Saturday, 16 June 2012

Rumah Simpor Bedulang, Rumah Tradisional Belitung

www.radarbangka.co.id
TANJUNGPANDAN-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung memberikan rekomendasi rumah tradisional Melayu Belitung kepada rumah Tradisional Simpor Bedulang milik Isyak Meirobie yang berlokasi Jalan Lettu Mad Daud, Tanjungpandan. Pemberian rekomendasi rumah tradisional Melayu Belitung dengan nomor 556/792/disbudpar/2011, dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat yang peduli akan nilai sejarah dan budaya Belitung. Hal ini diungkapkan Natasya, Kasi Kebudayaan, Disbudpar Kabupaten Belitung “Rekomendasi yang kami berikan ini adalah sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang peduli terhadap pelestarian nilai sejarah dan budaya Belitung,” demikian yang dikatakan Natasya kemarin (13/6) kepada BE.

Mengenai bagaimana bisa pihak Disbudpar memberikan rekomendasi tersebut, Natasya mengatakan awalnya Isyak Meirobie datang ke Disbudpar untuk mohon rekomendasi rumah tradisional terhadap rumah Simpor Bedulang miliknya yang memang merupakan bangunan lama yang direnovasi, karena ke depan rumah simpor bedulang ini akan dimanfaatkan sebagai obyek wisata yang berorientasi pada pelestarian budaya Belitung. m“Namun untuk menetapkan rumah ini sebagai Cagar Budaya harus melalui kajian dari tim, dimana nantinya dinilai sejarah dari bangunan tersebut. Makanya saat ini kita baru bisa memberikan rekomendasi saja,” Ungkap Natasya.

Menurut Natasya, bangunan rumah Simpor Bedulang ini berdiri pada jaman colonial Belanda sekitar tahun 1960. Berdasarkan historisnya, rumah ini dibangun oleh pasangan Abu Zaman yang lahir pada tahun 1935 dan pasangannya bernama Kasma yang lahir lahir tahun 1936. Dahulu, rumah ini adalah rumah panggung dengan teras terbuka di depannya, dan Pada era 1970-an rumah ini mengalami beberapa penyesuaian, salah satunya adalah atap rumah yang semula terbuat dari sirap diganti dengan seng., namun untuk komponen rangka atap, papan dinding rumah dan dinding teras semuanya masih asli. “Nah pada tahun 2011, rumah ini kemudian dibeli oleh Isyak Meirobie,” ujar Natasya

Terkait bagaimana bisa rumah Simpor Bedulang mendapatkan rekomendasi sebagai rumah Tradisional Melayu Belitung, Natasya menjelaskan, di dalam “Vademukum Benda Cagar Budaya” yang diterbitkan oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2004 yang dimaksud dengan rumah tradisional yakni rumah yang bercorak khas yang dibuat oleh kelompok etnik atau duku bangsa tertentu. Dengan demikian rumah tradisional Belitung dapat diartikan sebagai rumah yang dibuat dengan gaya arsitektur khas Melayu Belitung, dimana secara umum rumah tradisional Belitung berbentuk rumah panggung. "Orang Belitung biasa menyebut rumah itu dengan sebutan ruma panggong,” jelas Natasya.

Lebih lanjut Natasya menjelaskan, Adapun gaya arsitektur tradisional Belitung dapat dikenali dari beberapa ciri, diantaranya, dibangun di atas tiang atau di atas fundamen. Berdinding papan, kulit atau kayu yang disusun vertical maupun horizontal, beratap sirap, seng atau daun nanga. Teras terbuka di depan atau tanpa teras depan. Lawang (pintu) terdapat pada satu garis lurus dari ruang depan ke belakang. Ornamen berbentuk pola hias geometris misalnya pada hek (pagar pembatas) teras depan dan lisplank dan denah atau tata ruang umumnya simetris antara bagian kiri dan kanan. “ Rumah Simpor bedulang ini masih mencerminkan ciri-ciri arsitektur rumah tradisional melayu Belitong karena dibangun di atas fundamen, dindingnya terbuat dari papan yang tersusun vertical, terdapat teras depan dengan hek ( pagar pembatas) berhias mozaik dan ornament geometris. Lisplank depan berbentuk pola hias geometris dan lawang (pintu) terdapat pada garis lurus, oleh karena itulah rumah simpor bedulang di berikan rekomendasi” Jelas Natasya. (san/rb)

sumber tulisan : www.radarbangka.co.id

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment