Recent Post

Apa Kabarmu Jembatan Batu Rusa II?

Rencana jembatan Batu Rusa II
Proyek pembangunan jembatan yang bakal menjadi ikon provinsi Bangka Belitung, yaitu jembatan Batu Rusa II tak kunjung rampung. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bangka Belitung, Sarjulianto menyatakan pihaknya akan menyelesaikan pembangunan proyek Jembatan Baturusa II pada Juli 2015.

"Kami sebagai pelaksana sudah membuat jadwal semaksimal mungkin untuk penyelesaian pembangunannya pada Juli 2015. Saat ini pembangunan Jembatan itu sudah mencapai 76 persen," ujarnya di Pangkalpinang, Senin (2/6).

Ia mengatakan, pembangunan jembatan tersebut hingga selesai membutuhkan dana sekitar Rp 400 miliar dan sejauh ini untuk paket satu biaya yang sudah dikeluarkan sebesar Rp 170 miliar dan untuk paket satu kekurangan biaya sekitar Rp 33 miliar.

Selain itu, untuk paket dua yaitu bagian tengah jembatan saat ini sudah mengeluarkan biaya sebesar Rp 177 miliar dan masih kekurangan biaya untuk penyelesaiannya sebesar Rp 34 miliar.

"Secara keseluruhan pembangunan proyek Jembatan Baturusa II ini membutuhkan dana sekitar Rp 400 miliar dan untuk kekurangan dana penyelesaian masing-masing paket satu dan dua saat ini sudah ada dan tinggal dikucurkan saja," ungkapnya.

Dikatakannya, jika jembatan itu sudah selesai dibangun, pada saat beroperasi tetap membutuhkan biaya pemeliharaan sebesar Rp 100 juta setiap bulan dan biaya itu akan terus bertambah ke depannya.
Jembatan tersebut mengadopsi teknologi canggih dari Inggris dengan sistem "bascule" atau sistem naik turun, di mana pada operasionalnya sistem yang digunakan ada dua yaitu secara manual dan otomatis.

Jembatan Baturusa II ini membentang sepanjang 740 meter dari Ketapang Pangkalpinang hingga kawasan Airanyir Bangka, dengan ketinggian dari atas air sungai saat pasang 15 meter.

Selain itu jembatan tersebut merupakan jembatan pertama di Asia Tenggara yang menggunakan sistem "bascule" dan ini bisa menjadi ikon bagi Provinsi Bangka Belitung," katanya.
{[['']]}

Budaya Bangka, Perang Ketupat Tempilang

Ada yang menarik di Bangka Belitung yaitu perang ketupat. Perang ketupat merupakan peninggakan budaya masyarakat tempilang, Bangka Barat. Menurut sumber pertama kali perang ketupat terjadi pada tahun 1802 oleh Akek Sak di depan benteng tempilang. Perang ketupat ini merupakan acara adat untuk mengenang jasa para pahlawan dalam perang lanon.

Ritual di awali pada malam sebelum perang ketupat dilakukan. Dipimpin oleh 3 dukun Kecamatan Tempilang mereka memberikan sesaji sebagai sesembahan dan makanan makhluk halus diatas rumah-rumahan (penimbong) yang terbuat dari kayu menangor. 

Secara bergantian para dukun tadi akan memanggil makhluk halus yang menghuni Gunung Mares. Masyarakat setempat mempercayai bahwa makhluk halus penghuni Gunung Mares memiliki tabiat yang baik dan menjadi penjaga desa Tempilang dari roh-roh jahat. Oleh karenanya pemberian sesajen sebagai bentuk penghormatan sekaligus balas jasa masyarakat Tempilang.

Pagi hari, ritual perang ketupat didahuli oleh tarian pembuka yakni tarian serimbang. Diiringi suara gendang dari enam penabuh dan alunan dawai. Para penari menarikan tarian yang menggambarkan perang terhadap makhluk-makhluk halus yang jahat dan sering mengganggu kehidupan masyarakat. 

Setelah selesai tari serimbang, dukun darat dan dukun laut bersatu untuk mengucapkan mantra didepan wadah yang telah berisi ketupat. Beberapa saat setelah melafalkan mantra, dukun darat pun akan tak sadarkan diri. Peristiwa tersebut dipercaya merupakan bentuk komunikasi dukun darat dengan arwah para leluhur. 

Setelah siuman biasanya dukun darat akan menyampaikan beberapa hal yang menjadi pantangan warga Tempilang. Setelah ritual selesai, kedua dukun tersebut akan menyiapkan ketupat diatas sehelai tikar pandan. Sepuluh ketupat akan diletakan menghadap ke sisi darat dan sepuluh lainnya menghadap sisi laut. Di sisi lain 20 pemuda yang menjadi peserta perang saling berhadapan membuat dua kubu. Masing-masing menghadap ke laut dan ke darat. Sebelum perang dimulai, dukun terlebih dahulu akan memberikan contoh. 

Secara umum, kedua kubu tidak boleh melemparkan ketupat ke arah kepala. Dengan aba-aba peluit dari dukun laut, perang ketupat pun dimulai. Kedua kubu pun akan saling melemparkan ketupat ke arah lawan. 

Keadaan kacau dan meriah pun akan mewarnai perang ketupat . Perang akan berakhir ketika dukun laut meniup peluit. Para peserta pun mengakhiri perang ketupat dengan saling berjabat tangan sebagai tanda tidak ada dendam diantara mereka.
{[['']]}

Gua Misterius Ditemukan di Desa Juru Seberang, Belitung

Tanjungpandan
Suatu gua misterius ditemukan di Desa Juru Seberang, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Penemuan gua misterius tersebut, ikut menarik perhatian Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Belitung.

Keberadaan gua dinilai akan dapat menjadi sebuah objek wisata baru bagi Kota Tanjungpandan. Kepala Disparekraf Kabupaten Belitung Jasagung Hariyadi mengatakan, dirinya baru mendengar kabar mengenai keberadaan gua tersebut dari media massa. 

Meski Ia sendiri juga tak menampik ikut merasa penasaran dengan perkembangan penyelidikan terhadap gua tersebut.

"Kalau memang di gua itu ditemukan nilai-nilai sejarah atau legenda, itu nanti bisa dijadikan salah satu objek wisata baru, untuk Kota Tanjungpandan," kata Jasagung kepada Pos Belitung, Selasa (13/5).

Ia menjelaskan, pihaknya memang sudah mengarahkan perhatian pada Desa Juru Seberang untuk pengembangan sekor pariwisata. Hanya, perhatian itu lebih fokus pada rencana pengembangan Hutan Kemasyarakatan Gusong Bugis. "Ke depan Hutan Gusong Bugis akan dikembangkan, dan gua itu bisa jadi satu paket nanti, wisata ke Gusong Bugis sekaligus ke gua itu," kata Jasagung. 

(Sumber: Pos Belitung)
{[['']]}

Foto-foto Sejarah Kota Mentok dan Bung Karno

Sejarah kota Mentok, Bangka Barat memang sangat lekat sekali dengan jejak-jejak kemerdekaan Indonesia. Hal itu dikarenakan, kota Mentok pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno, Bung Hatta dan pejabat negara lainnya pada masa kemerdekaan. Ini dia ada beberapa foto-foto sejarah tentang saksi bahwa kota Mentok pernah didiami sang proklamator.

Kota Mentok tahun 1900

Kota Mentok tahun 1950

Hotel Menumbing tahun 1929

Bung Karno dan Bung Hatta di Menumbing, Mentok

Bung Hatta dan teman-teman di Menumbing, Mentok

Bung Hatta dan teman-teman di Menumbing, Mentok

Presiden RI I Ir. Soekarno di ruang belajarnya di Menumbing, Mentok

H. Agus Salim, Moh. Roem, Ir. Soekarno di Menumbing, Mentok

Bung Karno bersama masyarakat Bangka di Pantai Tanjung Kelian

Bung Karno dan masyarakat Bangka jalan-jalan di lepas pantai

Bung Karno dan masyarakat Bangka di Pantai Tanjung Kelian, Mentok
Bung Karno dan anak-anak Bangka di Mentok



sumber : infobangka.com



{[['']]}

Kamus Bahasa Bangka

Ini dia sedikit tentang kamus bahasa bangka, admin sendiri asli Pangkalpinang, jadi bahasanya juga adalah bahasa bangka Pangkalpinang.

Perlu diketahui, di Bangka sendiri, setiap daerah, seperti Bangka Barat, Bangka Selatan, Bangka tengah, Bangka Induk, Pangkalpinang, Sungailiat, Belinyu, dan lainnya, terdapat perbedaan, baik dari logat maupun bahasanya. Tetapi terdapat juga kesamaan.

Kalo masalah perbedaan bahasa di pulau Bangka Ada sejarahnya sendiri, Nanti Kita Bahas tentang sejarahnya. Ini dia bahasa sehari-hari yang sering digunakan.


------------Bahasa Bangka------------ ------------Bahasa Indonesia------------
A

Abang Kakak Laki-laki
Angai (diangai) Jemur, dikeringkan (dijemur)
Aok Iya
Aben (dak aben) Sama sekali (tidak sama sekali)
Aloi Minta perhatian
Agik Lagi
Adep (di adep) Depan (di depan)
Anter (dianter) Antar (dianterin)
Along (along tiduk) Lebih baik, Mending (Mending tidur)
Asuk Anjing
Ape Apa
Aik Air
Akew Pangilan cowok cina
Amoy Panggilan cewek cina
Akek Kakek (Lebih kasar)
Atok Kakek
B

Bantut Bosan
Basing Terserah
Bulak (Bebulak) Bohong (Berbohong)
Bilong Telinga
Budu Bodoh
Bagak Bodoh (lebih bodoh dari budu)
Budu Bagak Sangat bodoh sekali
Begagit Bercanda
Bai (Biase bai) Saja (Biasa saja)
Biak Biar
Bunting Hamil
Biting Jarum Peniti
Bujang Panggilan untuk laki-laki lajang
Burok Buruk, Jelek
Bulai Rambut pirang
Berus Rakus
Beruk Sejenis Kera
C

Camui Lobang galian bekas tambang timah
Cikar Cantik
Cemane Bagaimana
Cuman Cuma, Hanya
Cak-cak Pura-pura
D

Dayang Panggilan untuk perempuan lajang
Dak Tidak
Die Dia
Denglah Sudahlah
Due Dua
Dapuk Dapur
E

F

G

Gile
Gila
Galek Sering
Gati Sering
Ge (ku ge dak tau) Juga (saya juga tidak tahu)
Gi (gi ke pasar) Pergi (pergi ke pasar)
Gule-gule Permen
H

I

Ingen Suka, Seneng
Ingel-ingel Bercanda, tidak serius, main-main
J

Judes Cerewet, Bawel
K

Ka, ki, ke Kamu (pemakaian sesuai daerah)
ku Saya, Aku
Kelitet Ganjen
Kelitet kleber Sangat-sangat ganjen
Kajin Walau, biar
Kawa (dag kawa) Mau (tidak ada kemauan)
Keceker Ketahuan
Kanti (nganti) Teman (menemani)
Kuset Korek Api
Kenek Terserah
Kelak Nanti
Kerenyek Keinginan, Pengen, kepengen
Kite Kita
Kantet Robek
Kasut Sandal
Kek (Pegi kek ka) Dengan, Bersama (Pergi bersama kamu)
L

Langok, Lungoi Bosan, Jenuh
Lom Belum
Lah Sudah
Leteh Capek
Leket Lengket
Linot Ngantuk
M

Madeh Memberitahu
Mucak Memperbaiki
Mutek Memetik
Mengkual Mau muntah
Merani Marah
Mirah Merah
N

Nek Mau
Ngeruce Marah
Ngerapik Omong kosong
Ngambok Pamer
Nyusah Menyusahkan
Ninggal Meninggal, Meninggalkan
Nabat (dak nabat) Tau diri (Tidak Tau diri)
O

P

Pelicoh Curang
Pekak Masa
Pacak Bisa
Pucak Perbaiki
Pereh Menghampiri
Padah Bilang
Pacul Cangkul
Palak Kepala
Q

R

Renyek Ingin, Pengen
Retak (dag retak) Peduli (tidak peduli)
Rumeh Menunjukkan sifat orang yang ribet sendiri
S

Sikok Satu
Surang Sendiri
Saro Sulit, susah
Suah Pernah
Sude Sesudah, setelah
Semenggah (dak semenggah) Pantas (tidak pantas)
Seperadik Saudara
Sungot Mulut
Setal Kelereng
Suduk Sendok
Sekenek Seenaknya
Sekuayok Memposisikan diri seenak mungkin
T

Telok Telur
Tige Tiga
Tunang Pacar
Tumbur Tabrak
Tudung Topi
Tekeria Untung saja
Tekepor Kewalahan
Teburai Tercecer kemana-mana
Tingok Lihat
U

Urang Orang
Ukan Bukan
Utek Otak
Uto (Uto-uto) Mobil (Mobil-mobilan)
V

W

X

Y

Z


Sekian beberapa kata-kata dalam bahasa Bangka, Masih banyak lagi kata bahasa Bangka lainnya yang belum dituliskan di atas, karena masih banyak sekali. Mungkin jika ada teman-teman yang ingin menambahkan bisa berkomentar di bawah. Sekian dulu ya, Terimakasih sudah mengunjungn Website ini.
{[['']]}

Batu Satam (Empedu Pasir) Asli Belitung

Tidak hanya menyandang julukan sebagai pulau penghasil Timah dan Lada Putih, Belitung juga di kenal sebagai pulau yang mempunyai kekayaan alam khas dan unik. Kekayaan alam tersebut berupa batu alam yang di namakan Satam. Wujud dari batu satam ini bewarna hitam, berukuran kecil dan sedang, serta Bentuk bulat dan lonjong. Selain itu pada batu terdapat seperti goretan yang terukir secara alami. Karena warna dari Batu Satam Hitam,terkadang juga batu ini di sebut dengan Batu Hitam atau Batu Legam (dalam bahasa Belitung.red). Selain itu juga, Menurut Penduduk Belitung, nama Satam berasal dari bahasa Tionghoa yang berarti pedu pasir. Sa = Pasir dan Tam = Empedu. Sehingga satam pun sering di katakan empedu pasir.

Batu Satam merupakan endapan batu meteor yang jatuh ke bumi setelah pecah/terbakar di langit jutaan tahun lalu. Biasanya Batu Satam banyak terdapat di lokasi Tambang Timah atau yang sering di sebut masyarakat Belitung dengan nama Kulong. Sehingga biasanya Batu Satam ini banyak di temukan oleh para pekerja Tambang Timah.

Sebagai pulau yang juga menghasilkan kekayaan alam berupa Batu Satam, Belitung menyimbolkan diri dengan Membuat tugu yang di atasnya di letakan Batu Satam buatan/tiruan. Tugu itu bisa berada tepat di pusat Kota Tanjungpandan

Keistimewaan
Berwarna hitam, berukuran kecil dan sedang, berbentuk bulat dan lonjong, serta memiliki goresan yang terukir secara alami merupakan keistimewaan dan ciri khas dari Batu Satam. Dengan keistimewaan tersebut membuat Batu Satam sering di jadikan batu perhiasan emas yang di pasang di kalung, giwang, bros cincin, tongkat komando.

Selain itu sebagian masyarakat Belitung berpendapat, bahwa Batu Hitam./Legam mempunyai kekuatan magic.Dengan di percaya mempunyai kekuatan magic membuat batu satam juga sering di gunakan sebagai jimat/penangkal ataupun sekedar simpanan.

Lokasi
Batu yang sering di katakan juga batu hitam ini memang hanya ada di lokasi tambang timah, jadi bagi anda masyarakat Belitung atupun para wisatwan yang sengaja ingin mendapatkan/mencari tampaknya agak sulit,mengingat batu satam biasanya hanya bisa di temukan oleh para penambang timah dan itupun hanya sebagian orang yang beruntung saja.

Tapi anda jangan takut, khususnya di kota Tanjungpandan sekarang ini sudah banyak tempat yang menjual batu alam itu. Misalnya pada toko oleh-oleh khas Belitung. Disana anda bisa melihat berbagai macam bentuk dari Batu Satam dan bisa memilih sesuai selera. Jadi jika anda berwisata ke pulau Belitung, jangan lewatkan untuk berkunjung ke toko oleh-oleh khas Belitung untuk membeli Batu Satam sebagai Cinderamata untuk keluarga yang sedang menunggu anda di rumah.

Jenis-Jenis Batu Satam
Jika di lihat dari bentuk dan ukuran Batu Satam ini sangatlah bervariasi. Ada yang berukuran kecil, sedang, dan juga ada yang besar. Dari bentuknya juga sangatlah unik dan bervariasi. Ada yang bulat , lonjong, serta ada yang bentuknya tidak beraturan, Jika di amati sekilas seperti Batu Satam yang rusak atau pecah. Biasanya jenis tersebut sering di sebut dengan Suiseki. Yang tak kala uniknya, pada batu satam ini terdapat seperti goretan yang seakan sengaja di ukir. Padahal goretan tersebut merupakan goretan yang terbentuk secara alami.

Batu Satam ini terbagi menjadi 2 jenis :
  • Batu Satam Asli : Jenis ini merupakan Batu Satam asli. Dalam arti bahwa batu tersebut masih dalam kondisi yang asli sebagaimana saat di temukan oleh para penambang timah.
  • Batu Satam Gosokan : Jenis ini merupakan batu satam yang di gosok, diubah bentuk dari bentuk sebelumnya. Untuk jenis ini, terkadang sebagian orang menyebutnya Batu Satam tidak asli. Mungkin hal tersebut di sebabkan karena bentuknya telah di ubah dari bentuk yang asli. Namun itu salah. Untuk jenis gosokan ini, tetaplah yang asli, karena walaupun sudah berubah bentuk, tetaplah sumber nya berasal dari batu satam yang asli.

Sumber: Jelajahbelitung.com
{[['']]}

Jangan Lewatkan Kuliner ini jika berkunjung ke Bangka

Hal yang paling diingat oleh masyarakat di luar Bangka baik di dalam negeri maupun di luar negeri adalah tentang keindahan pantai yang masih alami serta tentang Timah di pulau ini. Karena Pulau Bangka dalah pulau yang menjadi pengekspor terbesar di dunia dengan Timahnya. Selain Pantai dan Timah, Pulau Bangka juga memiliki kuliner yang membuat orang akan selalu ingat dengan pulau yang eksotis ini. Kira-kira apa saja ya kuliner yang tidak boleh terlewatkan jika berkunjung ke Pulau Bangka? kali ini kita akan membahas sebagian makanan yang wajib untuk dicicipi jika berkunjung ke Bangka.


  • Lempah Kuning
Pulau Bangka terkenal dengan makanan yang berbahan dari laut, Lempah kuning ini adalah makanan yang basanya dibuat dari ikan laut tetapi bisa juga menggunakan bahan dasar ayam. Ikan yang biasanya menjadi bahan dari lempah kuning adalah ikan tenggiri, ikan mayong, ikan kerisi, ikan kepitek, ikan pari, ikan ciw, dan masih banyak jenis ikan lainnya. Lempah kuning ini memiliki ciri khas kuah yang berwarna kuning yang dihasilkan dari kunyit yang menjadi salah satu bumbu utama dalam lempah kuning ini. Lempah kuning ini bisa disajikan dengan nanas yang membuat rasanya agak manis, bisa juga digunakan menggunakan daun kedondong yang menghasilkan rasa agak kecut, tetapi kebanyakan dari lempah kuning disajikan dengan rasa yang pedas. Sebab, masyarakat Bangka dominan menyukai masakan yang pedas. Lempah kuning merupakan menu yang hampir setiap hari disajikan dirumah-rumah masyarakat Bangka, Makan bersama keluarga dengan rasa yang pedas dan disajikan dengan kondisi yang masih panas, Anda harus menyiapkan air dan tisu karena bisa membuat air mata anda mengalir dengan sendirinya karena sensai pedas dan panas dari lempah kuning ini. Untuk para wisatawan akan sangat rugi jika belum mencoba masakan ini.

  • Lempah Darat
Lempah darat merupakan kuliner yang berbahan dasar sayuran, biasanya sayuran yang dominan dalam makanan ini adalah talas yang masyarakat Bangka biasa menyebutnya lempah keladi. selai itu jga bisa menggunakan sayur lainnya seperti kacang panjang, timun dan sayuran lainya. Masakan ini sangat terkenal pada masyarakat Bangka. Bumbu dasar masakan ini juga sangat simpel, sebagaimana yang telah disebutkan dalam lagu daerah bangka "Yo Miyak", bumbunya adalah Belacan (terasi), Garam, serta cabe kecil (cabe rawit). Lempah darat ini juga biasa ditambahkan udang kering yang menambah kekhasan rasa dari lempah darat ini. Masyarakat juga biasa menyantap lempah darat ini dengan nasi utih yang masih hangat serta ditambah ikan asin. Orang Bangka menyatakan bahwa makan Lempah darat tanpa ikan asin rasana kurang afdol. Bagi para wisatawan rugi jika belum mencoba masakan ini.

  • Otak-otak dan Taifu Sui (Susu kedelai)
Tradisi Musui atau minum Taifu Sui sekarang menjadi tren yang terjadi di Bangka khususnya di Pangkalpinang. Tren musui ini bisa kita jumpai di sekitar Alun-alun Taman Merdeka, Pangkalpinang. Musui sendiri menjadi ciri khas dari masyarakat Bangka sebagai ajang nongkrong-nongkrong. kalau di Jogja terkenal dengan angkringannya, biasanya mereka memesan susu jahe + nasi kucingnya, kalau di Bangka juga terdapat Musui ini. Jika kita minum Taifusui ini kurang lengkap jika tidak kita tidak menikmati otak-otak Bangka yang biasa di cocol dengan kuah tauco. Otak-otak dan Taifusui merupakan dua kuliner yang tidak bisa dipisahkan jika anda berkunjung ke gerobak-gerobak yang menjajakan susu kedlai khas Bangka ini. Jadi bagi para wisatawan, jika pergi ke bangka sebaiknya anda juga mencicipi sensai musui di Pulau Timah ini.

  • Martabak Bangka
Siapa yang tidak kenal dengan martabak asli Bangka. Martabak merupakan kuliner yang menjadi ciri khas dari Bangka. Martabak Bangka ini tidak hanya terkenal di tempat asalnya saja, di luar Bangka Martabak sangat identik dengan pulau Timah ini. Martbak Bangka terkenal dengan rasanya yang sangat enak, siapa saja tidak meragukan dari rasa martabak bangka. Di Bangka sendiri Anda bisa dengan mudah mendapatkan makanan ini. Penjualnya pun beragam , ada yang penjual orang melayu serta ada juga penjual etnis cina, keduanya sama saja, yang pasti martabak bangka sangat enak rasanya. jika tidak percaya, bisa Anda buktikan sendiri.

  • Mie Koba

Mie Koba salah satu kuliner yang harus anda coba. Mie Koba merupakan khas dari salah satu daerah di Bangka yaitu koba, ibu kota kabupaten Bangka Tengah. Tetapi karena rasanya yang enak, Mie Koba ini sangat terkenal di Bangka maupun di Luar Bangka.

Mie koba terbuat dari mie kuning yang diolah secara manual sederhana yang tidak menggunakan bahan pengawet sehingga mie agak kenyal sedangkan kuah dari mie koba ini menggunakan kuah ikan tenggiri yang sebelumnya telah digiling menjadi butir-butir daging kecil yang membuat rasa kuah mie koba ini sangat gurih dan harum bau kayu manis menambah rasa manis ringan dikuahnya.

  • Rusep
Rusep adalah makanan ikan yang difermentasikan atau dibusukkan. Makanan khas ini terbuat dari bahan dasar ikan bilis yang sebelum pembuatannya dicuci hingga bersih dan ditiriskan secara steril lalu dicampur dengan garam yang komposisinya seimbang.  Adonan ini harus ditutup dengan wadah yang rapat agar tidak tercampur dengan benda asing apapun. Dahulu saat proses pembuatan adonan makanan ini ditempatkan dalam guci yang bermulut sempit. Suhu ruangan harus benar benar dijaga. Makanan ini dapat dimasak dulu atau dimakan langsung dengan lalapan.

Rusip ini memiliki aroma yang sangat menyengat sehingga bagi yang tidak terbiasa akan menyebabkan sedikit rasa mual. Biasa disajian dengan potongan bawang merah dan cabe rawit yang sangat dominan. Namun bagi yang sudah terbiasa dengan makanan yang satu ini akan sulit dilupakan karena rasanya yang sangat berbeda dari makanan yang lain. Selain itu, bentuk ataupun wujud dari makanan ini sangat ekstrim bagi yang tidak terbiasa.

  • Pantiaw
Pantiaw merupakan salah satu makanan khas daerah Bangka, seringkali menjadi sarapan masyarakat sekitar atau sekedar untuk mengganjal perut kita yang kelaparan rasa yang sangat khas ini sangat menggugah selera kita untuk ingin terus dan terus menyantapnya. Biasanya makanan ini dijual dari subuh hingga siang hari. Harganya pun lumayan murah per porsinya kurang lebih Rp. 1.000,- pas untuk ukuran kantong




  • Lakso
Lakso merupakan salah kuliner bangka atau makanan khas bangka, sehingga lakso tidak asing lagi bagi masyrakat bangka karena makanan yang murah dan enak. Lakso  merupakan campuran bahan adonan ikan dan sagu atau tepung beras sehingga mie lakso berwarna putih. 

Lakso bangka ialah sebuah mie putih yang udah diolah dari adonnan, adonan ini kemudian dibentuk menjadi mie putih yang kenyal kenyal layaknya seperti spagetti, sedangkan kuahnya terdiri dari santan yang telag diberi bumbu serta butiran ikan – ikan laut yang masih segar yang digiling menggunakan blender atau mesin penggiling ikan, biasanya butiran ikan ini menggunakan ikan tenggiri.


Sekian beberapa kuliner yang arus anda cicipi jika berkunjung ke pulau Bangka. Dari beberapa kuliner di atas masih banyak lagi kuliner yang belum di sebutkan. Jika anda mempunyai masukan dan tanbahan silahkan berkomentar di bawah. Terimakasih atas kunjungan anda di Blog ini. 
{[['']]}

Kepunan dalam Budaya Masyarakat Belitung

Kali ini saya akan menjelaskan tentang kepunan dalam budaya masyarakat belitung, pada posting sebelumnya jga sudah ernah membahas tentang kepunan dalam budaya masyarakat bangka, lihat lagi postingan kepunan-dan-cara-mengatasinya-dalam.html .

Pada postingan kali ini, saya ambil dari salah satu website tentang belitung, lihat sumber website di paragraf akhir. ini dia cerita kepuanan masyarakat belitung.

Petua lama Belitung yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini adalah KEPUNAN. Saya rasa hampir seluruh masyarakat lokal Belitung tentunya mengetahui petua ini. Kepunan jika di artikan menurut versi saya adalah Celaka, akibat mengabaikan atau tidak mengindahkan saat di tawari makanan dan minuman. Jika anda ada definisi versi lain, silahkan tambahkan pada kolom komentar di bawah.

Disini,saya akan memberikan contoh dan sedikit gambaran melalui cerita pendek mengenai Kepunan ini, yang mungkin setelah ada membacanya, bisa lebih mudah memahami makna Kepunan ini.

Dalam cerita pendek ini, saya akan melibatkan tiga tokoh, yaitu Kulup Teling, Bujang Bongkai, Kulup Kapu-Kapu. Jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita mohon di maafkan.

Alkisah,.Kulup Teling sedang bersantai sambil minum segelas kopi. Tak lama kemudian Bujang Bongkai datang menghampiri Kulup Teling. Dengan spontan si Kulup Teling menawarkan untuk bersantai, mengobrol sambil menikmati kopi bersamanya. Namun, karena Bujang Bongkai ada urusan yang mendadak dan penting, akhirnya dia menolak ajakan Kulup Teling dan segera pergi meninggalkannya. Tak lama kemudian Kulup Teling mendapatkan kabar dari Kulup Kapu-Kapu bahwa Bujang Bongkai mendapatkan musibah, masuk selokan di tepi jalan saat berusaha menghindari tabarakan dengan anjing yang melintasi jalan.

Nah dari cerita pendek di atas,celaka atau musibah yang menimpa Bujang Bongkai, menurut kepercayaan sebagaian masyarakat Belitung, disebut dengan Kepunan, atau lebih tepatnya Kepunan Kopi. Mengapa demikian ? karena Bujang Bongkai menolak tawaran Kulup Teling untuk minum kopi bersama nya.

Makanan dan Minuman yang di percaya oleh masyarkat Belitung, yang lebih mudah menyebabkan Kepunan ini adalah Nasi dan Kopi. Mengapa demikian? Menurut saya, Nasi dan Kopi tersebut adalah konsumsi pokok atau yang sering di konsumsi sehari-hari. Jadi ketika di tawari tidak boleh untuk menolaknya. Perlu di ketahui Kopi saat ini adalah minuman favorit dan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian masyarakat Belitung.

Berdasarkan pengalaman ketika saya berdomisili di berbagai daerah di Pulau Belitung, rata-rata dari mereka masih mempercayai Kepunan ini. Contoh, ketika saya masih berdomisil di Kelapa Kampit, keluarga, dan kerabat saya masih mempercayainya. Selain itu, ketika saya berdomisili di badau, juga rata-rata dari keluarga dan kerabat saya juga mempercayainya. Begitu juga saat ini, berdomisili di Dusun Air Nangka Desa Balok, rata-rata keluarga dan teman saya, juga masih mempercayainya. Namun tentunya saya tidak mengatakan dan tidak memastikan bahwa semua masyarakat Belitung masih menerapkan dan memepercayainya.

Sebenarnya ada jurus pamungkas untuk menangkal Kepunan ini., yaitu dengan cara NGERASE atau sekedar NGENJAMA. Ngerase ini adalah mencicipi makanan,minuman saat di tawari sesorang. Sedangkan Ngenjama adalah memegang atau menyentuh makanan, minuman dengan ujung jari.

Selain dari kedua jurus pamungkas tersebut, masih ada satu jurus yang ingin saya turunkan kepada anda. Kayak sintogendeng dan wirosableng aja :D.Jurus yang satu ini saya dapatkan dari almarhumah nenek, ketika saya masih kecil. Waktu itu beliau berpesan kepada saya, apabila di tawari makanan atau minuman oleh seseorang, segeralah Ngerase ataupun sekedar Ngenjama. Jika kita memang tak bisa melakukan kedua hal tersebut, segera ucapkanlah / lafazkanlah kata PASNAN atau PASNAN 27 dan di akhiri dengan meludah.

Jadi jurus pamungkas ketiga untuk mengkal Kepunan itu adalah melafazkan atau mengucapkan kata PASNAN atau PASNAN 27. Sayangnya,waktu nenek saya berpesan, saya tidak menanyakan apa arti PASNAN dan PASNAN 27 itu. Maklum waktu itu saya masih kecil dan tidak begitu ingin mengatahui lebih jauh hal tersebut. Namun menurut saya, Pasnan dan Pasnan 27 itu adalah sebuah mantra untuk menangkal Kepunan yang telah di gunakan secara turun menurun.

Jadi kesimpulan nya, untuk menangkal Kepunan ini adalah,ketika sesorang menawari makanan dan minuman, kita harus memakan dan meminumnya. Namun karena sesuatu dan lain hal sehingga kita tidak bisa meminum dan memakan nya, segera untuk Ngerase ataupun sekedar Ngenjama. Dan jika kita juga tidak bisa untuk melakukan hal terebut, segera melafazkan kata Pasnan atau Pasnan27 dan di akhiri dengan meludah.

Sebagaimana yang telah saya jelaskan bahwa Kepunan adalah petuah lama atau kepercayaan bagi masyarkat Belitung. Jadi, bicara soal Kepunan ini, tentunya kembali kepada diri kita sendiri. Dalam hal ini, tentunya kita bebas untuk percaya maupun tidak.

Jujur,saya pribadi terkadang menerapkan terkadang juga tidak. Namun saya sudah pernah mengalami celaka atau musibah yang saya rasa akibat dari Kepunan, walaupun yang kita ketahui sebenarnya, bahwa musibah itu adalah kehendak dan telah di atur yang Maha Kuasa. Jadi sekali lagi, semuanya kembali kepada diri kita sendiri.

Sumber: jelajahbelitung.com
{[['']]}

Cerita Rakyat Belitong: Hikayat Keramat Gadong

Buding adalah desa terdekat wilayah Kecamatan Kelapa Kampit,
berjarak sekitar 44 kilometer dari Tanjungpandan, ibu kota Kabupaten Belitung. Penduduk desa ini memiliki legenda “ kebanggaan “, Keramat Gadong.

Kisah ini terjadi jauh sebelum datang penjajah. Di saat jalan raya yang menghubungkan Tanjungpandan – Manggar ( seperti sekarang ini ) belum ada. Saat sebagian besar penduduk memilih tinggal di pedalaman untuk menghindarkan gangguan lanun yang suka merampok, serta menculik wanita dan anak-anak.

Di antara penduduk Belitung yang tinggal di pedalaman tersebut terdapatlah satu keluarga bermukim di sekitar daerah Buding mengarah ke Pering. Keluarga ini mengandalkan hidup dari hasil ladang, hingga mereka selalu berpindah-pindah mengikuti ladang yang di buka.Kepala keluarga itu bernama Kuman Manor. Ia memiliki seorang istri yang sedang mengandung anak keduanya dan seorang anak perempuan bernama Taila.

Hatta. Suatu hari, saat sedang musim mengetam padi, kubok ( kumpulan rumah di tengah perladangan / ume,red.) Kuman Manor di datangi serombongan lanun di bawah pimpinan Panglima Usup. Mereka datang melalui Pantai Pering, bermaksud merampok dan berbuat apa saja yang menurut mereka baik.

Tapi kedatangan kelompok lanun ini ke kubok Kuman Manor nampaknya tak sesuai harapan semula. Mereka tidak bisa berbuat sekehendak hati terhadap penduduk di kubok itu, karena Kuman Manor adalah orang yang tidak gampang di taklukkan. Hingga terjadilah perang tanding mengandalkan pedang, tombak, keris, petumang, dan lain-lain senjata antara para lanun pimpinan Panglima Usup melawan penduduk kubok Kuman Manor.

Dalam perang tanding itu satu demi satu lanun tewas di tangan Kuman Manor. Sedang dia sendiri jangankan luka, tergorespun tidak. Perang tanding ini di akhiri dengan menyerahnya Panglima Usup dalam kondisi sangat kritis dengan luka parah di sekujur tubuh. Oleh Kuman Manor, Panglima Usup yang sudah menyerah dengan luka parah itu bukan nya di bunuh, malah di bawanya kerumah untuk di obati.

Berhari-hari setelah diobati Panglima Usup dan kebetulan yang sehari-harinya tinggal di rumah Kuman Manor berangsur sembuh. Kebaikan keluarga ini rupanya telah membuat hati Panglima Usup tergugah. Hingga ia kemudian menganggap Kuman Manor sebagai orang tua sendiri. Sementara Kuman Manor yang belum memiliki anak laki-laki juga tak keberatan mengangkatnya sebagai anaknya.

Sesudah berbulan-bulan berdiam di rumah Kuman Manor, timbul keinginan Panglima Usup untuk berlayar. Keinginan itu ia utarakan kepada ayah dan ibu angkatnya yang kemudian tidak keberatan mengabulkan permintaan tersebut. Oleh ibu angkatnya dimasaklah berbagai macam makanan untuk sangu ( bekal,red ) selama dalam pelayaran. Keesokan harinya, diantara kedua orang tua angkatnya,Panglima Usup berangkat dari Pantai Pering, Ia menggunakan perahu yang dulu di gunakan untuk merompak, berangkat ke laut lepas menuju pulau Daek.

Selang beberapa kemudian, Panglima Usup yang sudah mempunyai anak buah para lanun lagi, datang menemui Kuman Manor. Bukan untuk merampok,melainkan bersilaturahmi kepada orang tua angkatnya. Untuk kedua orang tua dan adik angkatnya Panglima Usup membawa banyak sekali oleh-oleh, hingga ia di sambut dengan penuh suka cita oleh Kuman Manor. Setelah kedatangan itu, berulangkali Panglima Usup datang dan pergi menemui kerluarga Kuman Manor. Dan setiap kali Panglima Usup datang selalu disambut dengan makanan kesukaannya, kukus.

Alkisah, pada suatu hari yang seharusnya menjadi waktu kedatangan Panglima Usup, ia tidak datang. Hingga ibu angkatnya khawatir dan gelisah, kalau-kalau terjadi sesuatu dengannya. Berbeda dengan istrinya, Kuman Manor tak khawatir sedikitpun. Ia malah berfikir suatu waktu Panglima Usup pasti akan datang kembali bukan untuk bersilaturahmi, tetapi membalas dendam. Pikiran itu terus menerus berkecamuk di hati Kuman Manor.

Merasa waktu kedatangan sudah dekat, istri Kuman Manor menyiapkan berbagai makanan untuk menyambut kedatangan Panglima Usup. Sementara itu Kuman Manor tidak mau menyambut Panglima usup. Hingga membuat istrinya, yang sedang bersusah payah menyiapkan makanan, marah. Karena itulah, setelah berfikir sejenak, Kuman Manor memutuskan akan berangkat besok pagi-pagi sebelum terbang lalat bersama isrinya. Ia juga minta istrinya memasak nasi ketan.

Esok harinya, setelah subuh, mereka berangkat. Namun, sepanjang perjalanan perasaan yang mengganjal fikiran Kuman Manor terus berkecamuk, sehingga ia mengurungkan niat melanjutkan sisa perjalanan. Mengingat pula ketika itu istrinya sedang hamil tua. Beliau khawatir akan terjadi sesuatu yang tak beres. Namun,atas desakan istrinya,walau berat hati, mereka tetap meneruskan perjalanan.

Singkat cerita begitu Kuman Manor sampai di pinggir Pantai Pering, tampak perahu lanun tengah berlayar mengarah ke pantai. Dugaan bahwa Panglima Usup yang dulu mengaku sebagai anak angkatnya akan melakukan balas dendam nampaknya akan segera terbukti.Dan hal betul-betul terbukti, ketika setelah dekat pantai perahu-perahu lanun mengepung Kuman Manor dari segala penjuru.

Melihat Kuman Manor sudah terkepung, Panglima Usup tak mau menyiakan kesempatan yang telah lama ia rencanakan itu. Begitu Kuman Manor telah betul-betul terpojok, ia langsung menyerang dari segala penjuru. Kuman Manor berusaha mempertahankan diri dari serangan ganas para lanun tersebut. Tapi,walau ia seorang yang tangkas dan sakti atau mungkin ajal sudah dekat, akhirnya tertangkap dan di bawa masuk ke perahu.

Di atas perahu itulah kelompok lanun mengeroyok Kuman Manor habis-habisan. Nah,dalam pengeroyokan itu Kuman Manor meminta agar istrinya dibebaskan karena sedang hamil tua. Perimintaan itu di turuti Panglima Usup.

Setelah menurunkan istri Kuman Manor, tanpa perikemanusiaan Panglima Usup memotong leher Kuman Manor hingga hampir putus. Setelah itu ia berteriak,” Mulai sekarang habislah panglima daratan Pulau Belitung.” Sekejap kemudian ia pun melemparkan Kuman Manor yang telah diikat dengan leher hampir putus ke laut.

Tapi, sebuah keajaiban terjadi. Tubuh Kuman Manor yang telah terikat dengan leher hampir putus terlihat menggeliat dan berteriak,” aku ndak mati,naikan agik aku ke perahu.” Terkejut dengan teriakan itu,segera anak buah Panglima Usup menaikan kembali tubuh Kuman Manor ke atas perahu. Sesampai di atas perahu Panglima Usup langsung menebas perut Kuman Manor hingga isi perutnya terburai keluar. Setelah itu,kembali Panglima Usup melemparkan tubuh Kuman Manor ke laut.

Dan,untuk yang kedua kalinya,keajaiban terjadi. Tubuh Kuman Manor kembali menggelepar dan berteriak.” Aku ndak mati. Tapi mun benar mikak nak muno aku, naikan aku ke perahu, lalu mikak cabut kuku induk jari kaki kanan aku.”

Oleh para lanun, Kuman Manor segera dinaikan lagi ke perahu dan langsung mencabut kuku induk jari kaki kanan nya. Setelah memastikan Kuman Manor betul-betul tewas, mayatnya di lemparkan kembali ke laut. Setelah itulah baru mayat Kuman Manor terkubur di laut.

Tak lama berselang setelah Kuman Manor terbunuh, istrinya melahirkan anak keduanya, seorang bayi laki-laki, yang kemudian hari di kenal sebagai Keramat Gadong.

Berselang 15 tahun, Keramat Gadong tumbuh besar dan mulai tahu tentang arti ayah-ibu. Karena tak pernah bertemu, ia pun bertanya hal ihwal ayahnya. Oleh ibunya ia selalu mendapatkan jawaban kurang jelas. Setelah dewasa,bahkan ibunya tak juga memberikan jawaban pasti mengenai keberadaan ayahnya.

Penasaran dengan keberadaan sang ayah, Keramat Gadong pun lalu bertanya kepada Makciknya, Yak Linong.

“ Kemane la Bapak aku ne Cik, kiape bentuk badan belau to,” Tanya Keramat Gadong.

Yak Linong menjawab,” Bapak kau to gede badannye, tapi belau la mati debuno Panglima Usup, urang Daek.”

“ Aku nak beliaten ken Bapak,” Lanjut Keramat Gadong.

“ Kiape kau nak beliaten ken belau, kaluk la mati,” Jawab Yak Linong.

“ Tapi, aku nak beliaten, suat munggak’e “ Desak Keramat Gadong lagi.

Di desak demikian,Yak Linong pun menjawab seadanya,” Mun kau nak beliaten kan Bapak kau, kau harus betarak antare Aik Buding kan Aik Linggang.Lalu kau harus mawak sangu tujo ikok ketupat.”

Setelah mendapat keterangan Yak Linong,esok harinya Keramat Gadong meminta ibunya menyiapkan tujuh ketupat untuk sangu.

Di malam pertama betarak, Keramat Gadong makan satu ketupat,tapi ia belum juga bertemu ayahnya.Begitu juga dengan ketupat kedua,ketiga hingga keenam.

Pada malam ketujuh,ketupat terakhir ia makan.Begitu ketupatnya habis,ia memohon kepada yang Kuasa agar dapat bertemu roh ayahnya.Setelah beberapa waktu tepekur,ia pun tertidur nyenyak.Dalam tidur itu lah ia bermimpi bertemu arwah ayahnya sambil berujar , “ Kau ndak akan betemu ken aku,karene aku la de alam lain.Tapi,ape kehendak kau akan ku kabulkan.”

Dalam mimpi itu,Keramat Gadong tidak meminta apa-apa dari roh ayahnya,kecuali mau menuntut balas atas kematiannya.Karena itu roh ayahnya langsung berujar,” Baikla mun kitu se,karene aku di alam lain,kau de alam lain,mun kau nak ngelanggar tana Daek,sape la aku.Sebab aku duluk e mati de tangan Panglima Usup urang Daek.”

Setelah itu Keramat Gadong bersumpah,”Setiap keturunan Keramat Gadong dak kuang bekawan kan urang Daek.Karene mun bekawan,kawan itu la nok kan ngembuno kamek.” Keramat Gadong juga berpesan kepada anak cucu nya kelak,” Mun keturunan aku ade ape-ape umpamenye kesusahan dan sebagainye,tunu kemenyan,panggil name aku,pasti aku datang.”

Begitu kisah pertemuan Keramat Gadong dengan roh ayahnya.Setelah pertemuan itu, Keramat Gadong tinggal berpindah-pindah di hutan antara Buding – Penirukan.Sehari-hari ia berladang sambil menyebarkan agama Islam.Dalam syiarnya, Keramat Gadong memiliki bekal kesaktian di cincang tak mempan,di rendam tidak mati dan di baker tidak di makan api serta berani menghadapi tantangan selalu menggunakan senjata andalan.Di antaranya tombak,pedang,dan dua buah petunangan.Sementara kakaknya,Taila berkeluarga dengan orang Langkang,yang kemudian di temukan penginggalan Keramat Gadong.

Hingga tahun 1986-an senjata penginggalan Keramat Gadong masih di pelihara keturunan nya,Pak Kadir,berupa tirok dan sebuah pedang.Benda penginggalan tersebut,oleh Belanda pernah di minta disimpan di Museum Tanjungpandan Belitung .Tapi,benda-benda itu tak lama di simpan di Museum,sebab tak boleh di bawa kemana-mana,ia harus dipelihara oleh keturunan nya.Benda warisan itu masih mempunyai kekuatan magis,semisal untuk tangkal dan pengobatan.

Tentang akhir riwayat Keramat Gadong,beliau menginggal dunia tidak terkubur dan raib menjelang subuh.

Pada malam beliau raib, Keramat Gadong mengumplkan semua anak cucunya di kubok di tengah ume.Kira-kira menjelang Subuh,salah satu cucunya mengingatkan,” Be kakik tek ngape lum debangunek,arine la siang,la kan subo.” Karena waktu subuh sudah masuk,cucunya menyibakan kelambu tempat Keramat Gadong tidur sendiri,tanpa di temani istrinya.Tapi apa yang di temukan kemudian,hanya sebuah bantal guling yang di tutupi kain.Setelah kain penutup di buka,ternyata Keramat Gadong tak ada di dalam.Ia raib,hingga yang di kuburkan oleh keluarganya hanyalah bantal guling yang di temukan di dalam kelambu.

Kuburan bantal guling itu sendiri terletak di Pering,yang kemudian menjadi tempat orang bernazar.

Semasa hidupnya,beliau pernah menanam racun di Aik Tembako,yang terletak kea rah menuju Laut Sandong.Aik Tembako ini ketika sedang musim kemarau tidak boleh di ambil,karena mengandung racun yang memabukan.Konon,racun itu di tanam beliau sebagai salah satu strategi untuk mematikan para lanun yang suka mengambil air di tempat tersebut.Hingga begitu para lanun itu meminum air tersebut,maka akan matilah mereka.

Sebagaimana informasi pada cerita di atas,bahwa makam Keramat Gadong berada di sekitar Pering. Dan menurut informasi dari salah satu sumber yang di temui crew jelajahbelitung, keberadaan makam Keramat Gadong memang berada di sekitar Laut Pering dan Desa Penirukan.Mungkin pada lain kesempatan kami akan menelusuri lokasi tersebut,dan mengambil data gambar makam Keramat Gadong untuk menambah bukti kan sejarah tersebut.

Sumber Cerita Hikayat Keramat Gadong ini berasal dari Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib
{[['']]}

Cerita tentang "Bulan Berdarah" Dan Budaya Belitong

Gerhana Bulan
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gerhana bulan total akan terjadi pada 15 April 2014. Namun sayang fenomena alam itu tak bisa disaksikan langsung di Pulau Belitung.

"Gerhana ini dapat diamati dari wilayah Indonesia kecuali Jawa bagian barat, Kalimantan bagian barat dan Sumatera," kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya di Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Seperti yang dilansir sejumlah media, gerhana bulan pada pertengahan April ini akan disuguhkan pemandangan lain. Pasalnya, bulan akan tampak berwarna merah sebelum waktu tengah malam.

Kondisi ini oleh sebagian pihak disebut bulan berdarah (blood moon). Namun para astronom lebih sering menggunakan istilah Hunter's Moon untuk menyebut kondisi bulan berwarna merah.

Kebudayaan Belitong juga ikut memperhatikan perubahan warna bulan ini. Pemerhati Budaya Belitong Yudha mengatakan, bulan tersebut dikenal dengan istilah "bulan sakit".

"Zaman dulu biasanya ada ritual membuat bunyi ingar bingar pakai calong, panci, dan lain-lain, katanya saat itu bulan akan dilahap siluman antu gede, jadi bulan diselamatkan dari ancaman penelanan itu dengan bunyi-bunyian dari Bumi," kata Yudha kepada Pos Belitung.

Dalam kebudayaan Belitong juga dikenal istilah bulan rayak. Selain sering dikaitkan dengan penyakit, bulan rayak juga digunakan dalam bidang kelautan dan kehutanan.

Pegiat Budaya Belitong Fithrorozi mengatakan bulan rayak dijadikan indikator untuk mengukur pasang surut air laut. Bulan rayak juga dikaitkan dengan mitos 'antu berasuk' (Hantu Berasuk-red) dalam perburuan pelandok (kancil) ala tradisional Belitong. Mitos ini dimunculkan oleh para sesepuh zaman dulu setelah memperhatikan adanya kaitan antara bulan dan pelandok.Bulan rayak diyakini menjadi waktu bagi pelandok untuk berkembang biak.

Di waktu tersebut pelandok akan berkumpul untuk melangsungkan perkawinan. Berkumpulnya pelandok membuat posisinya menjadi lebih mudah diburu.

Hal ini kemudian dikhawatirkan akan mengganggu populasi pelandok di hutan. "Antu Berasuk ini bentuk kearifan lokal untuk ngelindungi pelandok jangan sampai diburu abis. Karena di bulan rayak gampang mencari pelandok. Pada bulan Rayak, pohon juga sedang berkembang biak. Karena itu kayu yang di tebang di bulan rayak gampang bubokan,” kata Fihtrorozi.

BMKG menyatakan gerhana bulan total akan terjadi pada 15 April 2014. "Gerhana ini dapat diamati dari wilayah Indonesia kecuali Jawa bagian barat, Kalimantan bagian barat dan Sumatera," kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya di Jakarta.

Menurut dia, wilayah Indonesia hanya dapat mengamati bagian akhir dari proses gerhana bulan tersebut. Pada gerhana bulan total, bulan akan tepat berada pada daerah umbra, yaitu bayangan inti yang berada dibagian tengah sangat gelap pada saat gerhana bulan.

Gerhana bulan total, menurut dia, juga akan bisa diamati dari Afrika bagian barat, Eropa bagian barat dan Samudera Atlantik saat bulan sedang terbenam. Seluruh proses gerhana akan dapat diamati dari Amerika Selatan bagian barat dan Amerika Utara serta Samudera Pasifik bagian timur.

