Monday, 28 May 2012

Lokal Wisdom Belitong, Budaya Laut Budaya Pemersatu

bangka pos
Tak ingin hanya terbawa gelombang globalisasi, Belitong pancangkan terus kearifan lokalnya.

Hai rondeng si paku tanding
Kepiting dirasa-rasa
Bawang putih bawang merah
Si yang kampit tutup mata

Lagu satu bait itu dinyanyikan anak-anak dalam satu putaran permainan Hai Rondeng, permainan menebak nama anak yang berhasil ditangkap oleh satu anak yang berdiri di tengah lingkaran, sambil menutup mata. Merupakan permainan khas anak-anak Belitong.

Hai Rondeng dimainkan di hari pertama Festival Tradisi Bahari di Pantai Tanjongpendam, Kota Tanjongpandan, Belitong Barat. Festival yang dilaksanakan dari 1 hingga 5 Juli itu merupakan penyelenggaraan yang ke-5, sejak tahun 2004. Sebelumnya digelar di Mataram (2004), Manado (2005), Takallar (2006), dan Lombok Timur (2007). Istimewanya, festival kali ini bertepatan dengan hari jadi Kota Tanjongpandan yang ke-171, yakni pada 1 Juli.

Festival Tradisi Bahari merupakan kerjasama Direktorat Tradisi, Ditjen Nilai Budaya, Seni, dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan Pemda Kabupaten Belitong. “Laut merupakan alat pemersatu bangsa, ruang hidup, ruang juang, alat juang, dan kondisi juang bangsa Indonesia. Pulau Belitong memiliki keanekaragaman budaya dan nuansa kebahariaan yang sangat menarik,” ujar Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Tjetjep Suparman.

Belitong pulau kecil, luasnya 4.889 kilometer persegi dengan 14 kecamatan, hampir semua kecamatan punya pantai, maka budayanya adalah budaya bahari. Dipertunjukkan dalam festival ini, antara lain upacara Buang Jong, lomba Dayung Sampan, lomba Tarik Tambang Sampan Beregu, lomba Merajut Jaring, diskusi kebaharian, dan seperti di awal tulisan ini, Permainan Anak-anak.

Selain Hai Rondeng, di tanah lapang itu dimainkan juga Pok-pok Gerinang (Cublak-cublak Suweng di Jawa), Bit-bit til (Injit-injit Semut di Melayu), dan Cak Munci Pai Kului (dua kelompok menebak siapa anak yang memegang batu, lantas saling tarik untuk mempertahankan/menambah anggota kelompok).

Senasib dengan daerah-daerah lain di Nusantara, permainan anak khas Belitong juga sudah jarang dimainkan. Karena itu Pemda Kabupaten Belitong mendata permainan anak-anak Belitong, dan didapatlah 25 permainan. Dari jumlah itu, dipilih 10 permainan yang sudah sangat lama, bahkan orang Belitong pun sudah lupa.

Sepuluh permainan anak-anak itu kemudian dijadikan film dokumenter berdurasi 27 menit dengan judul Menapak Hijau Bumi tanpa Alas Kaki. Film dokumenter ini dimainkan oleh 10 pemain anak-anak Belitong, dengan dua muka yang sudah akrab bagi masyarakat Tanah Air, yakni Suhendri dan Yogi Nugraha, pemeran A Kiong dan Kucai di film Laskar Pelangi yang juga berlatar belakang budaya Belitong.

“Anak-anak Laskar Pelangi kami pilih karena mereka punya pengalaman berhadapan dengan kamera, jadi punya ‘tugas tambahan’ membangun suasana bagi teman-teman lainnya,” kata sang sutradara, M. Ismaya. N yang dipanggil anak-anak dengan sebutan Om Moyo. Moyo adalah putera asli Belitong. Sebelumnya, dia asisten sutradara di film Laskar Pelangi sekaligus meng-casting 3800-an anak untuk mencari 12 anak sebagai pemain inti Laskar Pelangi.

Agar filmnya tetap natural, Moyo hanya menentukan alur cerita, sedangkan setting dan dialog sepenuhnya diserahkan pada anak-anak. Menapak Hijau Bumi tanpa Alas Kaki rencananya akan diputar di sekolah-sekolah di Belitong untuk mengenalkan lagi permainan anak-anak yang jadi budaya Belitong sejak lama. Sebagai perkenalan, anak-anak itu memainkan sebagian permainan tersebut di festival ini.

Yang tak dapat dimungkiri dari beragamnya budaya laut adalah dikenal dan diakuinya unsur-unsur magis dalam keseharian masyarakat yang kemudian dijadikan atraksi seni, seperti Antu Bubu. Antu Bubu adalah permainan menggunakan ilmu hitam dengan peralatan bubu yang diisi roh halus.

Bubu adalah alat penangkap ikan, dibuat dari bilah bambu yang disatukan dengan anyaman tali hingga berbentuk silinder berdiameter 30 sentimeter. Panjang bubu beragam, ada yang 50 sentimeter, ada pula yang hingga 2 meter.

Untuk permainan Antu Bubu, bubu dipasangi “kepala” dari batok kelapa, lantas diselimuti kain kafan, baru kemudian ujung atas kafan diikat. Seorang pawang membaca mantera sambil menaburkan kemenyan ke atas pedupaan, mengasapkannya ke sekeliling bubu untuk meminta roh masuk ke dalam bubu. Begitu pawang memberi isyarat permainan dapat dimulai, lawan yang sudah siap dengan bertelanjang dada/ bersinglet mulai melawan bubu yang sudah berpenghuni ini.


Antu Bubu dimainkan di hari kedua festival (2/7), tepat malam Jumat, di pasir pantai Tanjongpendam. Di tengah lingkaran penonton, seorang laki-laki bergelut dengan bubu. Berguling-guling, kadang dia seperti dibanting, ada kalanya laki-laki ini sanggup berdiri, tak lama, terjatuh lagi, berguling lagi. Penonton senyap.

Pemain pertama kalah setelah permainan berjalan 5 menit. Dia kerasukan, badannya mengejang, dan dibawa ke pinggir lapangan untuk disadarkan. Pemain kedua dinyatakan kalah akibat kelelahan setelah lebih dari 10 menit bubu tak juga dapat ditegakkan dan jalinan bubu koyak. Bisa menegakkan bubu adalah tanda pemain menang, dan hantu bubu dapat dikalahkan.

Pak Geridi, 56 tahun, adalah pawang Antu Bubu. Ilmu yang berasal dari kakeknya lantas diturunkan ke ayahnya, dan sekarang dialah satu-satunya di Belitong, bahkan mungkin di dunia, yang menguasai ilmu Antu Bubu. Ilmu ini sekarang sedang dia ajarkan ke puteranya, tak dibagi ke orang lain.

Cerita Pak Geridi tentang asal muasal permainan ini, di tahun 1970, seseorang meletakkan bubu di sungai. Setelah sepekan, dia datang lagi untuk menengok berapa ikan yang berhasil masuk perangkap bubu. Sampai di sungai, laki-laki ini mati tanpa sebab, dan rohnya jadi penghuni bubu, karena itu disebut antu bubu (hantu bubu). Mulai tahun 1971, kakeknya menjadikan Antu Bubu sebuah tontonan.

Karena menggunakan ilmu hitam, beragam syarat harus dipenuhi untuk memainkan Antu Bubu. Untuk menyebut beberapa, Pak Geridi harus berpuasa mutih selama 21 hari, bambu untuk bubu hanya boleh diambil dari bambu yang terdampar di pantai dengan posisi tidak sejajar dengan garis pantai, dan harus menggunakan kafan bekas alas jenazah. “Kalau pakai kafan baru, masih di rumah saja, belum dibawa ke tempat pertunjukan, dia sudah bergerak-gerak,” kata Pak Geridi, usai permainan. Dia sudah membawa Antu Bubu ke kota-kota di Sumatera dan Jawa, mengenalkannya sebagai permainan khas Belitong. Silvia Galikano

Sunday, 27 May 2012

Sunset Pantai Arung Dalam, Koba, Bangka Tengah


Pantai Arung dalam yang terletak di kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah,adalah salah satu aset wisata di Bangka Belitung. Ombak yang tenang menjadi pemandangan yang dapat menghibur para pengunjung yang datang. Pantai ini sangat mudah dijangkau, yaitu berada tepat di tepi jalan memasuki pintu kota Koba. Selain tempatnya yang mudah dicapai, pengunjung dapat menikmati indahnya sunset di pantai ini, ditambah lagi dengan pasir putih dan ombak yang tenang menjadikan pantai ini sebagai tempat wisata yang favorit untuk masyarakat sekitar dan luar Koba.

Kue Rintak, Wisata Kuliner Bangka Belitung

Kue Rentak atau lebih dikenal dengan nama Kue Sagu adalah penganan khas Kota Pangkalpinang yang banyak dijumpai di toko-toko makanan daerah di Kota Pangkalpinang. Terbuat dari sagu, gula dan sebagainya memang klop disajikan dengan secangkir kopi atau susu. Kue Rentak tidak hanya disukai orang tua namun anak-anak dan remaja. Pada saat lebaran, Kue Rentak merupakan kue yang selalu ada di setiap rumah masyarakat dan selalu habis terakhir pada saat lebaran. Kue ini mudah sekali dibuat sehingga hampir semua masyarakat Kota Pangkalpinang mampu membuatnya.

Kemplang Oleh-Oleh Khas Bangka Belitung

kemplang (visitbangkabelitung.com)
Kemplang adalah snack ringan yang terbuat dari ikan (tenggiri atau ikan lainnya) atau cumi dan sagu. Kemplang banyak dijumpai di toko-toko makanan khas Kota Pangkalpinang. Bentuknya bermacam-macam, ada bulat, segi empat dan lain-lain sesuai keinginan. Kemplang dibuat beberapa jenis, ada yang dipanggang/dibakar, digoreng dengan minyak, digoreng dengan pasir dan sebagainya. Wisatawan bisa langsung menikmati dan juga belajar membuatnya, karena kemplang banyak diproduksi dirumah-rumah masyarakat (home industri).

Kemplang ini adalah oleh-oleh khs dari Bangka Belitung yang selalu dibawa kemanapun, para mahasiswa yang hendak bersekolah diluar Babel selalu menyempatkan untuk membawa panganan ini. selain mudah dibawa, kemplang memiliki rasa yang sangat enak, cocok disantap sebagai lauk makan nasi. selain kemplang tenggiri, ada juga kemplang sotong, dan udang. di setiap acara besar seperti idul fitri, panganan ini seperti wajib ada di setiap rumah.

Saturday, 26 May 2012

Pantai Unik Pasir Kuning di Tempilang, Bangka Barat

pasir kuning, pantai tempilang
Tempilang, adalah sebuah kota tersendiri dibanding sebuah desa. Terpencil ia jauh dari lalu lintas jalan provinsi. Dalam artian tidak dilalui jalur Pangkalpinang ke Mentok atau dari Sungailiat ke Mentok. Namun itu tidak membuat daerah ini terpencil. Ia malah menjadi sebuah kota tersendiri.

Sebuah daerah yang berkembang. Puluhan bangunan bertingkat berdiri, meskipun itu untuk sarang Walet. Namun kombinasi perkebunan, nelayan dan tambang timah inkonvensional memberikan kemajuan berarti bagi daerah ini. Mini market dan bank berdiri.

Daerah Tempilang merupakan satu-satunya daerah di Bangka Barat provinsi Bangka Belitung yang memiliki keunikan, yakni pantainya berpasir kuning. Pantai ini terletak di Desa Tempilang Kabupaten Bangka Barat kurang lebih 70 KM dari Kota Pangkalpinang. Pasirnya yang berwarna kuning keemasan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke pantai ini.

Dengan pemandangan bebatuan yang terletak disudut pantai, kita dapat menikmati panorama alam yang indah. Yang menarik dari tempat ini adalah ada tradisi unik masyarakat pantai tersebut, setiap menjelang bulan Ramadhan. Pantai Pasir Kuning banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri untuk menyaksikan ritual adat Pesta Rakyat Perang Ketupat.

Jarak dari ibukota Kabupaten Bangka Barat (Mentok) ke lokasi sekitar 36 km. Pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena kendaraan umum yang menuju desa dan lokasi upacara sangat jarang. Pengunjung juga harus berhati-hati karena banyak sekali jalan berlobang dengan debu-debu yang beterbangan di pinggir jalan jika cuaca panas. Oleh karena jalan yang kurang baik, akses ke lokasi membutuhkan waktu tempuh sekitar 25 menit. Di desa dan sekitar pantai ini, pengunjung juga bisa dengan mudah menemukan penginapan, restoran, dan rumah makan.

Perang Ketupat merupakan salah satu ritual upacara masyarakat Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat. Upacara ini dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di daratan. Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari roh-roh jahat. Oleh karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan tradisi ini dimulai. Namun, berdasarkan cerita rakyat, tradisi ini sudah ada ketika Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Ada juga yang menyatakan, kegiatan ini telah dilaksanakan sejak zaman penjajahan Portugis. Yang jelas upacara ini terus digelar secara turun-temurun hingga kini.

Kecantikan Pantai Rambak, Sungailiat

Pantai Rambak terletak di deretan pantai-pantai arah timur Sungailiat. Ada sejumlah pantai dilokasi ini antara lain, Pantai Tanjung Pesona, Teluk Uber, dan Tikus. Pantai Rambak semacam alternatif tujuan wisata lokal. Pantainya luas dan berpasir putih. Bebatuan agak sedikit ditemui di sepanjangnya.

Penduduk lokal biasa sebut pantai Haji Aziz. Letaknya memang dekat dengan kota Sungailiat. Memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dari kota. Penduduk dapat mencapainya dengan kendaraan roda dua atau mobil. Jalan tanah merah telah tersedia.

Ketika berkunjung bawalah air minum dan makanan. Sebab warung yang tersedia cuma satu atau dua. Pantai ini cukup landai jadi sangat pas untuk berenang dan bermain olahraga pasir.

Yang menjadi kekurangannya adalah kurang rimbunnya tanaman atau pepohonan di sekitar pantai. Akibatnya ketika cuaca cerah, panas matahari begitu terasa. Namun, sebagai alternatif, anda patut mencoba berkunjung apalagi bagi yang belum pernah ke pantai ini.





Friday, 25 May 2012

Bangunan Kuno Kota Mentok (Wisata Sejarah Bangka)

Bangunan Kuno Mentok
Tidak berlebihan rasanya jika menyebut Muntok sebagai kota sejarah. Muntok kota Timah yang menjadi tempat tujuan wisata kali ini memang dipenuhi dengan bangunan tua yang masih tegak berdiri.

Jika dilihat secara umum, membongkar kota Muntok yang terpilah-belah menjadi tiga kawasan kompleks yaitu Klaster China, Melayu dan Eropa merupakan kepuasan tersendiri karena itu berarti menapaki tempat yang mengukir perjalanan sejarah kota Muntok.

Klaster Kampung China
Klaster China selain berada ditengah kota, juga terletak di antara Kampung Tanjung dan Kampung teluk Rubia. Bangunan Kuno Kota Muntok di kawasan klaster China town ini terlihat dengan adanya keberadaan rumah, toko dan kios di pasar yang berarsitektur China serta vihara.

Klaster Kampung Melayu
Klaster Melayu masih terbelah lagi jadi tiga subklaster yaitu, Kampung Tanjung disebelah Barat, Kampung Teluk Rubia dibagian Timur serta kampung Ulu dibagian sebelah Utara. Dari ketiga subklaster Melayu, pemukiman tertua kota Muntok itu terletak di Kampung Tanjung. Anda bisa melihat jajaran bangunan tua berwujud rumah panggung khas perumahan suku melayu di sana.

Klaster Kampung Eropa
Klaster Eropa berada di bagian sebelah Utara kedua klaster tersebut. Terletak di pusat kota serta jauh dari pantai. Klaster Eropa berada di bentang lahan paling tinggi diantara klaster lainnya. Antara klaster China dengan subklaster Kampung Tanjung dipisahkan oleh Sungai Muntok. Namun pada awal abad 20, aliran sungai tersebut dialihkan ke bagian tengah klaster China oleh pemerintah Hindia Belanda. Bangunan Kuno dikawasan kampung Eropa ini bearsitektur kolonial. Salah satu sisa bangunan tua kota Muntok adalah bekas kantor pusat perusahaan Timah yaitu Gedung BTW Kawilasi.


Selain Bangunan Kuno Kota Muntok yang terlihat dari tiga kawasan klaster tersebut, masih ada Patung Soekarno Hatta. Ya,..monumen proklamator Bung Karno dan Bung Hatta yang diresmikan oleh Wakil Presiden Megawati Soekarno Putri pada tahun 2000 ini, Monumen yang berbentuk batu lonjong diatasnya terdapat seekor burung Garuda yang berkalung perisai lima sila sedang mengepakkan sayap. Monumen ini dibuat dari batu granit dengan tinggi 7 meter. Patung Bung Karno dan Bung Hatta yang berdiri gagah didepan batu lonjong dan garuda itu sedang menunjuk ke laut Sunda selat Bangka.

Monumen ini melengkapi nilai sejarah Bangunan Kuno Kota Muntok serta memperkaya keberadaan kota Muntok sebagai pusat perjuangan.

Thursday, 24 May 2012

Makna Yang Tersirat Dari Kata "Dak Kawa Nyusah" (Budaya Bangka)

Bangka memang terkenal dengan filosofi "Dak Kawa Nyusah" yang dalam bahasa Indonesia artinya tidak mau bersusah payah. Kata-kata ini sangat identik dengan masyarakat Bangka itu sendiri, selain dag kawa nyusah ada lagi kata-kata lain seperti "sape negah" "dag pacel akek" "along ko......". kata di atas memiliki artian yang hampir sama dalam makna dengan kalimat Dag kawa Nyusah. kalimat-kalimat ini menurut masyarakat setempat adalah sikap yang tidak mau ambil pusing atas sesuatu, Misalnya masyarakat di Bangka diajak berdemo tentang kenaikan harga BBM, selalu terbersit kata Dag Kawa Nyusah ko, mereka lebih baik memilih harga naik dibandingkan untuk berdemo berkoar-koar. Banyak orang mengartikan ini sebagai ungkapan yang menunjukkan masyarakat Bangka itu adalah orang yang pemalas dan tidak mau bekrja keras. tapi sebenarnya ada makna yang terselip di dalam kalimat "Dag Kawa Nyusah" tersebut. simak pemaparan di bawah ini.

Mengenai bahasa, Bangka sejak kini boleh dikatan belum menemukan bahasa daerah pakem. Dalam artian resmi sejak dulu dipergunakan bercakap. Orang Sungailiat dan Pangkalpinang pun, kadang berbeda dalam pengucapan kata. Perbedaan ini meski pada huruf vocal semacam. Untuk kata kamu dipergunakan kata, Pok, Ka, Ke, Ki di masing daerah. Belum lagi ungkapan daerah. ini baru tatar lingusitik nya.

Mengapa bahasa Bangka bervariasi adalah kita sejarahnya memang tidak mengenal bahasa persatuan. Menurut sejarah Pulau Bangka, Penduduk Bangka itu adalah penduduk pendatang yang berbaur dan berkeluarga disana, sejarah yang mengatakan Bangka itu penduduk aslinya bangsa Melayu masih diperdebatkan hingga saat ini.  Sejarah ini terkait pada sebuah sistem. Mengapa Jawa punya bahasa Jawa, yang bisa dimengerti dari timur ke tengah itu. Mereka punya sistem. Berikut adat dan istiadat yang serupa di berbagai tempat. Secara sosio culture Jawa punya raja. Kerajaan berikut sistem nya memprenetrasi aspek kehidupan masyarakat yang berdiam. Itu yang bikin sama dengan Belitong. Belitong memiliki raja yang membuat mereka terstruktur, mulai dari bahasanya. Bahasa mereka sama dari timur dan barat. Nah yang ini dari tinjau sosio budaya.

Kata "Dag Kawa Nyusah" sebenarnya menunjukkan bahwa Bangka adalah orang merdeka. Tidak terikat oleh suatu sistem kerajaan yang mengikat. Bisa dikatakan Bangka "Orang yang Tidak Beradat" kata Bang Hendra. Tidak Beradat ini Bukan diartikan kurang ajar atau bernada negative. Tapi untuk mengartikan bahwa sejak dahulu kala, Bangka tak punya Kerajaan. Tak ada sistem nilai yang diwariskan turun temurun. Pribadi Bangka adalah pribadi yang merdeka, tidak partisipan, mandiri, keras.

“Nyo Nek kate Nyo lah,” kata urang Belinyu. atau “ Dak sape negah,”. Yang terkenal itu, “dak kawah nyusah,”. Untuk menjelaskan mengapa kita adalah person yang bebas. Namun dari ini, Bangka tak mengenal kultur individu. Tak ada strata atas dan bawah. tak ada duduk dilantai dan di kursi. Tak ada kata, Sungkem. Kita tak terbisaa dengan peran kyai sebagai penarik massa. Sehingga sering masyarakat menyebutkan kata-kata Dag Kawa Nyusah mengartikan Bahwa masyarakat bangka adalah masyarakat yang bebas dan tidak terikat oleh suatu tatanan yang mengikat seperti kerajaan. dengan keberagaman budaya ini dapat menjadi suatu identitas yang unik dan mungkin tidak dimiliki daerah lainnya.

Perigi Pekasem Tuatunu, Pangkalpinang (Wisata Sejarah Bangka)

Perigi/Sumur Pekasem

Sumur atau perigi Pekasem terletak di Kelurahan Tuatunu Indah Kecamatan Gerunggang. Perigi atau sumur ini dijadikan tempat untuk membuang mayat orang-orang yang terbunuh TKR (Tentara Keamanan Rakyat), karena dianggap musuh atau sebagai mata-mata Belanda atau sekutu. Tuatunu sendiri pada waktu itu merupakan kampung yang dijadikan salah satu markas TKR yang terletak di Hutan Titi Rengas, Kampung Cekong Abang Air Duren dan Hutan Arang, Air Kelapa Tujuh, terletak antara bukit, bulur air dan Air Kelapa Tujuh Tuatunu. TKR sendiri dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Maklumat tanggal 5 Oktober 1945 dikarenakan situasi Nagara Kesatuan Republik Indonesia yang baru terbentuk dalam keadaan genting dan berbahaya karena kedatangan tentara Belanda (NICA) karena ingin kembali berkuasa di Indonesia.

Tuesday, 22 May 2012

Surga bawah laut Pulau Buku Limau, Belitung Timur

terumbu karang pulau batu limau
Pulau Buku Limau, Pulau ini tempat yang sangat sempurna bagi para wisatawan yang ingin menikmati kegiatan rekreasi bagi peminat wisata bahari seperti berenang, selam, memancing dan berjemur. Pantai ini berpasir putih dengan terumbu karang yang indah, selain itu wisatawan juga dapat meyaksikan proses pembuatan ikan asin.

Kejernihan air laut di Pulau ini membuat para penggemar snorklin bisa meliaht langsung peandangan Terumbu Karang yang hidup di pantai yang terletak di Desa Buku Limau Kecamatan Manggar memiliki titik koordinat Utara 2°48.028 - ' Timur 108°25.333 Jenis Terubu Karang yang banyak hidup didaerah ini adalah Cinulana sp dan Porites Lobata.






Underwater Pulau Siadong, Belitung Timur

terumbu karang pulau siadong
Pulau Siadong terletak antara Pulau Buku Limau dan Pulau Memperak di gugusan kepulauan Belitung di Kab. Belitung Timur. Vegetasi pada pulau ini terbagi menjadi 2 kelompok besar. Pada bagian luar yang mengelilingi pulau merupakan vegetasi yang didominasi dari jenis mangrove. Sedangkan bagian dalam bervariasi dan umumnya merupakan vegetasi pesisir seperti kelapa (cocos nucifera), Ketapang (Terminalia catappa) dan beberapa jenis pohon lainnya.

Di area terluar pulau berbatasan dengan mangrove dan perairan terdapat terumbu karang sekaligus sebagai penanda untuk masuk ke dalam area pulau. Terumbu karang yang indah dan bervariatif sebagai habitat berbagai jenis ikan.

Keistimewaan dari Pulau Siadong adalah tempat berlindung bagi para nelayan jika cuaca kurang bagus. Hal ini disebabkan karena tata letak tempatnya yang terlindung diantara beberapa pulau. Sehingga para nelayan mengidentikkan bahwa Pulau Siadong adalah Hotelnya para nelayan. Tak kalah dengan pulau Memperak, pulau ini juga menjadi habitat penyu dan sisik.

Lempah daret Makanan Khas Bangka Yang Buat Ketagihan

lempah daret alar keladi
Lempah daret atau lempah darat merupakan masakan khas dari Pulau Bangka. Bahan pembuatan makanan ini terdiri dari pucuk idat, talas (di Bangka disebut keladi), belacan (terasi), bawang merah, garam, dan cabe rawit (cabe kecit). Lempah daret paling lezat bila dimakan bersama nasi dan ikan asin. Lempah daret ini biasanya dimasak dengan alar keladi dan pucuk idat. saya membuat tulisan ini sambil ngiler ngebayangi lempah daret itu. rasa udang yang dihasilkan dari terasi, tentunya terasi bangka sangat terngiang-ngiang dipikiran.

teringat sama lagunya "YO MIYAK" yang penggalan liriknya berbunyi :

Ambik belacan, garem cabik kecil,
alar keladi
kite ngelempah kite ngelempah lempah daret
Pucuklah idat alar keladi hai Lempah daret..

Yo miyak kite makan lauk lempah daret,
Lempah daret, Lempah daret Bangka asli..
Sungguhlah nyamen, sungguhlah nyamen makan di ume..

sebenarnya bumbu utama lempah daret seperti yang ada dilirik lagu diatas, belacan (terasi), garam, cabe kecil. lempah daret juga biasa disajikan dengan menambahkan dengan udang kering, sehingga rasanya benar-benar meresap dan buat kita ingin makan lagi. enak disajikan saat keadaan panas dengan ikan asin dan berkumpul bareng-bareng keluarga.


Monday, 21 May 2012

Foto Manggar, Belitung Timur Tempo Dulu
















Ngelakar Care Pantun Belitong (Kaskuser Regional Babel)

Bikin Ngakak liat anak-anak Belitung Bepantun di Kaskus... hahaha
semoga bermanfaat dan dapat menghibur

selamat pagi penggemar
lamak kamek dak bredar
kamek disinek ukan gag nak nyelimbar
kamek disinek cuman nak ngelakar



nyarik kayu ke teberong
minjam parang kan bang sadong
mun mikak benar2 urang belitong
snek kutantang pantun belitong

Jalan2 kepasar gantong
singgah suat nyarik kedundong
kamek mimang urang belitong
tp men de ajak bepantun rada dak nyambong

meli satam sekalien nnton madun
ngeliat urg bejoged la ky' ayam besabong
amun ikam dak nymbong bepantun
cube bagi cendol,pasti nyambong

buah nangka buah jambu bol"
idang de makan sambil begalor
amun mikak Nak cendol
cube de tinggak de dalam kulorr

pegi kebangek lewat jalan tikus
dumpet jatuk ilang semue e
la lamak kamek dak mukak kaskus
la dberik cndol rupe e,,

Singgah suat di Bebute
Nyari gangan ikan parik
Ngeri amat liat cendol e
Kuang be kamek diberik

pegi ke butun meli tapai
dak gilak ngulai rumah sulai
mun bepantun q dak gila pandai
mun bebulak q lihai

suhu panas di siang hari
buka baju karena kepanasan
saya ini masihlah nubi
duduk manis mohon izinkan 

panas cuaca di hari siang
kalau malam dingin sekali
saya tamu dari seberang
mohon izin bersilaturahmi

la lamak dak nempo ume
sekali nempo la banyak kerupit
ape kabar sedare semue
salam kenal kan kamek ne urang kampit

tempat nasi name e dandang
gede sikit disebut baskom
kame ucapen selamat datang
semoga betah diam di belitong

kalau lapar nasi dimakan
nasi dimakan lauknya ikan
terima kasih saya haturkankan
atas begitu hangatnya penyambutan

jikalau haus, airlah diminum
agar dahaga segera pergi
saya ucapkan assalamu'alaikum
untuk semua selamat pagi

masih haus jadinya minum
ambil sendiri air di dalam
kami juga ucapkan assalamualaikum
namun sekarang sudahla malam

jalan jalan keliling gantong
baling ke kampit jalan tanjong
biar ukan same kampong
nok penting e same sayang belitong

buah pepaya buah kedondong
dibikin rujak enak sekali
saya juga sayang belitong
rasa seperti kampung sendiri

banyak bijinya buah pepaya
bijinya satu pastilah mangga
jikalau bole ane bertanya
memangnya agan aslinya mana

enak rasa si mangga udang
mangga udang temannya salak
saya tamu darilah sebarang
lebih tepatnya kota Pontianak

kerja malam membuat anak
kerja pagi membuat mie
jauh nian saudara dari pontianak
semoga betah di tanah kami

makan mie banyakan kuah
pake telur menambah gizi
kalau aku tidaklah betah
sedari dulu aku tlah pergi

ubur ubur menabrak kapal selam
pamit undur selamat malam 

ke pasar beli papaya
habis itu beli nasi bungkus
kalo mau nambah pantunnya
ya monggo buka di kaskus

Tertelan Tulang Ikan dan Cara Mengobatinya Adat Bangka Belitung

Sebagai Negara bahari yang dikelilingi oleh lautan, Indonesia memiliki banyak sumber makanan laut terutama berbagai jenis ikan. Dengan kandungan gizi yang tinggi, ikan merupakan salah satu makanan utama dalam makanan sehat lima sempurna.

Siapa yang tidak pernah makan ikan ?
Tentunya mustahil bin mustahal bila ada orang Indonesia yang tidak mengenal ataupun belum pernah makan ikan sama sekali.

Namun saat anda makan ikan, tentunya sering terjadi berbagai kasus “tertelan” tulang ikan. Hal ini menyebabkan tenggorokan kita terasa sangat sakit bila tulang ikan tersebut nyangkut di tenggorokan.

Dari berbagai catatan yang ada di Bangka Belitung,  ditemukan solusi untuk mengobati sakit tenggorokan akibat tulang ikan tersebut.

Di Bangka Belitung, bila ada orang yang mengalami hal serupa jarang sekali di bawa ke rumah sakit. Cukup dengan minum air putih, ternyata sakit tersebut dapat hilang bahkan sembuh dengan cepat.

Setelah ditelusuri, ada keunikan yang terdapat pada cara pengobatannya. Tanpa jampi-jampi ataupun do’a anda pun bisa melakukannya.

Cara Pertama :
  • Bila anda menemukan kail atau pancing yang terdapat dalam perut ikan saat anda memasak ikan, ambillah kail atau pancing tersebut. Cuci dan simpanlah baik-baik.
  • Kail atau pancing itu akan sangat berguna ketika anda mengalami sakit tenggorokan akibat tertelan tulang ikan.
  • Cukup dengan merendam kail atau pancing itu kedalam segelas air dalam beberapa saat dan kemudian air itu diminum, akan mengurangi bahkan mengobati sakit tersebut.
  • Cara yang unik dan ajaib ini, kerap dijadikan panduan utama mengobati sakit tenggorokan akibat tertelan tulang ikan.

Menarik bukan ?
Jadi tidak ada salahnya bila anda menemukan kail atau pancing yang tersimpan dalam perut ikan, anda simpan baik-baik. Mungkin suatu saat anda memerlukannya.

Masih tidak percaya ?
Anda dapat mencobanya, yang jelas anda jangan SENGAJA menelan tulang ikan untuk membuktikannya. Karena pengobatan dengan cara tersebut katanya akan berlaku pada saat darurat alias EMERGENCY dan tidak disengaja.

Cara Kedua :
  • Carilah orang yang waktu lahir sunsang (lahir dalam keadaan terbalik). Kejadian seperti ini walaupun jarang kadang terjadi disekitar kita.
  • Untuk kasus sakit tenggorokan karena tulang ikan, pengobatan oleh orang yang lahir sungsang justru lebih mudah.
  • Orang yang lahir sungsang tersebut cukup mencelupkan jarinya kedalam segelas air putih (tentunya jari itu dalam keadaan bersih). Kemudian air putih tersebut diminum oleh orang yang sakit tersebut, secara ajaib akan langsung sembuh dari sakitnya.

Baik cara pertama dan kedua sudah pernah dipraktekkan dan diakui kebenarannya di Bangka Belitung. Namun ada juga yang menggunakan do’a dan literatur melayu lainnya. Dilain kesempatan akan di hadirkan berbagai literatur lain dari Bangka Belitung.

Semoga dapat menambah dan memperkaya khasanah pengetahuan anda .
Salam hangat selalu .

Desa Wisata Nelayan Kurau dan Pulau Ketawai Bangka Tengah

pulau ketawai
Desa wisata nelayan Kurau terletak di Desa Kurau, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah terletak ± 29 km dari Kota Koba. Desa kurau yang di kepalai oleh 2 kepala desa yaitu Kurau Barat dan Kurau Timur. Jumlah penduduknya 2777 jiwa. Sekitar 70% kegiatan penduduk Desa Kurau sehari-hari di perkampungan nelayan dengan suasana kesederhanaan perkampungannya adalah sebagai pencari ikan tradisional laut.

Komplek pemukiman nelayan di Desa Kurau Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah merupakan salah satu wisata alam di yang sangat dipertahankan kelestariannya oleh penduduk Desa Kurau dengan cara tidak pernah merusaknya, karena mereka merasa dikemudian hari Desa wisata ini bisa menjadi aset yang sangat berharga.

Setiap hari Jum’at dan Sabtu desa Kurau banyak dikunjungi wisatawan yang datang, mulai hanya untuk sekedar menikmati indahnya pemandangan yang ada, membeli hasil laut (ikan, udang dll), berperahu menelusuri sungai, serta yang paling populer adalah mengunjungi Pulau Ketawai.

Pulau Ketawai yang terletak di desa Kurau Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah sangat menarik dan menawan hati. Pulau kecil ini dikelilingi laut biru dan pasir putih yang dapat membuat mata kita terpesona.

ketawai island
Pulau ini sangat jelas terlihat dari Desa Kurau kecamatan Koba, perjalanan kepulau ini memakan waktu kurang lebih 1 jam. Pulau Ketawai juga didiami penduduk setempat yang sedikit. Hal ini ditunjukkan dengan adanya hanya beberapa rumah berdiri di pulau kecil tersebut. Pulau Ketawai dengan pantai yang langsung menjorok kelaut, membuat kapal atau speed boat dapat merapatkan langsung kepulau ini, sangat cocok untuk melakukan wisata pemancingan.

Untuk dapat masuk ke Pulau yang kaya akan ikan tersebut tidak dipungut biaya apapun Wisatawan yang datang ke pulau itu biasanya menyewa perahu nelayan karena tidak ada tempat khusus yang menyediakan perahu. Biasanya para wisatawan yang mencari ikan menyewa perahu penduduk dengan biaya sewa semalam 500ribu, dan hasil tangkapannya dapat dibawa pulang.

Sayangnya, prospek yang besar dalam pariwisata itu belum diikuti masuknya investasi dari para pengusaha pariwisata. Padahal Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah sudah membuka pintu untuk masuknya para investor melalui pemberian fasilitas informasi yang terbuka serta proses perijinan yang mudah dan efisien.

Mudah-mudahan kedepan dapat dicapai pengembangan pariwisata yang baik di Desa Kurau sebagai tempat wisata Bahari menuju Kabupaten Bangka Tengah Fajar Gemilang seperti Motto Daerahnya untuk lautnya yang menarik.

Tradisi Buang Jong di Belitung

Buang Jong merupakan salah satu upacara tradisional yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Suku Sawang adalah suku pelaut yang dulunya, selama ratusan tahun, menetap di lautan. Baru pada tahun 1985 suku Sawang menetap di daratan, dan hanya melaut jika ingin mencari hasil laut.
Buang Jong dapat berarti membuang atau melepaskan perahu kecil (Jongyang di dalamnya berisi sesajian dan ancak (replika kerangka rumah-rumahan yang melambangkan tempat tinggal). Tradisi Buang Jong biasanya dilakukan menjelang angin musim barat berhembus, yakni antara bulan Agustus-November.

Pada bulan-bulan tersebut, angin dan ombak laut sangat ganas dan mengerikan. Gejala alam ini seakan mengingatkan masyarakat suku Sawang bahwa sudah waktunya untuk mengadakan persembahan kepada penguasa laut melalui upacara Buang Jong. Upacara ini sendiri bertujuan untuk memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang mungkin dapat menimpa mereka selama mengarungi lautan untuk menangkap ikan.
Keseluruhan proses ritual Buang Jong dapat memakan waktu hingga dua hari dua malam. Upacara ini sendiri diakhiri dengan melarung miniatur kapal bersama berbagai macam sesaji ke laut. Pascapelarungan, masyarakat suku Sawang dilarang untuk mengarungi lautan hingga tiga hari ke depan.

Keistimewaan
Buang Jong dimulai dengan menggelar Berasik, yakni prosesi menghubungi atau mengundang mahkluk halus melalui pembacaan doa, yang dipimpin oleh pemuka adat suku Sawang. Pada saat prosesi Berasik berlangsung, akan tampak gejala perubahan alam, seperti angin yang bertiup kencang ataupun gelombang laut yang tiba-tiba begitu deras.
Usai ritual Berasik, upacara Buang Jong dilanjutkan dengan Tarian Ancak yang dilakukan di hutan. Pada tarian ini, seorang pemuda akan menggoyang-goyangkan replika kerangka rumah yang telah dihiasi dengan daun kelapa, ke empat arah mata angin. Tarian yang diiringi dengan suara gendang berpadu gong ini, dimaksudkan untuk mengundang para roh halus, terutama roh para penguasa lautan, untuk ikut bergabung dalam ritual Buang Jong. Tarian Ancak berakhir ketika si penari kesurupan dan memanjat tiang tinggi yang disebut jitun.
Selain Tarian Ancak, Tari Sambang Tali juga dijadikan salah satu rangkaian acara dalam upacaraBuang Jong. Tarian yang dimainkan oleh sekelompok pria ini, diambil dari nama burung yang biasa menunjukkan lokasi tempat banyaknya ikan buruan bagi para nelayan di laut. Ketika nelayan hilang arah, burung ini pula yang menunjukkan jalan pulang menuju daratan.
Upacara Buang Jong kemudian dilanjutkan dengan ritual Numbak Duyung, yakni mengikatkan tali pada sebuah pangkal tombak, seraya dibacakan mantra. Mata tombak yang sudah dimantrai ini sangat tajam, hingga konon dapat digunakan untuk membunuh ikan duyung. Karena itu pula ritual ini disebut dengan Numbak Duyung. Ritual kemudian dilanjutkan dengan memancing ikan di laut. Konon, jika ikan yang didapat banyak, maka orang yang mendapat ikan tersebut tidak diperbolehkan untuk mencuci tangan di laut.
Setelah itu, Buang Jong dilanjutkan dengan acara jual-beli jong. Pada acara ini, orang darat (penduduk sekitar perkampungan suku Sawang) turut dilibatkan. Karena, jual beli di sini tidak dilakukan dengan menggunakan uang, namun lebih kepada pertukaran barang antara orang darat dengan orang laut. Pada acara ini, dapat terlihat bagaimana orang darat dan orang laut saling mendukung dan menjalin kerukunan. Dengan perantara dukun, orang darat meminta agar orang laut mendapat banyak rejeki, sementara orang laut meminta agar tidak dimusuhi saat berada di darat. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan Beluncong, yakni menyanyikan lagu-lagu khas suku Sawang dengan bantuan alat musik sederhana. Usai Beluncong, acara disambung dengan Nyalui, yaitu mengenang arwah orang-orang yang sudah meninggal melalui nyanyian.

Lokasi
Upacara Buang Jong biasanya diadakan di kawasan pantaiyang dekat dengan perkampungan suku Sawang. Salah satunya di Tanjung Pendam, Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, Indonesia.

Akses
Bagi pengunjung yang berasal dari luar Kabupaten Belitung, sangatlah mudah untuk menuju ke Tanjung Pendam, salah satu lokasi diadakannya Upacara Buang Jong. Karena, Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin berada di Tanjung Pandan. Dari bandara, pengunjung dapat menyewa motor ataupun mobil yang banyak ditawarkan di sekitar bandara.

Harga Tiket
Pengunjung yang ingin melihat langsung upacara Buang Jong, tidak dikenakan biaya apapun.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Pengunjung yang ingin melihat keseluruhan rangkaian Upacara Buang Jong tidak perlu khawatir untuk mencari penginapan. Di sekitar Kecamatan Tanjung Pandan telah berdiri beberapa hotel.Selain itu, pengunjung juga akan dengan mudah menemui beberapa bank pemerintah dan mesinATM, jika kehabisan uang selama di Tanjung Pandan. Untuk kemudahan komunikasi, beberapaoperator selular nasional telah membuka jaringan di sana.
Catatan : Tradisi ini juga dilakukan di wilayah Kabupaten Bangka Selatan, oleh nelayan asal belitung (suku sawang) yang menetap di pesisir Pulau Bangka bagian selatan

Keindahan Pantai Batu Beriga, Bangka Tengah

pantai batu beriga
Keindahan Pantai Batu Beriga Bangka Tengah Dengan Pasir Putih Dan Bebatuan. Pantai Batu Beriga adalah satu dari sekian tujuan wisata bahari di Kabupaten Bangka Tengah Tepatnya Kecamatan Lubuk Besar Didiujung Pulau Bangka berbatasan Langsung dengan Pulau Lepar pongok . Terletak di desa Batu Beriga Pantai ini memiliki ciri khas wisata kuliner yang beragam dengan ciri khas makanan laut “Sea Food” Udang, cumi-cumi, kerang-kerangan, Ikan dan masih banyak lagi dapat anda nikmati dengan harga yang terjangkau, karena anda dapat menikmatinya dan membeli secara langsung dengan nelayan.

Pantai ini memiliki keindahan pantai yang masih asri dan alami, belum ada bangunan permanen yang menghiasi kawasan pantai ini termasuk hotel dan penginapan. Kawasan pesisir pantai Tanjung Berikat ini mempunyai pasir pantai yang putih dan bersih dengan airnya yang jernih.Air laut dikawasan ini cukup dalam dibagian pesisirnya. Dengan dipenuhi oleh bebatuan yang indah dan menawan, sehingga dikawasan pantai tersebut sangat cocok untuk menyalurkan hobi memancing kita.












Sunday, 20 May 2012

Tradisi Perang Ketupat di Tempilang, Bangka Belitung

Gendang panjang, gendang Tempilang
Gendang disambit, kulet belulang
Tari kamei, tari Serimbang,
Tari kek nyambut, tamu yang datang

Lagu Timang Burong (Menimang Burung) pengiring tari serimbang itu dilantunkan secara lembut. Lagu itu, diiringi suara gendang dari enam penabuh serta alunan dawai (alat musik), untuk mengiringi gerak lima penari remaja yang menyambut tamu. Dengan baju dan selendang merah, kelima penari menyita perhatian ribuan pengunjung yang memadati Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tarian yang menggambarkan kegembiraan sekumpulan burung siang menyambut kehadiran seekor burung malam itu merupakan pembukaan dari rangkaian tradisi perang ketupat, khas Kecamatan Tempilang di Bangka Belitung. Tradisi tersebut menggambarkan perang terhadap makhluk-makhluk halus yang jahat, yang sering mengganggu kehidupan masyarakat.

Tradisi itu sebenarnya sudah dimulai pada malam sebelum perang ketupat dimulai. Pada malam hari sebelumnya, tiga dukun Kecamatan Tempilang, yaitu dukun darat, dukun laut, dan dukun yang paling senior, memulai upacara Penimbongan.

Upacara dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di darat. Sesaji untuk makanan makhluk halus itu diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan dari kayu menangor.

Secara bergantian, ketiga dukun itu memanggil roh-roh di Gunung Panden, yaitu Akek Sekerincing, Besi Akek Simpai, Akek Bejanggut Kawat, Datuk Segenter Alam, Putri Urai Emas, Putri Lepek Panden, serta makhluk halus yang bermukim di Gunung Mares, yaitu Sumedang Jati Suara dan Akek Kebudin.

Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari serangan roh-roh jahat. Karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.

Pada upacara Penimbongan itu digelar tari campak, tari serimbang, tari kedidi, dan tari seramo. Tari campak dilakukan dalam beberapa tahap dengan iringan pantun yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Tari ini juga biasa digelar dalam pesta pernikahan atau pesta rakyat lainnya.

Tari kedidi lebih mirip dengan peragaan jurus-jurus silat yang diilhami gerakan lincah burung kedidi, sedangkan tari seramo merupakan tari penutup yang menggambarkan pertempuran habis-habisan antara kebenaran melawan kejahatan.

Seusai upacara Penimbongan, para dukun itu kembali mengadakan upacara Ngancak, yakni pada tengah malamnya. Upacara Ngancak dimaksudkan memberi makan kepada makhluk halus penunggu laut.

Diterangi empat batang lilin, dukun laut membuka acara itu dengan membaca mantra-mantra pemanggil makhluk halus penunggu laut, di antara bebatuan tepi Pantai Pasir Kuning, Tempilang. Nama-nama makhluk halus itu diyakini tidak boleh diberitahukan kepada masyarakat agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.

Seperti pada upacara Penimbongan, upacara Ngancak juga dilengkapi sesaji bagi makhluk halus penunggu laut. Sesaji itu dipercaya merupakan makanan kesukaan siluman buaya, yaitu buk pulot atau nasi ketan, telur rebus, dan pisang rejang.

Perang ketupat
Pagi harinya, seusai tari serimbang digelar, dukun darat dan dukun laut bersatu merapal mantra di depan wadah yang berisi 40 ketupat. Mereka juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar perayaan tersebut dilindungi, jauh dari bencana.

Di tengah membaca mantra, dukun darat tiba-tiba tak sadarkan diri (trance) dan terjatuh. Dukun laut menolongnya dengan membaca beberapa mantra, dan akhirnya dukun darat pun sadar dalam hitungan detik.

Menurut beberapa orang tua di tempat tersebut, ketika itu dukun darat sedang berhubungan dengan arwah para leluhur. Kenyataannya, setelah siuman, dukun darat menyampaikan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan (pantangan) warga selama tiga hari, antara lain melaut, bertengkar, menjuntai kaki dari sampan ke laut, menjemur pakaian di pagar, dan mencuci kelambu serta cincin di sungai atau laut.

Setelah semua ritual doa selesai, kedua dukun itu langsung menata ketupat di atas sehelai tikar pandan. Sepuluh ketupat menghadap ke sisi darat dan sepuluh lainnya ke sisi laut. Kemudian, 20 pemuda yang menjadi peserta perang ketupat juga berhadapan dalam dua kelompok, menghadap ke laut dan ke darat.

Dukun darat memberi contoh dengan melemparkan ketupat ke punggung dukun laut dan kemudian dibalas, tetapi ketupat tidak boleh dilemparkan ke arah kepala. Kemudian, dengan aba-aba peluit dari dukun laut, perang ketupat pun dimulai.

Ke-20 pemuda langsung menghambur ke tengah dan saling melemparkan ketupat ke arah lawan mereka. Semua bersemangat melemparkan ketupat sekeras-kerasnya dan berebut ketupat yang jatuh. Keadaan kacau sampai dukun laut meniup peluitnya tanda usai perang dan mereka pun berjabat tangan.

Selanjutnya, perang babak kedua dimulai. Prosesnya sama dengan yang pertama, tetapi pesertanya diganti. Perang kali ini pun tidak kalah serunya karena semua peserta melempar ketupat dengan penuh emosi.

Rangkaian upacara itu ditutup dengan upacara Nganyot Perae atau menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut. Upacara itu dimaksudkan mengantar para makhluk halus pulang agar tidak mengganggu masyarakat Tempilang.

Pergeseran budaya
Kentalnya pengaruh dukun dan dominannya aspek animisme (kepercayaan terhadap roh dan mahluk halus) dalam tradisi perang ketupat terjadi karena budaya ini merupakan warisan masyarakat asli Pulau Bangka yang belum beragama, atau sering disebut sebagai orang Lom. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan dimulainya tradisi ini. Namun, berdasarkan cerita rakyat, ketika Gunung Krakatu meletus pada tahun 1883, tradisi ini sudah ada.

Seiring dengan masuknya pengaruh Islam ke Bangka, tradisi tersebut pun mengalami beberapa perubahan cara dan pergeseran substansi. Meskipun tetap turut menonton perang ketupat, sebagian besar warga yang beragama Islam telah mengubah beberapa ritual menjadi bernuansa islami.

Perayaan yang dulunya difokuskan bagi roh-roh halus, kini sebagian ditujukan untuk mengenang arwah leluhur. Demikian pula dengan sesaji, diubah menjadi kenduri untuk dimakan bersama.