Sejarah kota Mentok, Bangka Barat memang sangat lekat sekali dengan jejak-jejak kemerdekaan Indonesia. Hal itu dikarenakan, kota Mentok pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno, Bung Hatta dan pejabat negara lainnya pada masa kemerdekaan. Ini dia ada beberapa foto-foto sejarah tentang saksi bahwa kota Mentok pernah didiami sang proklamator.
![]() |
| Kota Mentok tahun 1900 |
![]() |
| Kota Mentok tahun 1950 |
![]() |
| Hotel Menumbing tahun 1929 |
![]() |
| Bung Karno dan Bung Hatta di Menumbing, Mentok |
![]() |
| Bung Hatta dan teman-teman di Menumbing, Mentok |
![]() |
| Bung Hatta dan teman-teman di Menumbing, Mentok |
![]() |
| Presiden RI I Ir. Soekarno di ruang belajarnya di Menumbing, Mentok |
![]() |
| H. Agus Salim, Moh. Roem, Ir. Soekarno di Menumbing, Mentok |
![]() |
| Bung Karno bersama masyarakat Bangka di Pantai Tanjung Kelian |
![]() |
| Bung Karno dan masyarakat Bangka jalan-jalan di lepas pantai |
![]() |
| Bung Karno dan masyarakat Bangka di Pantai Tanjung Kelian, Mentok |
![]() |
| Bung Karno dan anak-anak Bangka di Mentok sumber : infobangka.com |
Fauzan Rishadi 13:04 New Google SEO Bandung, Indonesia
Foto-foto Sejarah Kota Mentok dan Bung Karno
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Thursday, 15 May 2014
![]() |
| Museum Timah Muntok |
Muntok- Ingin mengenal sejarah di Bangka Belitung, datang ke Museum Timah Muntok. Pasalnya di museum yang telah diresmikan, Kamis (7/11/2013) tersebut, selain dapat mengetahui perkembangan teknologi peleburan timah, pengunjung juga dapat mengetahui tentang perkembangan melayu Bangka, pengasingan Founding Father RI serta sejarah perang dunia kedua.
Pembangunan museum ini telah digagas sejak tahun 2012 lalu. Langkah awalnya yakni, PT Timah melakukan konservasi gedung. Adapun pertimbangan pembangunan museum di Muntok, dikarenakan Kota Muntok tak lepas dari sejarah pertimahan dan sejarah Indonesia. Gedung Hoofdbureau-banka tin winning dulunya, dan kini menjadi Museum Timah merupakan tempat pengaturan pertimahan di Bangka.
Sebanyak sembilan galeri mengisi gedung museum. Sejumlah galeri tersebut di antaranya, galari yang menceritakan sejarah perkembangan sosial budaya masyarakat Muntok, galeri yang memaparkan bangunan bersejarah di Kota Muntok, galeri ekplorasi pertimahan, galeri tambang darat, galeri tambang laut dan galeri peleburan timah.
Selain itu juga terdapat galeri sejarah para pemimpin yang pernah diasingkan di Muntok dan galeri yang menggambarkan sejarah perang dunia kedua. Ketika perang dunia kedua, Muntok sempat dijadikan sebagai tempat tawanan perang sekutu oleh Jepang.
Saat meresmikan Museum Timah, Sukrisno Direktur PT Timah Tbk menjelaskan, PT Timah merasa berkewajiban memberikan suatu ruang dalam pendokumentasian sejarah. Salah satu yang dapat dilakukan yakni, membangun Museum Timah Indonesia Pangkalpinang dan Museum Timah Muntok. Mengunjungi museum tersebut berarti telah mendapatkan pengetahuan mengenai teknologi pertambangan timah.
Lebih jauh ia menjelaskan, dalam pendokumentasian museum merupakan bagian untuk mengumpulkan dan mengatur serta mengkomunikasikan informasi. Seterusnya informasi didistribusikan dengan teratur kepada masyarakat. Selain itu museum Timah Muntok bukan saja mengoleksi barang bersejarah, karena di museum ini juga dilengkapi perpustakaan untuk membantu pengunjung mendapatkan informasi.
"Pengunjung museum ini akan mendapatkan gambaran utuh mengenai Kota Muntok dan teknologi pertimahan serta sejarah kemerdekaan. Sebab di sini kita tampilkan juga sejarah pengasingan Bung Karno dengan sejumlah menterinya. Museum Timah Muntok sarat dengan sejarah, museum ini menempati gedung bersejarah yang dibangun tahun 1915," jelasnya, Kamis (7/11/2013).
Sukirman Wakil Bupati Bangka Barat mengatakan, Pemda Bangka Barat menyambut baik dibangunnya museum timah ini. Sebelumnya gedung tua ini sangat mengganggu pamandangan. Namun saat ini gedung tersebut telah menjadi menarik. Pemuda Bangka Barat hendaknya dapat memahami informasi di museum, sebab gedung ini dapat menjadi inspirasi pengetahuan sejarah daerah.
"Kita berbangga hati dengan hadirnya museum ini. Pertimahan sudah menjadi bagian dari masyarakat Bangka Belitung," ungkapnya.
Sementara Azrizal, Staf Ahli Gubernur Bangka Belitung Bidang Energi dan Mineral mengatakan, Bung Karno pernah berpesan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dibangunnya museum ini merupakan salah satu sikap dan upaya agar generasi muda tidak melupakan sejarah. Anak-anak harus rajin mengunjungi museum, karena museum bisa membangkitkan nilai patriotisme.
"Semoga museum ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Bangka Belitung. Daerah kita merupakan provinsi kaya, terutama hasil tambang timahnya. Sejak 300 tahun lalu, penambangan timah telah dilakukan di provinsi ini, dan timah merupakan aset bangsa," katanya.
Fauzan Rishadi
17:38
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Museum Timah Muntok, Tempat Mengenal Sejarah di Bangka Belitung
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Friday, 21 March 2014
Asal Mula Upacara Adat :
Sekitar 262 tahun yang lalu pada tahun 1750 ada seorang berilmu tinggi meminta izin kepada Peri Bukit Penyabung untuk membangun sebuah rumah di daerah Jerieng. Penunggu Bukit Peyabung mengizinkan dengan syarat setiap bulan Muharam harus membawa sesajen ke bukit tersebut. Ringkas ceritanya Kek Adung membawa sesajen ke Bukit Penyabung dan merayakannya yang di pusatkan di Pelangas. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun sampai Kek Adung wafat dan dilanjutkan oleh Kek Weng sampai sekitar tahun 1900-an diteruskan oleh Kek Fit sampai tahun 1920-an dan dilanjutkan Kek Imam sampai tahun 1945, berikutnya digantikan ke Kek Pot sekitar tahun 1950-an, lalu diteruskan oleh Kek Deramen tahun 1966-an dan tahun 1966-an sampai tahun 1998 Ketua Adat dipegang oleh Kek Gebel. Setelah Kek Gebel wafat tahun 1998 maka terhentilah kegiatan Upacara ritual adat yang ratusan tahun dilaksanakan.
Kemudian ketika lembaga Adat Melayu Jerieng diresmikan 24 Oktober 2004 oleh ketua Adat Negeri Serumpun Sebalai Datuk H. Romawi Latif, dengan ketua harian Rdo. Sri Sandi Buman maka ritual kembali dilaksanakan dengan cara dan keyakinan yang berbeda. Jika ritual adat pada periode sebelumnya dilaksanakan di puncak gunung dengan membawa sesajen dan perayaan di Balai Adat, namun periode ini hanya dilaksanakan di Balai Adat dengan ritual penyembelihan hewan berkaki empat. Ritual ini dimaksudkan perayaan syukur masyarakat atas limpahan rizki dari Sang Pencipta. Lembaga Adat Melayu Jerieng bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pelanggas pada saat pelaksanaan pesta Adat memberikan gelar adat “Radindo (Rdo) kepada tokoh yang di anggap berjasa. Pesta Adat Jerieng ini dilaksanakan pada bulan November setiap tahun, suku Jerieng di desa Pelangas Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat.
Pesta Adat Suku Jerieng di desa Pelangas, Kabupaten Bangka Barat
Posted by Bangka Belitung Negeri Serumpun Sebalai on Sunday, 24 November 2013
Kelapa adalah nama salah satu daerah yang ada di kawasan Bangka Barat, merupakan daerah penghasil timah juga, namun timah di daerah ini berbeda dengan timah-timah dari daerah lainnya.
Pada dasarnya, wilayah Kelapa memiliki kandungan timah, sama dengan daerah-daerah lainnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babl) ini. Namun berbeda, jika timah di luar wilayah Kelapa laku dijual, sedangkan timah di Kelapa sendiri tidak ada nilainya, karena kadarnya sangat rendah atau bahkan tidak berkadar sama sekali alias kopong.
Mengenai penyebab timah kopong, kisahnya masih menjadi legenda tersendiri di tengah masyarakat daerah Kelapa.
Camat Kelapa H Sunatro mengakui adanya legenda itu, dan hingga saat ini masih dipercaya oleh masyarakat.
Menurut legenda, cerita Sunatro, timah di Kelapa disumpah atau disarat oleh para orang tua zaman dulu yang hidup pada masa zaman penjajahan Belanda.
"Mengetahui kaum kolonialis Belanda akan masuk ke Kelapa, dikhawatirkan penjajah akan menggali dan mengambil timah dari bumi Kelapa.
Maka timah disini disarat oleh orang tua di zaman itu, disumpah agar kopong, kisah ini melegenda secara turun menurun sampai sekarang," kata Sunatro kepada bangkapos.com Minggu (17/10/2013).
Camat Kelapa H Sunatro menuturkan bahwa orang tua di Kelapa (Suku Do dan Empeng) yang hidup pada zaman Belanda, dengan legendanya memberikan 'sarat' ke timah. Alhasil, menurutnya timah di daerah ini kadarnya menjadi rendah.
"Orang tua zaman dulu dari Suku Do dan Empeng, telah berpikir untuk jangka panjang yakni untuk kepentingan generasi berikutnya agar mewarisi bumi yang utuh tanpa kerusakan," kata camat kepada Bangkapos.com, Minggu (17/10/2013).
Dikatakan, timah di Kelapa, legendanya telah 'disarat atau diasal' sehingga timah menjadi hampa/kopong. "Timah disini sampai di sarat atau di asal, karena orang tua dulu sayang dengan tanahnya, sehingga timah itu jadi kopong karena di sarat atau di asal tadi," ujar camat.
Camat Kelapa H Sunatro menuturkan bahwa orang tua di Kelapa (Suku Do dan Empeng) yang hidup pada zaman Belanda, dengan legendanya memberikan 'sarat' ke timah. Alhasil, menurutnya timah di daerah ini kadarnya menjadi rendah.
"Orang tua zaman dulu dari Suku Do dan Empeng, telah berpikir untuk jangka panjang yakni untuk kepentingan generasi berikutnya agar mewarisi bumi yang utuh tanpa kerusakan," kata camat kepada Bangkapos.com, Minggu (17/10/2013).
Dikatakan, timah di Kelapa, legendanya telah 'disarat atau diasal' sehingga timah menjadi hampa/kopong. "Timah disini sampai di sarat atau di asal, karena orang tua dulu sayang dengan tanahnya, sehingga timah itu jadi kopong karena di sarat atau di asal tadi," ujar camat.
Fauzan Rishadi 08:36 New Google SEO Bandung, Indonesia

















