Saturday, 26 May 2012

Pantai Unik Pasir Kuning di Tempilang, Bangka Barat

pasir kuning, pantai tempilang
Tempilang, adalah sebuah kota tersendiri dibanding sebuah desa. Terpencil ia jauh dari lalu lintas jalan provinsi. Dalam artian tidak dilalui jalur Pangkalpinang ke Mentok atau dari Sungailiat ke Mentok. Namun itu tidak membuat daerah ini terpencil. Ia malah menjadi sebuah kota tersendiri.

Sebuah daerah yang berkembang. Puluhan bangunan bertingkat berdiri, meskipun itu untuk sarang Walet. Namun kombinasi perkebunan, nelayan dan tambang timah inkonvensional memberikan kemajuan berarti bagi daerah ini. Mini market dan bank berdiri.

Daerah Tempilang merupakan satu-satunya daerah di Bangka Barat provinsi Bangka Belitung yang memiliki keunikan, yakni pantainya berpasir kuning. Pantai ini terletak di Desa Tempilang Kabupaten Bangka Barat kurang lebih 70 KM dari Kota Pangkalpinang. Pasirnya yang berwarna kuning keemasan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke pantai ini.

Dengan pemandangan bebatuan yang terletak disudut pantai, kita dapat menikmati panorama alam yang indah. Yang menarik dari tempat ini adalah ada tradisi unik masyarakat pantai tersebut, setiap menjelang bulan Ramadhan. Pantai Pasir Kuning banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri untuk menyaksikan ritual adat Pesta Rakyat Perang Ketupat.


Jarak dari ibukota Kabupaten Bangka Barat (Mentok) ke lokasi sekitar 36 km. Pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena kendaraan umum yang menuju desa dan lokasi upacara sangat jarang. Pengunjung juga harus berhati-hati karena banyak sekali jalan berlobang dengan debu-debu yang beterbangan di pinggir jalan jika cuaca panas. Oleh karena jalan yang kurang baik, akses ke lokasi membutuhkan waktu tempuh sekitar 25 menit. Di desa dan sekitar pantai ini, pengunjung juga bisa dengan mudah menemukan penginapan, restoran, dan rumah makan.

Perang Ketupat merupakan salah satu ritual upacara masyarakat Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat. Upacara ini dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di daratan. Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari roh-roh jahat. Oleh karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan tradisi ini dimulai. Namun, berdasarkan cerita rakyat, tradisi ini sudah ada ketika Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Ada juga yang menyatakan, kegiatan ini telah dilaksanakan sejak zaman penjajahan Portugis. Yang jelas upacara ini terus digelar secara turun-temurun hingga kini.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment