan masal secara tradisional untuk menyembuhkan segala macam penyakit dengan pinang dan daun bonglay. Selain untuk pengobatan, pinang dan bonglay,dedaunan serta kapur sirih juga dibawa pulang untuk pemulan padi dan menjaga rumah dari segala macam gangguan mahluk halus.***
Oleh : Kelompok ST 7 Air Menduyung KKN Angkatan V Universitas Bangka Belitung
DPLl: Hj Rullyanti Susi Wardhani,Msi
Fauzan Rishadi
13:10
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Ritual Ceriaek atau Mucak Kampong Air Menduyung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Saturday, 16 June 2012
Selain memiliki banyak pantai yang menwan dan eksotis baik di Bangka maupun Belitung, Provinsi ini juga tak kalah menarik dalam aspek kebudayaan. Banyak lokal wisdom yang dapat dilestarikan untuk menunjang aspek pariwisata di Provinsi Bangka Belitung ini. Salah satunya adalah lewat tarian Tradisonal yaitu tarian mutik sahang.
Tari mutik sahang adalah suatu tarian yang menggambarkan tentang keadaan rakyat bangka belitung ketika panen sahang. Provinsi ini selain terkenal dengan Timahnya, sahang atau yang kita kenal dengan lada juga mendunia. tetapi sayangnya pemerintah belum bisa mengoptimalkan hasil alam ini menjadi sektor yang menguntungkan, karena harga lada saat ini sangat anjlok di bangka belitung. kembali ke tarian ini, Tarian mutik sahang ini jika kita artikan kedalam bahasa Indonesia artinya tarian memetik lada atau panen lada. tarian ini menggambarkan kondisi masyarakat Bangka Belitung yang sedang bersuka cita karena bulan panen sahang/lada telah tiba. Masyarakat berbondong-bondong pergi ke kebun untuk memanen lada yang telah mereka tanam. didalam tarian ini menggambarkan kecerian dan suka cita masyarakat babel ketika mutik sahang.
Fauzan Rishadi
12:36
New Google SEO
Bandung, Indonesia![]() |
| Guci Tempat Air Wafaq |
Kumandang azan terdengar di pagi pukul 9 lewat, tidak biasanya dan janggal. Lepas dari itu suasana sempat hening sejenak, perlahan-lahan tetua itu beranjak menuju guci berhias daun kelapa. Ia lalu merapalkan semacam mantera. Tak berapa lama, piring kecil beraksara arab itu dimasukan ke dalam guci berisi air.
Sejumlah panitia kemudian membagikan ketupat lepas kepada tamu udangan. Doa-doa tolak bala mulai dipanjatkan. Pada akhir doa, di hitungan ketiga kata amin. Serentak ujung daun ketupat itu ditarik bersama-sama. Satu ketupat lepas untuk dua orang.
Acara tak berhenti disitu, beramai kemudian orang mendatangi guci meminta airnya. Itulah air wafaq. Sebuah air yang dipercaya bisa menghalau bala. Ada yang membawa gelas, bekas botol minuman untuk menyimpan airnya.
Kemudian mereka menuju ruangan disamping masjid, dimana dulang berisi ketupat dan lauk pauknya telah dihidangkan. Ritual diakhiri dengan makan bersama.
Ritual ini diadakan pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Bulan ini dipercayai oleh masyarakat Melayu pesisir bahwa Allah SWT menurunkan 320.000 bala kepada umat manusia. Dan ritual itu adalah medium memohon ampun dan bermunajat agar dijauhkan dari bala.
Masyarakat menyebutnya Rebo Kasan. Berasal dari kata “Rebo Kasat”yang berarti Rabu terakhir di bulan Shafar. Kumandang azan, pencelupan air wafaq, pelepasan ketupat lepas serta meminumnya adalah puncak ritual dari Rebo Kasan itu sendiri.
Salah satu masyarakat melayu yang masih menjalankan tradisi ini adalah masyarakat desa Air Anyir di Kecamatan Merawang Bangka. Merupakan tradisi yang telah berusia ratusan tahun. Sejak abad ke-16, nenek moyang mereka sudah menjalankan ritual ini.
Pada masa itu, nenek moyang mereka biasanya melaksanakan shalat sunnah empat raka’at dengan membaca satu kali al Fatihah, Al Kautsar sebanyak 17 kali, Al Ikhlas sebanyal lima kali, Al Falaq dan An Nas satu kali pada tiap-tiap raka’at nya,
Kemudian dua helai daun kelapa yang dicabut dari ketupat itu dihanyutkan ke laut. Suatu symbol bahwa bencana telah dibuang ke laut. Pada masa itu ritual dilakukan di Pantai Batu Karang Mas (sekitar 1 km dari Desa Air Anyer).
Meskipun kini ritual di laksanakan di depan masjid namun nuansa magisnya masih terasa. Sebuah bentuk kearifan lokal tersendiri. Pada hari itu, masyarakat desa membuat beragam makanan untuk dihadirkan kepada tamu undangan.
Adat Nganggung dilaksanakan secara beramai ramai. Masyarakat luar pun boleh bertandang ke Air Anyer untuk bersama-sama merasakan keramahan dan rasa berbagi antar sesama.
Kemudian, perayaan tradisi ini dilanjutkan dengan menikmati suasana pantai Air Anyer yang berpasir putih. Menanjak siang hari, pengunjung yang datang ke Air Anyir semakin bertambah banyak. Diantaranya ada yang hendak menemui saudara, keluarga, teman bahkan bagi mereka yang tiada kenal siapapun boleh berkunjung dan menikmati hidangan. (aksansanjaya)
![]() |
| pembacaan doa-doa |
![]() |
| menaruh piring kedalam guci |
![]() |
| piring bertuliskan mantra rebo kasan |
![]() |
| ketupat lepas rebo kasan |
Air Wafaq Tolak Bala, Ritual Adat Rebo Kasan Bangka Belitung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Wednesday, 6 June 2012
![]() |
| mandi belimau |
Mandi Belimau adalah salah satu adat istiadat Budaya Bangka di Kec. Merawang, Bangka Induk, Pulau Bangka Belitung yang diadakan menjelang Bulan Ramadhan. Pelaksaan Mandi Belimau ini bertujuan untuk membersihkan diri menjelang Bulan Ramadhan, Perayaan upacara Mandi Belimau dilakukan 1 (satu) minggu sebelum puasa bulan Ramadhan
Upacara diawali dengan kegiatan Napak Tilas yaitu melakukan ziarah dan tabur bunga di makam Depati Bunter, Desa Kimak yang ditempuh dengan menggunakan perahu motor untuk menyeberang sungai. Setelah melakukan ziarah semua orang yang ikut kegiatan ini pulang kembali dan menuju Dusun Limbung Desa Jada Bahrin untuk melakukan ritual Mandi Belimau tersebut.
![]() |
| zonabangka.com |
Masyarakat yang ingin dimandikan sebelumnya dianjurkan terlebih dahulu
berdoa apa saja untuk kebaikan mereka. Selain itu banyak masyarakat yang juga membawa pulang air yang digunakan pada ritual Mandi Belimau ini karena mereka meyakini bahwa air ini mempunyai khasiat tertentu.
Ritual adat Mandi Belimau ini adalah simbol-simbol tradisi yang baik untuk perenungan dan pensucian diri baik lahir maupun batin. Diharapkan simbol-simbol Mandi Belimau ini dapat membekas bagi masyarakat untuk kehidupan selanjutnya dan bukan hanya prosesi saja.
Fauzan Rishadi
17:51
New Google SEO
Bandung, Indonesia![]() |
| bangka pos |
Tak ingin hanya terbawa gelombang globalisasi, Belitong pancangkan terus kearifan lokalnya.
Hai rondeng si paku tanding
Kepiting dirasa-rasa
Bawang putih bawang merah
Si yang kampit tutup mata
Lagu satu bait itu dinyanyikan anak-anak dalam satu putaran permainan Hai Rondeng, permainan menebak nama anak yang berhasil ditangkap oleh satu anak yang berdiri di tengah lingkaran, sambil menutup mata. Merupakan permainan khas anak-anak Belitong.
Hai Rondeng dimainkan di hari pertama Festival Tradisi Bahari di Pantai Tanjongpendam, Kota Tanjongpandan, Belitong Barat. Festival yang dilaksanakan dari 1 hingga 5 Juli itu merupakan penyelenggaraan yang ke-5, sejak tahun 2004. Sebelumnya digelar di Mataram (2004), Manado (2005), Takallar (2006), dan Lombok Timur (2007). Istimewanya, festival kali ini bertepatan dengan hari jadi Kota Tanjongpandan yang ke-171, yakni pada 1 Juli.
Festival Tradisi Bahari merupakan kerjasama Direktorat Tradisi, Ditjen Nilai Budaya, Seni, dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan Pemda Kabupaten Belitong. “Laut merupakan alat pemersatu bangsa, ruang hidup, ruang juang, alat juang, dan kondisi juang bangsa Indonesia. Pulau Belitong memiliki keanekaragaman budaya dan nuansa kebahariaan yang sangat menarik,” ujar Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Tjetjep Suparman.
Belitong pulau kecil, luasnya 4.889 kilometer persegi dengan 14 kecamatan, hampir semua kecamatan punya pantai, maka budayanya adalah budaya bahari. Dipertunjukkan dalam festival ini, antara lain upacara Buang Jong, lomba Dayung Sampan, lomba Tarik Tambang Sampan Beregu, lomba Merajut Jaring, diskusi kebaharian, dan seperti di awal tulisan ini, Permainan Anak-anak.
Selain Hai Rondeng, di tanah lapang itu dimainkan juga Pok-pok Gerinang (Cublak-cublak Suweng di Jawa), Bit-bit til (Injit-injit Semut di Melayu), dan Cak Munci Pai Kului (dua kelompok menebak siapa anak yang memegang batu, lantas saling tarik untuk mempertahankan/menambah anggota kelompok).
Senasib dengan daerah-daerah lain di Nusantara, permainan anak khas Belitong juga sudah jarang dimainkan. Karena itu Pemda Kabupaten Belitong mendata permainan anak-anak Belitong, dan didapatlah 25 permainan. Dari jumlah itu, dipilih 10 permainan yang sudah sangat lama, bahkan orang Belitong pun sudah lupa.
Sepuluh permainan anak-anak itu kemudian dijadikan film dokumenter berdurasi 27 menit dengan judul Menapak Hijau Bumi tanpa Alas Kaki. Film dokumenter ini dimainkan oleh 10 pemain anak-anak Belitong, dengan dua muka yang sudah akrab bagi masyarakat Tanah Air, yakni Suhendri dan Yogi Nugraha, pemeran A Kiong dan Kucai di film Laskar Pelangi yang juga berlatar belakang budaya Belitong.
“Anak-anak Laskar Pelangi kami pilih karena mereka punya pengalaman berhadapan dengan kamera, jadi punya ‘tugas tambahan’ membangun suasana bagi teman-teman lainnya,” kata sang sutradara, M. Ismaya. N yang dipanggil anak-anak dengan sebutan Om Moyo. Moyo adalah putera asli Belitong. Sebelumnya, dia asisten sutradara di film Laskar Pelangi sekaligus meng-casting 3800-an anak untuk mencari 12 anak sebagai pemain inti Laskar Pelangi.
Agar filmnya tetap natural, Moyo hanya menentukan alur cerita, sedangkan setting dan dialog sepenuhnya diserahkan pada anak-anak. Menapak Hijau Bumi tanpa Alas Kaki rencananya akan diputar di sekolah-sekolah di Belitong untuk mengenalkan lagi permainan anak-anak yang jadi budaya Belitong sejak lama. Sebagai perkenalan, anak-anak itu memainkan sebagian permainan tersebut di festival ini.
Yang tak dapat dimungkiri dari beragamnya budaya laut adalah dikenal dan diakuinya unsur-unsur magis dalam keseharian masyarakat yang kemudian dijadikan atraksi seni, seperti Antu Bubu. Antu Bubu adalah permainan menggunakan ilmu hitam dengan peralatan bubu yang diisi roh halus.
Bubu adalah alat penangkap ikan, dibuat dari bilah bambu yang disatukan dengan anyaman tali hingga berbentuk silinder berdiameter 30 sentimeter. Panjang bubu beragam, ada yang 50 sentimeter, ada pula yang hingga 2 meter.
Untuk permainan Antu Bubu, bubu dipasangi “kepala” dari batok kelapa, lantas diselimuti kain kafan, baru kemudian ujung atas kafan diikat. Seorang pawang membaca mantera sambil menaburkan kemenyan ke atas pedupaan, mengasapkannya ke sekeliling bubu untuk meminta roh masuk ke dalam bubu. Begitu pawang memberi isyarat permainan dapat dimulai, lawan yang sudah siap dengan bertelanjang dada/ bersinglet mulai melawan bubu yang sudah berpenghuni ini.
Antu Bubu dimainkan di hari kedua festival (2/7), tepat malam Jumat, di pasir pantai Tanjongpendam. Di tengah lingkaran penonton, seorang laki-laki bergelut dengan bubu. Berguling-guling, kadang dia seperti dibanting, ada kalanya laki-laki ini sanggup berdiri, tak lama, terjatuh lagi, berguling lagi. Penonton senyap.
Pemain pertama kalah setelah permainan berjalan 5 menit. Dia kerasukan, badannya mengejang, dan dibawa ke pinggir lapangan untuk disadarkan. Pemain kedua dinyatakan kalah akibat kelelahan setelah lebih dari 10 menit bubu tak juga dapat ditegakkan dan jalinan bubu koyak. Bisa menegakkan bubu adalah tanda pemain menang, dan hantu bubu dapat dikalahkan.
Pak Geridi, 56 tahun, adalah pawang Antu Bubu. Ilmu yang berasal dari kakeknya lantas diturunkan ke ayahnya, dan sekarang dialah satu-satunya di Belitong, bahkan mungkin di dunia, yang menguasai ilmu Antu Bubu. Ilmu ini sekarang sedang dia ajarkan ke puteranya, tak dibagi ke orang lain.
Cerita Pak Geridi tentang asal muasal permainan ini, di tahun 1970, seseorang meletakkan bubu di sungai. Setelah sepekan, dia datang lagi untuk menengok berapa ikan yang berhasil masuk perangkap bubu. Sampai di sungai, laki-laki ini mati tanpa sebab, dan rohnya jadi penghuni bubu, karena itu disebut antu bubu (hantu bubu). Mulai tahun 1971, kakeknya menjadikan Antu Bubu sebuah tontonan.
Karena menggunakan ilmu hitam, beragam syarat harus dipenuhi untuk memainkan Antu Bubu. Untuk menyebut beberapa, Pak Geridi harus berpuasa mutih selama 21 hari, bambu untuk bubu hanya boleh diambil dari bambu yang terdampar di pantai dengan posisi tidak sejajar dengan garis pantai, dan harus menggunakan kafan bekas alas jenazah. “Kalau pakai kafan baru, masih di rumah saja, belum dibawa ke tempat pertunjukan, dia sudah bergerak-gerak,” kata Pak Geridi, usai permainan. Dia sudah membawa Antu Bubu ke kota-kota di Sumatera dan Jawa, mengenalkannya sebagai permainan khas Belitong. Silvia Galikano
Lokal Wisdom Belitong, Budaya Laut Budaya Pemersatu
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Monday, 28 May 2012
Sebagai Negara bahari yang dikelilingi oleh lautan, Indonesia memiliki banyak sumber makanan laut terutama berbagai jenis ikan. Dengan kandungan gizi yang tinggi, ikan merupakan salah satu makanan utama dalam makanan sehat lima sempurna.
Siapa yang tidak pernah makan ikan ?
Tentunya mustahil bin mustahal bila ada orang Indonesia yang tidak mengenal ataupun belum pernah makan ikan sama sekali.
Namun saat anda makan ikan, tentunya sering terjadi berbagai kasus “tertelan” tulang ikan. Hal ini menyebabkan tenggorokan kita terasa sangat sakit bila tulang ikan tersebut nyangkut di tenggorokan.
Di Bangka Belitung, bila ada orang yang mengalami hal serupa jarang sekali di bawa ke rumah sakit. Cukup dengan minum air putih, ternyata sakit tersebut dapat hilang bahkan sembuh dengan cepat.
Setelah ditelusuri, ada keunikan yang terdapat pada cara pengobatannya. Tanpa jampi-jampi ataupun do’a anda pun bisa melakukannya.
Cara Pertama :
- Bila anda menemukan kail atau pancing yang terdapat dalam perut ikan saat anda memasak ikan, ambillah kail atau pancing tersebut. Cuci dan simpanlah baik-baik.
- Kail atau pancing itu akan sangat berguna ketika anda mengalami sakit tenggorokan akibat tertelan tulang ikan.
- Cukup dengan merendam kail atau pancing itu kedalam segelas air dalam beberapa saat dan kemudian air itu diminum, akan mengurangi bahkan mengobati sakit tersebut.
- Cara yang unik dan ajaib ini, kerap dijadikan panduan utama mengobati sakit tenggorokan akibat tertelan tulang ikan.
Menarik bukan ?
Jadi tidak ada salahnya bila anda menemukan kail atau pancing yang tersimpan dalam perut ikan, anda simpan baik-baik. Mungkin suatu saat anda memerlukannya.
Masih tidak percaya ?
Anda dapat mencobanya, yang jelas anda jangan SENGAJA menelan tulang ikan untuk membuktikannya. Karena pengobatan dengan cara tersebut katanya akan berlaku pada saat darurat alias EMERGENCY dan tidak disengaja.
Cara Kedua :
- Carilah orang yang waktu lahir sunsang (lahir dalam keadaan terbalik). Kejadian seperti ini walaupun jarang kadang terjadi disekitar kita.
- Untuk kasus sakit tenggorokan karena tulang ikan, pengobatan oleh orang yang lahir sungsang justru lebih mudah.
- Orang yang lahir sungsang tersebut cukup mencelupkan jarinya kedalam segelas air putih (tentunya jari itu dalam keadaan bersih). Kemudian air putih tersebut diminum oleh orang yang sakit tersebut, secara ajaib akan langsung sembuh dari sakitnya.
Baik cara pertama dan kedua sudah pernah dipraktekkan dan diakui kebenarannya di Bangka Belitung. Namun ada juga yang menggunakan do’a dan literatur melayu lainnya. Dilain kesempatan akan di hadirkan berbagai literatur lain dari Bangka Belitung.
Semoga dapat menambah dan memperkaya khasanah pengetahuan anda .
Salam hangat selalu .
Fauzan Rishadi
02:05
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Tertelan Tulang Ikan dan Cara Mengobatinya Adat Bangka Belitung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Monday, 21 May 2012
Buang Jong merupakan salah satu upacara tradisional yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Suku Sawang adalah suku pelaut yang dulunya, selama ratusan tahun, menetap di lautan. Baru pada tahun 1985 suku Sawang menetap di daratan, dan hanya melaut jika ingin mencari hasil laut.
Buang Jong dapat berarti membuang atau melepaskan perahu kecil (Jong) yang di dalamnya berisi sesajian dan ancak (replika kerangka rumah-rumahan yang melambangkan tempat tinggal). Tradisi Buang Jong biasanya dilakukan menjelang angin musim barat berhembus, yakni antara bulan Agustus-November.
Pada bulan-bulan tersebut, angin dan ombak laut sangat ganas dan mengerikan. Gejala alam ini seakan mengingatkan masyarakat suku Sawang bahwa sudah waktunya untuk mengadakan persembahan kepada penguasa laut melalui upacara Buang Jong. Upacara ini sendiri bertujuan untuk memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang mungkin dapat menimpa mereka selama mengarungi lautan untuk menangkap ikan.
Keseluruhan proses ritual Buang Jong dapat memakan waktu hingga dua hari dua malam. Upacara ini sendiri diakhiri dengan melarung miniatur kapal bersama berbagai macam sesaji ke laut. Pascapelarungan, masyarakat suku Sawang dilarang untuk mengarungi lautan hingga tiga hari ke depan.
Keistimewaan
Buang Jong dimulai dengan menggelar Berasik, yakni prosesi menghubungi atau mengundang mahkluk halus melalui pembacaan doa, yang dipimpin oleh pemuka adat suku Sawang. Pada saat prosesi Berasik berlangsung, akan tampak gejala perubahan alam, seperti angin yang bertiup kencang ataupun gelombang laut yang tiba-tiba begitu deras.
Usai ritual Berasik, upacara Buang Jong dilanjutkan dengan Tarian Ancak yang dilakukan di hutan. Pada tarian ini, seorang pemuda akan menggoyang-goyangkan replika kerangka rumah yang telah dihiasi dengan daun kelapa, ke empat arah mata angin. Tarian yang diiringi dengan suara gendang berpadu gong ini, dimaksudkan untuk mengundang para roh halus, terutama roh para penguasa lautan, untuk ikut bergabung dalam ritual Buang Jong. Tarian Ancak berakhir ketika si penari kesurupan dan memanjat tiang tinggi yang disebut jitun.
Selain Tarian Ancak, Tari Sambang Tali juga dijadikan salah satu rangkaian acara dalam upacaraBuang Jong. Tarian yang dimainkan oleh sekelompok pria ini, diambil dari nama burung yang biasa menunjukkan lokasi tempat banyaknya ikan buruan bagi para nelayan di laut. Ketika nelayan hilang arah, burung ini pula yang menunjukkan jalan pulang menuju daratan.
Upacara Buang Jong kemudian dilanjutkan dengan ritual Numbak Duyung, yakni mengikatkan tali pada sebuah pangkal tombak, seraya dibacakan mantra. Mata tombak yang sudah dimantrai ini sangat tajam, hingga konon dapat digunakan untuk membunuh ikan duyung. Karena itu pula ritual ini disebut dengan Numbak Duyung. Ritual kemudian dilanjutkan dengan memancing ikan di laut. Konon, jika ikan yang didapat banyak, maka orang yang mendapat ikan tersebut tidak diperbolehkan untuk mencuci tangan di laut.
Setelah itu, Buang Jong dilanjutkan dengan acara jual-beli jong. Pada acara ini, orang darat (penduduk sekitar perkampungan suku Sawang) turut dilibatkan. Karena, jual beli di sini tidak dilakukan dengan menggunakan uang, namun lebih kepada pertukaran barang antara orang darat dengan orang laut. Pada acara ini, dapat terlihat bagaimana orang darat dan orang laut saling mendukung dan menjalin kerukunan. Dengan perantara dukun, orang darat meminta agar orang laut mendapat banyak rejeki, sementara orang laut meminta agar tidak dimusuhi saat berada di darat. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan Beluncong, yakni menyanyikan lagu-lagu khas suku Sawang dengan bantuan alat musik sederhana. Usai Beluncong, acara disambung dengan Nyalui, yaitu mengenang arwah orang-orang yang sudah meninggal melalui nyanyian.
Lokasi
Upacara Buang Jong biasanya diadakan di kawasan pantaiyang dekat dengan perkampungan suku Sawang. Salah satunya di Tanjung Pendam, Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, Indonesia.
Akses
Bagi pengunjung yang berasal dari luar Kabupaten Belitung, sangatlah mudah untuk menuju ke Tanjung Pendam, salah satu lokasi diadakannya Upacara Buang Jong. Karena, Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin berada di Tanjung Pandan. Dari bandara, pengunjung dapat menyewa motor ataupun mobil yang banyak ditawarkan di sekitar bandara.
Harga Tiket
Pengunjung yang ingin melihat langsung upacara Buang Jong, tidak dikenakan biaya apapun.
Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Pengunjung yang ingin melihat keseluruhan rangkaian Upacara Buang Jong tidak perlu khawatir untuk mencari penginapan. Di sekitar Kecamatan Tanjung Pandan telah berdiri beberapa hotel.Selain itu, pengunjung juga akan dengan mudah menemui beberapa bank pemerintah dan mesinATM, jika kehabisan uang selama di Tanjung Pandan. Untuk kemudahan komunikasi, beberapaoperator selular nasional telah membuka jaringan di sana.
Catatan : Tradisi ini juga dilakukan di wilayah Kabupaten Bangka Selatan, oleh nelayan asal belitung (suku sawang) yang menetap di pesisir Pulau Bangka bagian selatan
Gendang panjang, gendang Tempilang
Gendang disambit, kulet belulang
Tari kamei, tari Serimbang,
Tari kek nyambut, tamu yang datang
Lagu Timang Burong (Menimang Burung) pengiring tari serimbang itu dilantunkan secara lembut. Lagu itu, diiringi suara gendang dari enam penabuh serta alunan dawai (alat musik), untuk mengiringi gerak lima penari remaja yang menyambut tamu. Dengan baju dan selendang merah, kelima penari menyita perhatian ribuan pengunjung yang memadati Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Tarian yang menggambarkan kegembiraan sekumpulan burung siang menyambut kehadiran seekor burung malam itu merupakan pembukaan dari rangkaian tradisi perang ketupat, khas Kecamatan Tempilang di Bangka Belitung. Tradisi tersebut menggambarkan perang terhadap makhluk-makhluk halus yang jahat, yang sering mengganggu kehidupan masyarakat.
Tradisi itu sebenarnya sudah dimulai pada malam sebelum perang ketupat dimulai. Pada malam hari sebelumnya, tiga dukun Kecamatan Tempilang, yaitu dukun darat, dukun laut, dan dukun yang paling senior, memulai upacara Penimbongan.
Upacara dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di darat. Sesaji untuk makanan makhluk halus itu diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan dari kayu menangor.
Secara bergantian, ketiga dukun itu memanggil roh-roh di Gunung Panden, yaitu Akek Sekerincing, Besi Akek Simpai, Akek Bejanggut Kawat, Datuk Segenter Alam, Putri Urai Emas, Putri Lepek Panden, serta makhluk halus yang bermukim di Gunung Mares, yaitu Sumedang Jati Suara dan Akek Kebudin.
Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari serangan roh-roh jahat. Karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.
Pada upacara Penimbongan itu digelar tari campak, tari serimbang, tari kedidi, dan tari seramo. Tari campak dilakukan dalam beberapa tahap dengan iringan pantun yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Tari ini juga biasa digelar dalam pesta pernikahan atau pesta rakyat lainnya.
Tari kedidi lebih mirip dengan peragaan jurus-jurus silat yang diilhami gerakan lincah burung kedidi, sedangkan tari seramo merupakan tari penutup yang menggambarkan pertempuran habis-habisan antara kebenaran melawan kejahatan.
Seusai upacara Penimbongan, para dukun itu kembali mengadakan upacara Ngancak, yakni pada tengah malamnya. Upacara Ngancak dimaksudkan memberi makan kepada makhluk halus penunggu laut.
Diterangi empat batang lilin, dukun laut membuka acara itu dengan membaca mantra-mantra pemanggil makhluk halus penunggu laut, di antara bebatuan tepi Pantai Pasir Kuning, Tempilang. Nama-nama makhluk halus itu diyakini tidak boleh diberitahukan kepada masyarakat agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
Seperti pada upacara Penimbongan, upacara Ngancak juga dilengkapi sesaji bagi makhluk halus penunggu laut. Sesaji itu dipercaya merupakan makanan kesukaan siluman buaya, yaitu buk pulot atau nasi ketan, telur rebus, dan pisang rejang.
Perang ketupat
Pagi harinya, seusai tari serimbang digelar, dukun darat dan dukun laut bersatu merapal mantra di depan wadah yang berisi 40 ketupat. Mereka juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar perayaan tersebut dilindungi, jauh dari bencana.
Di tengah membaca mantra, dukun darat tiba-tiba tak sadarkan diri (trance) dan terjatuh. Dukun laut menolongnya dengan membaca beberapa mantra, dan akhirnya dukun darat pun sadar dalam hitungan detik.
Menurut beberapa orang tua di tempat tersebut, ketika itu dukun darat sedang berhubungan dengan arwah para leluhur. Kenyataannya, setelah siuman, dukun darat menyampaikan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan (pantangan) warga selama tiga hari, antara lain melaut, bertengkar, menjuntai kaki dari sampan ke laut, menjemur pakaian di pagar, dan mencuci kelambu serta cincin di sungai atau laut.
Setelah semua ritual doa selesai, kedua dukun itu langsung menata ketupat di atas sehelai tikar pandan. Sepuluh ketupat menghadap ke sisi darat dan sepuluh lainnya ke sisi laut. Kemudian, 20 pemuda yang menjadi peserta perang ketupat juga berhadapan dalam dua kelompok, menghadap ke laut dan ke darat.
Dukun darat memberi contoh dengan melemparkan ketupat ke punggung dukun laut dan kemudian dibalas, tetapi ketupat tidak boleh dilemparkan ke arah kepala. Kemudian, dengan aba-aba peluit dari dukun laut, perang ketupat pun dimulai.
Ke-20 pemuda langsung menghambur ke tengah dan saling melemparkan ketupat ke arah lawan mereka. Semua bersemangat melemparkan ketupat sekeras-kerasnya dan berebut ketupat yang jatuh. Keadaan kacau sampai dukun laut meniup peluitnya tanda usai perang dan mereka pun berjabat tangan.
Selanjutnya, perang babak kedua dimulai. Prosesnya sama dengan yang pertama, tetapi pesertanya diganti. Perang kali ini pun tidak kalah serunya karena semua peserta melempar ketupat dengan penuh emosi.
Rangkaian upacara itu ditutup dengan upacara Nganyot Perae atau menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut. Upacara itu dimaksudkan mengantar para makhluk halus pulang agar tidak mengganggu masyarakat Tempilang.
Pergeseran budaya
Kentalnya pengaruh dukun dan dominannya aspek animisme (kepercayaan terhadap roh dan mahluk halus) dalam tradisi perang ketupat terjadi karena budaya ini merupakan warisan masyarakat asli Pulau Bangka yang belum beragama, atau sering disebut sebagai orang Lom. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan dimulainya tradisi ini. Namun, berdasarkan cerita rakyat, ketika Gunung Krakatu meletus pada tahun 1883, tradisi ini sudah ada.
Seiring dengan masuknya pengaruh Islam ke Bangka, tradisi tersebut pun mengalami beberapa perubahan cara dan pergeseran substansi. Meskipun tetap turut menonton perang ketupat, sebagian besar warga yang beragama Islam telah mengubah beberapa ritual menjadi bernuansa islami.
Perayaan yang dulunya difokuskan bagi roh-roh halus, kini sebagian ditujukan untuk mengenang arwah leluhur. Demikian pula dengan sesaji, diubah menjadi kenduri untuk dimakan bersama.
Tradisi Perang Ketupat di Tempilang, Bangka Belitung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Sunday, 20 May 2012
![]() |
| adat nuju jerami (dukonbesar.com) |
Seperti meredupnya berbagai budaya dan tradisi lama oleh budaya modern, Tradisi Nuju Jerami sudah jarang sekali dapat kita jumpai di Bangka Belitung. Kalaupun ada itu hanyalah terdapat pada beberapa wilayah saja.
Tradisi Nuju Jerami merupakan salah satu bentuk rangkaian pesta adat yang bertepatan dengan panen padi. Budaya ini sebagai ungkapan wujud syukur dan permohonan kepada Tuhan sang pencipta alam semesta atas berlimpahnya panen padi yang didapat saat itu dan dimasa yang akan datang.
Kultur masyarakat Bangka Belitung yang dahulu juga bertanam padi, membuat tradisi ini berkembang pada masa-masa itu. Namun seiring perubahan zaman, pola pencaharian dan kebiasaan yang terinduksi budaya modern membuat kebiasaan bertanam padi pun ditinggalkan banyak masyarakat Bangka Belitung.
Saat ini Dusun Air Abik di Desa Gunung Muda, Belinyu merupakan satu-satunya tempat yang masih melakukan ritual adat Nuju Jerami di Bangka Belitung. Budaya itu tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Sebagian besar masyarakatnya pun tetap melanjutkan kebiasaan menanam padi untuk kebutuhan sehari-harinya.
Prosesi Adat Nuju Jerami Di Dusun Air Abik
Esensi utama ritual adat ini adalah menumbuk padi sebanyak tujuh kali, sehingga oleh masyarakat Bangka Belitung disebut dengan Nuju (Tujuh) dan Jerami sebagai sebutan untuk padi yang ditumbuk didalam lesung (tempat menumbuk padi yang terbuat dari kayu).
Peralatan yang disiapkan antara lain dua buah kotak yang berisi alu dan lesung, padi dan dibungkus kain berwarna kuning keemasan. Kemudian peralatan itu diarak sepanjang jalan dusun menuju tempat ritual.
Pada tempat yang telah ditetapkan, Ritual Nuju Jerami dimulai dengan mengeluarkan alu dan lesung dari dalam kotak lalu tetua adat membacakan mantra dan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Padi yang telah di taruh didalam lesung kemudian ditumbuk dengan menggunakan dua buah alu secara bergantian sebanyak tujuh kali.
Tumbukan pertama mengandung arti sebagai ucapan salam kepada segentar bumi (bumi sebagai lahan ladang) agar penguasa bumi jangan sampai marah kepada manusia.
Tumbukan kedua mengandung arti sebagai ucapan salam kepada segentar alam agar penguasa alam tidak menganggu acara ritual adat nuju jerami.
Lalu pada tumbukan ketiga dan seterusnya, warga Air Abik yang masih menganut kepercayaan atiesme itu bermaksud mengucapkan salam kepada segentar angin, embun dan mengungkapkan rasa terima kasih karena mereka telah membawa pulang hasil berladang.
Pada setiap tumbukan, suasana khidmat terasa dengan dipimpin langsung oleh tetua adat.
Ritual Nuju Jerami diakhiri dengan membagikan beras yang sudah ditumbuk kepada tujuh orang dengan tujuan agar warga mendapat berkah di tahun-tahun mendatang akan hasil padi mereka.
Yang menarik, suasana kekeluargaan dan silaturahmi begitu tampak karena seluruh masyarakat sekitar turut serta menyemarakkan acara ini. Mereka melepaskan seluruh pekerjaan lainnya dan berbaur bersama. Setelah itu suasana Dusun tampak seperti Lebaran, bertamu dan bersilaturrahmi pun dilakukan. Selain itu hampir setiap rumah menyediakan berbagai makanan dan jamuan untuk tamu yang berkunjung.
Tradisi Adat Nuju Jerami saat ini telah masuk sebagai salah satu agenda wisata budaya Bangka Belitung. Seperti budaya Bangka Belitung lainnya (Acara Adat Perang Ketupat di Tempilang, kawin massal, buang jong, dll) Ritual Nuju Jerami saat ini berkembang menjadi salah satu komoditas pariwisata Bangka Belitung.
Mudah-mudahan potensi budaya seperti ini dapat dilestarikan hingga ke masa-masa yang akan datang, sehingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bangka Belitung.
Sama seperti anak-anak didaerah lainnya, di Bangka Belitung juga ada berbagai permainan khas yang sering dimainkan. Permainan yang sering dimainkan oleh banyak anak-anak di Bangka ada banyak sekali dan 7 permainan yang paling sering dimainkan adalah sebagai berikut.
1. PANGKAK IGIK KARET
Pangkak Igik Karet merupakan sebuah permainan tradisional yang digali dari kebiasaan kehidupan masyarakat Bangka pada masa silam. Pangkak Igik Karet yang diartikan sebagai saling beradu memecahkan buah karet. Lazim permainan ini dilakukan masyarakat tempo dulu usai bekerja di kebun, sekedar untuk menghilangkan kejenuhan dan penatnya. Dan tak jarang dimainkan oleh anak-anak. Sayangnya, permainan yang sarat makna nilai tradisi itu perlahan mulai hilang di tengah-tengah peradaban masyarakat sekarang ini.
2. PANGKAK GASING
Permainan Gasing atau Gangsing sudah dikenal sejak dulu di Kepulauan Bangka Belitung. Meskipun gasing ini juga dimainkan di daerah lain di Indonesia, namun gasing dari Bangka Belitung mempunyai daya tarik tersendiri. Gasing berbahan dasar kayu ini diukir sedemikian rupa sehingga menarik dan mampu bertahan hingga putaran yang lama sekali. Bahan dasar kayu yang menjadi kesukaan adalah kayu pelawan. Saya Tekstur kayu pelawan yang keras dan juga kuat menjadi andalan ketika bermain gasing ini. Gasing ini kemudian diadu, atau istilah di Bangka di pangkak. Kata "Pangkak" kira-kira jika diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah hantam; menghantam; bentur; membenturkan dua buah benda dengan keras. Karena permainan pangkak gasing ini dimainkan dengan cara membenturkan gasing lawan yang lebih dulu di mainkan dengan gasing kita. Kemudian berlomba untuk lebih lama berputar di arena yang disediakan.
3. SEMBUNYI GONG
Sembunyi gong adalah nama yang sering disebut dalam istilah Bangka, nama dalam istilah Indonesia adalah petak umpet. Permainannya pun hampir sama seperti permainan petak umpet pada umumnya. Permainan ini sering dimainkan anak-anak setelah pulang sekolah. biasanya mereka berkumpul disuatu tempat, bisa kebun untuk bermain sembunyi gong ini. Permainan ini dimainkan secara berkelompok dan ada satu anak yang menjaga. Jika anak gagal menjaga gongnya. Maka ia akan menjadi penjaga sampai semua anak yang sembunyi ditemukan.
4. SAK USEK
Sak usek adalah permainan kejar-kejaran, dimana ada satu anak yang bertugas untuk mengejar anak yang lainnya. Sampai semua anak dapat dikejar maka permainan akan diulang dari awal, dan yang menjadi pengejar selanjutnya adalah anak yang dapat ditangkap pertama kali.
Asak- asak adalah permainan yang sering dilakukan oleh anak-anak perempuan. Permainannya adalah permainan masak-masak dari pasir, daunan dan sebagainya. Anak laki-lakipun sering ikut, misalnya menjadi seorang ayah dalam permainan tersebut.
6. KELERENG
Permaianan kelereng sering dimainkan anak-anak di Bangka, ada banyak tipe permainanya, seperti pot, peris, tulang ikan, ceplok dan lainnya. Permainan kelereng ini dilakukan beramai-ramai. Biasanya dimainkan di sore hari.
7. CAK LINGKING
7 Permainan Tradisional di Bangka
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Saturday, 19 May 2012
Dalam perkembangan budaya di Bangka Belitung, dikenal istilah kepunan yang lazim di sebut juga kepon (bahasa bangka). Nah, untuk mengatasi kepunan yang berimplikasi datangnya balak / musibah tak terduga itu dalam adat istiadat Bangka ternyata ada cara untuk mengatasinya. Ritual budaya yang unik ini ternyata pernah dilakukan banyak masyarakat Bangka dahulu kala.
Pada masa kecil dulu, kita selalu di wanti-wanti oleh orang tua untuk menghindari balak / musibah dengan malet (mencicipi makanan; terutama nasi & kopi) supaya tidak kepon. Dan tidak lupa juga diajarkan cara mudah bila tidak sempat melakukan malet itu. Bahkan terdapat beberapa kalimat yang selalu dijadikan semacam mantera.
Ritual itu terdiri dari beberapa kalimat melayu Bangka ditambah sedikit gerakan yang harus dilakukan oleh kita.
Mantera / kalimat yang diucapkan :
PAN PIN PUN, JANGAN BALAK JANGAN KEPUN
REJEKI DEKET DEKET, BALAK JAUH – JAUH . . .
Gerakan yang harus dilakukan adalah :
- Meludah ke kiri dan kanan, ke sebelah kanan dulu baru ke sebelah kiri kita.
- Menyentuh lidah dengan jari telunjuk (hingga terkena cairan di lidah), kemudian di jari telunjuk itu di sentuh pada siku tangan. Hal ini dilakukan pada kedua belah siku tangan kita.
Nah untuk ritual PAN PIN PUN ini, kebanyakan anak – anak kecil dulu hampir selalu melakukannya saat akan pergi ke hutan, kebun, sungai dan tempat lain yang jauh dari rumah. Adakalanya kalimat PAN PIN PUN itu kita lakukan bersama teman dengan berbarengan.
Budaya semacam itu ternyata mulai punah dari kebiasaan masyarakat Bangka Belitung. Seperti halnya budaya besaoh dan lain – lainnya. Masih terngiang kalimat itu dengan jelas hingga kini, walaupun tidak lagi lakukan.
Hehehe, kalau saja anda orang Bangka ataupun punya teman / saudara dari Bangka. Pernahkah melakukan hal yang sama ? Yakin dah pasti pernah juga melakukan ritual serupa.
Banyak sekali budaya dan adat istiadat Bangka Belitung yang unik dan dilakukan masyarakat sejak dulu.
Fauzan Rishadi
15:55
New Google SEO
Bandung, Indonesia![]() |
| Kain Cual Bangka Belitung |
Sempat
dianggap kuno selepas kemerdekaan Republik Indonesia, Cual, kain tradisional
masyarakat Bangka Belitung kembali dilirik, naik pamor bahkan dibajak. Usianya
tua, hampir seabad lebih. Dulunya, dipergunakan sebagai pakaian kebesaran di
kalangan bangsawan, pakaian pengantin, pakaian yang dipakai pada hari kebesaran
dan acara adat lainnya.
Proses
tenun dan pembuatannya sangat rumit. Bahan-bahannya pun terbilang mahal, sebab
ada corak benang emas seberat 18 karat yang diikatkan di kainnya. Bagi yang
terampil perlu sekitar satu minggu untuk menyelesaikan satu produk kain. Lain
bagi pemula yang perlu satu bulan, untuk hasil tenun kain seukuran dua meter.
Bahkan
untuk kualitas satu (sehelai benang pakan) berbahan baku sutra tanpa campuran
dibutuhkan waktu pengerjaan satu hingga empat bulan. Selain sutra, perajin juga
mempergunakan bahan dasar polyster, sutra campur katun, serta kayu dan benang
emas.
Cual,
warisan leluhur orang melayu pada dasarnya adalah kain tenun seperti songket,
Bewarna cerah dan menyala khas kain tradisional melayu. Terkadang mirip dengan
kain songket Palembang. Namun Cual lebih luwes, halus dan memiliki banyak
lengkungan serta selalu dihiasi motif flora dan fauna. Warna celupan benangnya
bahkan tidak akan berubah. Motif gambar bunga mawar, teratai, nanas, burung,
ikan, kupu-kupu itu akan timbul dari kejauhan bila dipandang.
Seiring
perkembangan teknologi, selain ditenun, ia juga dicetak. Hal ini untuk
mengantisipasi permintaan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Maklum
trend batik Cual, tidak saja bersenandung di lokal, namun sudah
meng_internasional pula. Kini beberapa motifnya bahkan ada telah dimodifikasi
dibajak oleh beberapa industri kain dan garmen. Motif-motif itu kemudian
diproduksi massal melalui teknologi printing, bukan ditenun seperti aslinya.
Motif
bajakan itu sempat beredar di Jakarta dan kota besar lainnya. Alhasil perajin
lokal Bangka Belitung pun tak bisa berkutik. Outlet perajin pun sempat
mengalami penurunan omzet. Ditambah lagi dengan tiada Hak Paten membuat
persaingan makin tidak menentu. Namun trend orisinalitas, kembali pada tenun
asli membuat keadaan itu tidak berlangsung lama. Orang ternyata lebih suka pada
kain yang ditenun.
Untuk
menghindari pencurian motif serta pembajakannya, sejumlah perajin lokal lalu
mengurus hak paten. Perajin lokal seperti Koperasi Tenun Cual Maslina Yazid
misalnya telah mematenkan motif Kembang Kenanga, Bebek dan K.Sumping,
Ubur-ubur, Merak, Gajah Mada 2003, K.Setangkai dan K.Rukem, Bebek Setaman,
K.Rukem Berantai dan K. Setaman. Berkat keindahan motif tersebut, Ibu Negara
Ani Bambang Yudhoyono pun sempat membeli kain cual motif kuno karya perajin
asal Bangka ini pada kesempatan pameran di Jakarta beberapa waktu silam.
Soal
harga kain tenun cual sangat bervariatif tergantung kualitas dari kain tersebut
dan jumlah benang yang digunakan. Untuk kualitas nomor satu biasanya
menggunakan satu helai benang sehingga pengerjaannya lebih lama namun kualitas
yang dihasilkan sangat memuaskan yaitu kain lebih halus. Untuk kualitas kain
tenun nomor satu harga yang ditawarkan mulai dari Rp.7 juta hingga Rp.18 juta
sedangkan kualitas nomor dua sekitar Rp.2,5 juta hingga Rp.5 juta ke atas,
untuk kelas nomor tiga harga berkisar Rp.1,2 juta sampai Rp.1,8 juta.
Orang
Bangka kini tampaknya mulai sadar akan warisan budaya ini. Menurut Gubernur,
Kerajinan kain cual merupakan simbol kebudayaan Melayu di Provinsi Bangka
Belitung (Babel) yang harus tetap dilestarikan dan dikembangkan.
"Kerajinan kain cual ini adalah kebudayaan lama yang merupakan simbol
Melayu yang harus dilestarikan menjadi kerajinan khas masyarakat `Serumpun sebalai
ini`," kata Gubernur Babel, Eko Maulana Ali suatu ketika.
Harus
ada kesadaran yang tinggi dalam melestarikan budaya, adat melayu dan simbolnya.
Menurutnya, kerajinan khas Babel seperti kerajinan kain cual saat ini sudah
dikenal masyarakat baik secara nasional dan internasional sehingga pengembangan
kerajinan cual harus mendapat perhatian bersama. "Kerajinan kain cual ini
perlu dilestarikan sebagai kerajinan rakyat yang sudah membudaya secara temurun
di Babel," ujarnya.
"Kain
cual Babel telah dikenal dan digunakan desainer-desainer ternama nasional
bahkan wisatawan luar negeri pecinta kain pun tidak sedikit menyatakan
ketertarikan kain cual Babel sehingga kerajinan kain cual Babel harus terus di
dukung agar dapat semakin maju dan berkembang," katanya lagi.
Untuk
itulah tak heran bila pada Oktober 2008 silam, desainer ternama Oscar Lawalata
bersedia membantu dalam pembuatan desain baru bernuansa moderen pada kain cual
khas Bangka Belitung. menurut Oscar, desain kain cual hasil peninggalan nenek
moyang dulu sudah sangat bagus, namun seiring perjalanan waktu perlu ada
kreasi-kreasi baru sesuai selera orang sekarang.
Fauzan Rishadi
13:56
New Google SEO
Bandung, Indonesia



