Proses gerhana pada saat bulan terbit dapat diamati di Samudera Pasifik bagian barat, Australia dan Asia bagian timur. Namun keseluruhan proses gerhana tidak dapat diamati dari daerah Asia, Afrika bagian timur dan Eropa bagian timur. Gerhana diperkirakan terjadi empat kali selama 2014 yaitu gerhana bulan total pada 15 April, gerhana matahari cincin pada 29 April, gerhana bulan total pada 8 Oktober dan gerhana matahari sebagian pada 23 Oktober 2014.
{[['']]}

Kecalo Makanan Khas Bangka Olahan Udang

Kecalo dalam kemasan
Mungkin sebagian besar masyarakat bangka mengenla yang namanya "Kecalo", tapi sebagian lagi mungkin asing dengan makan ini. yaa, Kecalo merupakan salah satu makanan khas bangka. Jika anda mengetahui rusep, kecalo juga seperti itu, yaitu makanan yang dibuat dengan cara fermentasi, cuma bedanya kalo rusep bahan dasarnya adalah ikan bilis, tetapi kecalo bahan dasarnya adalah udang rebon. 

Kecalo atau calo adalah udang rebon yang difermentasikan. Kecalo ini dimakan seperti fungsi sambel atau cocolan sayur-sayuran sebagai lalapan.  Kecalo memiliki rasa yang cukup asin, juga bisa ditambahkan saat menggoreng telur kocok. 

Banyak orang yang tidak mau makan kecalo karena aromaya yang menyengat, sama seperti rusep, banyak yang juga tidak menyukainya tetapi banyak juga yang menyukainya. Pembuatan kecalo sama seperti pembuatan rusep, yaitu dengan cara mencampurkan garam pada udang rebon yang masih segar, setelah itu dipermentasi sampai teksturnya lebih halus. Karena masyarakat bangka dominan dengan makanan khas laut, jadi kecal merupakan salah satu makanan khas bangka yang bahan dasarnya adalah dari udang rebon segar dari laut. 

Kecalo ini biasa dihidangkan keluarga-keluarga di bangka sebagai temannya lalapan, biasanya kecalo ditambahkan dengan cabe rawit, bawang merah yang banyak sehingga memberikan rasa yang pedas dengan perpaduan rasa asin. memikirkannya saja menjadi ngiler ingin makan bersama-sama keluarga di rumah.
{[['']]}

Rumpun Bahasa Belitung Diambang Kepunahan

Laporan Wartawan Bangka Pos, Wahyu K 11 Januari 2014

UNESCO pada 2011 menyebut terdapat 15 bahasa daerah di Indonesia yang telah telah punah. Dalam waktu yang tidak lama, Belitung kemungkinan akan menyumbang satu atau dua bahasa untuk menggenapi kepunahan tersebut.

“Selamat detang di Negrik Laskar Pelangek. Akuk mengewakilnyak derik Sukuk Sawang ngucapnyak terima kasih ke iko, semuak usak ade masala akuk ngucapla selamat semuak nyaman iko bejelan,”

Inilah Bahasa Suku Sawang yang artinya, ‘Selamat datang di Negeri Laskar Pelangi. Saya mewakili Suku Sawang mengucapkan terima kasih, semoga perjalanan anda selamat dan menyenangkan’.

Kalimat ini dituturkan langsung oleh Senati (55) ketika Pos Belitung memintanya mencontohkan kata sambutan dalam Bahasa Sawang untuk menyambut kedatangan wisatawan.

Saniati yang akrab disapa Mak Tatong merupakan generasi asli dari Suku Sawang yang masih menggunakan Bahasa Laut. Ia biasa menggunakan bahasa tersebut dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan keluarga.

Namun semakin hari Bahasa Laut Suku Sawang hampir jarang digunakan oleh para generasi muda. Bahkan cucu-cucu Saniati tidak lagi menggunakan bahasa tersebut ketika berkomunikasi di lingkungan keluarga.

Jadi bukan hal aneh lagi dalam rumah Saniati, pertanyaan dalam Bahasa Laut dijawab dengan Bahasa Melayu Belitong. Para generasi muda Suku Sawang pada dasarnya paham, tapi tidak bisa menuturkan bahasa laut dengan baik.

“Die (cucu) cuma mendengar, aku cakap laut die cakap melayu, nah gitu, die dak nak cakap laut” kata Saniati kepada Pos Belitung, Jumat (10/1) sore.

Saniati tidak bisa memastikan apa penyebab para generasi muda semakin sulit untuk menuturkan bahasa laut dalam pergaulan sehari-hari. Ia hanya bisa menduga-duga beberapa kemungkinan. Di antaranya karena perkawinan campuran antara anak Suku Sawang dengan Melayu Belitong.

Pergaulan sehari-sehari di sekolah dan lingkungan bermain juga diprediksi oleh Saniati telah membuat anak Suku Sawang secara tidak sadar malu menjaga kelangsungan bahasanya sendiri.

Sejauh ini tidak ada usaha khusus dari para sesepuh Suku Sawang untuk mengajarkan Bahasa Laut kepada generasi muda. Menurut Saniati, Bahasa Laut tidak akan hilang selama para orang tua tetap memperdengarkannya kepada anak-anak.

“Biar mereka tidak mau bicara bahasa laut, tapi kami tetap pakai bahasa laut, nanti dia akan belajar sendiri, dak perlu diajari,” kata Saniati.

Kecerdasan Suku Sawang dalam mempelajari bahasa bisa dilihat dari kemampuan mereka berkomunikasi dengan Bahasa Melayu Belitong. Semua mereka pelajari secara otodidak dalam pergaulan sehari-hari.

Rasanya hampir sulit mengindentifikasi Saniati sebagai Orang Laut ketika ia berbicara dengan Bahasa Melayu Belitong. Menurut Saniati, kecepatan mengadopsi bahasa luar hampir dimiliki oleh semua orang Suku Sawang.

“Kakik (Suami), malah bisa berbahasa Inggris walau tidak tamat SD, dia biasa bawa orang-orang kapal berbelanja ke pasar,” kata Saniati.

Hampir Punah

Keberlangsungan Bahasa Laut memang tampaknya masih memiliki harapan. Namun, bahasa lain yang juga ada di Desa Juru Sebarang saat ini tinggal menunggu waktu menuju ambang kepunahan.

Bahasa itu disebut dengan Bahasa Juru. Bahasa ini digunakan oleh Orang Juru yakni para penghuni lama Kampung Juru Sebarang.

Musa Mustafa (61) adalah satu dari sedikit generasi asli Orang Juru yang bermukim di Desa Juru Seberang. Menurut dia, nenek moyang Orang Juru semula berasal dar Johor di semenanjung Malaysia.

Sepintas, Bahasa Orang Juru terdengar hampir sama dengan Bahasa Laut. Namun setelah didengar dengan seksama, kedua bahasa itu sesungguhnya memang berbeda.

Kondisi ini membuat kebanyakan orang sering salah mengenali Orang Juru dengan Orang Laut Suku Sawang. Padahal, keduanya merupakan dua kelompok masyarakat yang berbeda dengan bahasa yang berbeda pula.

Pada masa orang tua Musa dulu, Bahasa Juru masih sering digunakan di lingkungan keluarga dan sesama Orang Juru. Namun belakangan, bahasa itu sudah ditinggalkan dan nyaris tidak terdengar lagi di Desa Juru Seberang.

“Tidak ada lagi yang tahu, kemungkinan tidak sampai 10 orang yang bisa Bahasa Juru, mungkin setelah saya meninggal, kerabat dan beberapa orang tua di atas kami sudah meninggal, habislah bahasa itu, bahasa kami ini mungkin hanya bisa dimengerti, tapi tidak ada lagi yang menggunakannya,” kata Musa kepada Pos Belitung, Kamis (9/1) sore.

Banyak faktor yang menyebabkan Bahasa Juru semakin ditinggalkan generasinya sendiri. Perpindahan penduduk, perkawinan campuran, dan pengaruh masa lalu.

Menurut Musa, masa lalu Orang Juru dipenuhi dengan ancaman. Dari cerita turun temurun, nenek moyang mereka dulu mengembara ke lautan atas perintah Punggawa Johor untuk mencari ‘sesuatu’ yang dibutuhkan dalam prosesi perkawinan Putri Raja.

Orang Juru ini tidak diperkenankan pulang jika ‘sesuatu’ tersebut tidak bisa ditemukan. Ancamanannya tidak main-main, siapa yang pulang tanpa membawa hasil maka mereka akan dibunuh.

Gagal menunaikan tugas, akhirnya membuat Orang Juru memilih menetap di Belitung. Mereka sebisa mungkin menutup-nutupi keberadaannya di Belitung agar tidak ketahuan oleh Johor.

Dengan sikap seperti itu, Musa mengatakan citra Orang Juru menjadi buruk di mata sebagian penduduk Kota Tanjungpandan. Tak jarang ada selentingan, anak-anak orang kota di larang bergaul dengan anak-anak Orang Juru lantaran mereka disebut sebagai orang buangan.

Citra itu membuat generasi di era Musa terkadang merasa malu menggunakan Bahasa Juru. Namun belakangan, Musa menyadari mereka dulu seharusnya tidak perlu merasa malu menggunakan bahasa tersebut.

“Orang-orang tua kami dulu tetap pakai Bahasa Juru walau di Kota, tapi kami tidak, sekarang baru tahu, kalau bahasa itu sebenrnya adalah bagian dari kebudayaan dan perlu kita jaga,” kata Musa.

Penelantaran Bahasa

National Geographic Indonesia Edisi Juli 2012 melansir penduduk bumi yang 7000 miliar menggunakan sekitar 7000 bahasa, jika dibagi rata setiap bahasa setidaknya memiliki sejuta penutur.

Namun kenyataannya, 78 persen populasi dunia menggunakan 85 bahasa terbesar. Bahasa Inggris digunakan 328 juta orang sebagai bahasa utama, dan Mandarin 845 juta.

Ketika pergantian abad nanti, menurut ahli bahasa, hampir setengah dari bahasa di dunia saat ini mungkin punah. Lebih dari 1000 yang dinyatakan kritis atau sangat genting.

Ancaman kepunahan bahasa perlu mendapat perhatian. Sebab, kepunahan bahasa sama dengan kepunahan peradaban manusia secara keseluruhan.

Menurut penelitian, di Indonesia ada 169 bahasa etnis/daerah yang terancam punah. Hal ini yang kemudian menjadi fokus dalam seminar “Pengembangan dan perlindungan bahasa, kebudayaan etnik minoritas untuk penguatan bangsa,” Kamis (15/12/2011) di LIPI Jakarta.

Dalam seminar itu disebutkan ada empat sebab kepunahan bahasa etnis. Pertama, para penuturnya berfikir tentang dirinya sebagai inferior secara sosial.

Kedua, keterikatan pada masa lalu, ketiga sisi tradisional, dan terakhir secara ekonomi ekonomi kehidupannya stagnan.

“Keempat sebab ini disebut oleh sejumlah linguis sebagai proses ‘penelantaran bahasa’,” kata Drs.Abdul Rachman Patji dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI.

Di luar itu, ada faktor urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Urbanisasi berpengaruh karena jika dua orang dari daerah pindah ke kota besar atau ibukota, maka dalam berinteraksi dengan etnis lain bahasa etnisnya cendrung ditinggalkan.

“Penyebab utama kepunahan bahasa pun karena para orang tua tidak lagi mengajarkan kepada anak-anaknya bahasa ibu mereka dan mereka juga tidak secara aktif menggunakannya di rumah atau di dalam berbagai ranah komunikasi,” kata Abdul

Secara lebih luas, menurut Abdul, faktor-faktor yang mempercepat kepunahan bahasa juga datang dari kebijakan pemerintah dan penggunaan bahasa dalam pendidikan serta tekanan bahasa dominan dalam suatu masyarakat multi bahasa yang berdampingan.(*)

Perlu Pendokumentasian
Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa, Badan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Sugiyono memberikan perhatian sejak lama pada ancaman kepunahan bahasa daera. Hal itu ia ungkapkan dalam artikelnya yang dimuat di website Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, 19/3/2013

Menurut dia, khazanah bahasa dan sastra di Indonesia sangat beragam, tapi sebagian besar dari keberagaman itu berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Beberapa bahasa memang masih tergolong  dalam posisi aman, tetapi tidak sedikit bahasa yang dalam posisi terancam, hampir punah,  atau bahkan telah punah.

Dasar hukum yang melandasi kebijakan penanganan bahasa  dan sastra daerah telah ditetapkan, baik dalam UUD 1945 maupun Undang-Undang nomor 24 tahun 2009. Keduanya mencerminkan kemauan politik pemerintah yang nyata, tetapi realisasi upaya pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa dan sastra daerah belum optimal.

Dalam rangka optimalisasi, beberapa provinsi telah melahirkan perda,  demikian juga beberapa kementrian. Akan tetapi, optimalisasi upaya pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa daerah belum dilakukan dalam batas-batas yang seharusnya.

Menurut UNESCO, seperti yang tertuang dalam Atlas of the World’s Language in Danger of Disappearing, di Indonesia terdapat lebih dari 640 bahasa daerah (2001:40). Dari jumlah tersebut terdapat kurang lebih 154 bahasa yang harus diperhatikan, yaitu sekitar 139 bahasa terancam punah dan 15 bahasa yang benar-benar telah mati. Bahasa yang telah punah berada di Maluku (11 bahasa), Papua Barat, Kepulauan Halmahera, Sulawesi, serta Sumatera (masing-masing 1 bahasa).

Upaya pengembangan, pembinaan, dan pelestarian  bahasa dilakukan terhadap obyek wisata dan sastra berdasarkan kondisi atau vitalitasnya. Pada 2002 dan 2003, UNESCO dengan bantuan kelompok linguis internasional menetapkan kerangka untuk menentukan vitalitas (kemampuan untuk bertahan) bahasa untuk membantu pemerintah membuat kebijakan penanganan bahasa di negaranya.

Kelompok itu menetapkan Sembilan criteria untuk mengukur vitalitas bahasa. Antara lain, jumlah penutur, proporsi penutur dalam populasi total, ketersediaan bahan ajar, respons bahasa terhadap media baru, tipe dan kualitas dokumentasi, sikap bahasa dan kebijakan pemerintah dan institusi, peralihan ranah penggunaan bahasa, sikap angggota komunitas terhadap bahasanya, serta transmisi antar generasi.

Berdasarkan kriteria itu,  vitalitas  bahasa digolongkan menjadi enam kelompok.

  • Pertama, bahasa yang punah (extinct languages) yakni bahasa tanpa penutur lagi. 
  • Kedua, bahasa yang hampir punah (nearly extinct languages), yakni bahasa dengan sebanyak-banyaknya sepuluh penutur yang semuanya generasi tua.
  • Ketiga, bahasa yang sangat terancam (seriously endangered languages) yakni bahasa dengan jumlah penutur yang masih banyak, tetapi anak-anak mereka sudah tidak menggunakan bahasa itu.
  • Keempat, bahasa yang terancam (endangered languages) yakni bahasa dengan penutur anak-anak, tapi cendrung menurun.
  • Kelima, bahasa yang potensial terancam (potentially endangered languages) yakni bahasa dengan banyak penutur anak-anak tetapi bahasa itu tidak memiliki status resmi atau yang prestisius.
  • Dan keenam, bahasa yang tidak terancam (not endangered languages) yakni bahasa yang memiliki transmisi ke generasi baru yang sangat bagus.


Bahasa di Indonesia mempunyai jumlah penutur yang sangat beragam. Vitalitas bahasa di Indonesia menyebar dari status yang paling aman hingga yang benar-benar punah.

Di antara bahasa daerah di Indonesia terdapat tiga bahasa yang jumlah penuturnya di atas 10 juta jiwa, yakni Bahasa Jawa, Sunda, dan bahasa Madura.

Penanganan bahasa daerah diklasifikasikan berdasarkan pengelompokan vitalitas bahasa tersebut. Pengembangan dan pembinaan dilakukan terhadap bahasa yang masih dalam status tidak terancam dan bahasa yang mempunyai potensi terancam.

Bahasa dalam vitalitas kedua itu masih dapat direvitalisasi. Dengan pengembangan bahasa itu, kita akan mempunyai korpus yang memadai untuk membahasakan apa saja, mempunyai akselerasi yang bagus terhadap dunia pendidikan dan perkembangan iptek, serta dapat mengantisipasi munculnya media baru.

Pembinaan dilakukan agar bahasa itu mempunyai transmisi antargenerasi yang baik, baik transmisi melalui dunia pendidikan, maupun transmisi melalui interaksi dalam ranah rumah tangga. Selain itu upaya pengembangan dan perlindungan juga dilakukan dengan memantapkan status bahasa, mengoptimalkan dokumentasi, serta menumbuhkan sikap positif penuturnya.

Perlindungan terhadap bahasa sekurang-kurangnya dilakukan dua tingkat yaitu tingkat dokumentasi dan tingkat revitalisasi. Perlindungan bahasa di tingkat dokumentasi akan dilakukan pada bahasa yang sudah tidak ada harapan untuk digunakan kembali oleh masyarakatnya.

Bahasa yang dalam keadaan hampir punah dan bahasa yang sangat terancam hanya bisa dilindungi dengan mendokumentasikan bahasa itu, sebelum bahasa itu benar-benar punah. Dokumentasi itu penting untuk menyiapkan bahan kajian jika suatu saat diperlukan.
{[['']]}

IKLAN BABELKITE

 
Copyright © 2011. Bangka Belitung - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger